Dia Belum Mati

Dia Belum Mati
Sosok Penggangu (2)


__ADS_3

“Arka,” panggil Om Dion karena aku masih berdiri di luar.


“Iya, Om,” jawabku sambil bergegas masuk.


Menatap sekeliling ruang yang masih dalam perbaikan. Ruangan itu sudah dibongkar dan dijadikan area terbuka.


“Ini nanti ruang tunggu saja deh, jadi akan banyak orang seliweran. Gimana menurut kamu?” tanya Om Dion.


“Ehm, nggak masalah Om. Yang penting jangan seperti sebelumnya. Tidak digunakkan dan terkunci rapat bahkan gelap.”


Aku menoleh ke arah tangga. Belum pernah aku beranjak ke sana, sedangkan untuk lantai ini aku pikir sudah aman.


“Kita ke atas yuk,” ajak Om Dion. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Om Dion menceritakan rencana penggunaan lantai dua. Saat menginjakan kaki di lantai ini, aku sudah merasakan kehadiran makhluk lain dan sosok di jendela yang tadi aku lihat sudah tidak ada.


“Nah, yang ruang paling besar akan dijadikan diisi banyak meja. Sedangkan area terbuka ini ada sofa dan beberapa kubikel di sebelah sana,” tutur Om Dion.


“Itu ruangan apa?” tunjuku pada dua ruangan lain yang besarnya berbeda.


“Yang kecil itu akan dijadikan musholla dan yang sebelahnya bagian keuangan.”


Aku melangkah menuju ruang yang akan dijadikan musholla, terasa ada dorongan untuk aku melangkah mendekat ke arah ruang itu. Tanganku sudah menyentuh handle pintu, perlahan aku menekannya.

__ADS_1


Bunyi derit pintu karena sudah lama tidak digunakan. Saat pintu perlahan terbuka, terasa hembusan angin ke arah wajahku


“Aneh,” gumamku.


Kenapa aneh? Jendela ruangan ini tidak ada yang terbuka, jadi dari mana angin itu berasal. Lampu ruangan tidak dihidupkan dan gorden menutup sempurna menyebabkan sinar matahari hanya sedikit yang masuk di sela gorden.


“Lampunya mati,” ujar Om Dion.


Aku melangkah masuk dan mendekat ke jendela, menyibak tirai agar ruangan menjadi terang dari sinar mentari yang merambat masuk.


“Om, baiknya lampu-lampu yang mati atau aliran listrik yang rusak, segera diperbaiki,” ujarku menatap ke luar jendela.


“Iya, rencananya begitu.”


“Astagfirullah,” ucapku menatap sosok yang menempel di atas pintu tepat di belakang Om Dion yang sedang menghadapku.


Sosok itu yang tadi melambai di jendela. Sepertinya ruangan ini adalah tempat tinggalnya. Dia menatap ke arahku dan menyeringai. Bulu kudukku merinding bahkan tengkuk terasa berat dan dingin. Aku sampai menggerakan leher ke kiri dan ke kanan untuk menghalau berat yang aku rasakan.


Om Dion menyadari ada hal aneh yang aku rasakan.


“Kamu kenapa?” tanyanya.

__ADS_1


Aku bergeming tapi tatapan tetap mengarah ke atas, tepat pada makhluk itu. Makhluk itu memekik dan ….


Brak.


Pintu tertutup. Kami terkejut, bahkan Om Dion sampai menoleh dan berpindah ke belakangku. Sedangkan makhluk itu perlahan melayang mendekat ke arah kami.


“Arka, ada sesuatu?” tanya Om Dion.


Aku melantunkan doa, begitupun Om Dion. Makhluk itu sudah berhadapan denganku, wajahnya dia miringkan ke kiri. Keriput di wajah dan lingkaran hitam serta seringainya sungguh menyeramkan. Aku gemetar karena jarak wajah kami sangat dekat.


“PERGI!” teriaknya membuat aku melangkah mundur.


“Kamu yang pergi, di sini bukan tempatmu. Pergilah ke neraka.”


Aku membaca doa untuk mengusir makhluk di hadapanku. Dia terkikik dan kembali memekik. Om Dion menyentuh bahuku. Dia tidak bisa melihat interaksi ini. Makhluk itu kembali melayang dan mengulurkan tangannya ke arah Om Dion.


“Aaaaa.”


Aku menoleh, Om Dion sedang mencengkram lehernya dengan kedua tangan. Dia mencekik lehernya sendiri.


“Om Dion, istighfar.”

__ADS_1


 


__ADS_2