Dia Belum Mati

Dia Belum Mati
Apa Yang Kalian Lakukan?


__ADS_3

Aku masih tak percaya dengan sikap Marsa. Dia sengaja memanfaatkan hantu itu, tapi untuk apa?


“Dari awal memang aneh. tiba-tiba Marsa datang ke kampus, terus lihat Davina dan dia … marah,” gumamku masih mengingat kejadian tadi. Ditambah ucapan Marsa, jelas kalau dia memang memanfaatkan hantu itu untuk membantunya.


Apa memang Marsa cemburu? Tapi dia tahu aku tidak ada perasaan untuknya.


“Argh, gini nih kalau temen jadi demen. Ribet.”


Daripada terus memikirkan Marsa, aku membuka ponsel dan melihat percakapan grup bersama sahabatku. Ternyata banyak chat yang belum aku baca. Ah, lagi-lagi Marsa. Bono dan Oky membahas tentang Marsa karena gadis itu keluar dari grup lalu menanyakan padaku ada apa dengan Marsa.


[Sebelum ada Marsa kita udah temenan. Walaupun Marsa ingin keluar dari pertemanan kita, ya terserah dia]


Aku hanya membalas satu kalimat itu, pada Bono dan Oky. Tidak membahas kemungkinan kemarahan Marsa karena perasaannya dan juga ....


“Davina,” ujarku langsung mencari kontak gadis itu. Entah kenapa aku jadi kepikiran dengan Davina.


Aku melakukan panggilan telepon, terdengar nada sambung tapi tidak ada jawaban. Aku mengulanginya lagi dan hasilnya tetap sama.


Tadi siang, setelah Marsa pergi, Davina pun pulang dan aku hanya antar sampai mobilnya.


“Perasaanku, nggak enak.” Aku kembali menelpon Davina dan masih tidak ada jawaban.


Di saat aku masih menunggu kabar dari Davina, pintu kamarku diketuk. Ternyata si Bibi.


“Kenapa bik?"


"Ada teman Den Arka di bawah. Kata Ibu, Den Arka cepat temui. Dia kehujanan.”


“Hah, temanku?”


Di luar kondisi memang turun hujan sejak tadi sore dan ini sudah lewat maghrib. Siapa yang mengaku teman dan datang ke rumah. Aku bergegas menuruni undakan tangga dan melewati meja makan di mana Mama sedang mengatur menu makan malam.


“Davina,” panggilku melihat Davina yang menggigil dan bajunya sudah basah kuyup begitu pula dengan rambutnya.


“Arka, tolong aku.”


“Mang, kenapa nggak di kasih payung,” teriakku pada penjaga rumah yang berdiri di bawah payung tidak jauh dari beranda.


“Saya sudah tawari tapi nggak mau Den. Memang sudah basah sebelum sampai sini, kayaknya dia jalan dari ujung komplek.”


Aku merangkul bahu Davina mengajaknya masuk, dia tidak mau melangkah karena dari pakaiannya mentes air.


“Mama, Bik,” teriaku.


“Arka, kenapa … hah ini siapa?” tanya Mama.


“Mah, aku nggak mungkin bawa dia ke kamar aku.”


“Ayo, ikut Tante!" Mama mengajak Davina, tapi gadis itu menatap wajah Mama membuatnya menoleh menatapku.


“Dia, Davina,” ujarku.

__ADS_1


Mama terbelalak bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan. “Kamu Davina?”


Davina menganggukan kepala. “Aku ingin sekali peluk Tante, tapi pakaianku basah.”


“Ayo masuk, aduh kalau begini kamu bisa sakit.”


Mama terus mengoceh sepanjang menuju kamar tamu, aku hanya mengekor langkah mereka dan menunggu di meja makan.


“Mama ke mana?” tanya Papa yang baru bergabung.


“Ada, bentar lagi juga ke sini.”


Tidak lama, Mama pun datang dengan Davina yang sudah berganti piyama. Sepertinya milik Mama dan rambutnya juga sudah kering


“Duduk di situ, di sebelah Arka,” titah Mama.


“Loh, ini bukannya?”


“Malam Om, aku Davina.”


“Iya, Om tahu. Kami pernah jenguk kamu waktu masih di rumah sakit.”


“Arka, lain kali kalau Davina mau ke sini di jemput. Jadi kehujanan begini." Mama menegurku, mana aku tahu Davina akan ke sini sedangkan dihubungi tapi tidak menjawab.


Aku menatap Davina, dia menunduk. Pasti ada sesuatu yang membuatnya datang sampai kehujanan begini, karena bisa saja dia diantar supir bukan malah jalan kaki dan kehujanan.


“Ayo, kita makan. Kamu cepat makan, nanti masuk angin.”


Kami semua fokus dengan makan malam, setelah itu berpindah ke ruang keluarga untuk ngobrol. apalagi ada Davina, Papa pasti akan bertanya kenapa dia bisa sampai ke sini dan kehujanan.


Davina duduk di sebelahku sambil menunduk dan memainkan jemari tangannya. Aku sudah menduga kalau ada sesuatu yang terjadi.


“A-aku takut, jadi pergi tanpa supir. Opa sedang keluar kota dan di luar sudah gelap. hantu itu terus mengikutiku, aku langsung pergi bahkan tanpa pamit pada orang rumah.”


Hah. Sudah kuduga.


“Hantu?” tanya Papa.


Davina mengangguk pelan.


“Davina mengalami sesuatu setelah dia bangun dari koma. Seperti kisah Mama, yang bisa melihat makhluk gaib setelah tidak sadar selama beberapa hari,” tuturku menjelaskan awal mula kenapa Davina bisa dikejar hantu.


“Benarkah? Sama dengan aku, Bang,” ujar Mama. Papa masih menatap Davina dengan dahi berkerut lalu menatapku, entah apa yang dipikirkannya.


“Kita harus hubungi Tuan Lim dan orang di rumahmu,” ujar Papa.


“Tapi aku tidak ingin pulang.”


Mama dan Papa saling tatap, aku menoleh dan menatap Davina.


“Davina, Om Lim tidak akan izinkan kamu menginap di sini. lagi pula ….”

__ADS_1


“Aku tidak mau pulang, walaupun aku tidak diizinkan di sini. Aku pergi tapi tidak akan pulang ke rumah, di sana ada hantu jahat.”


“Sayang, kamu tetap di sini. Om Aldo yang akan hubungi opa kamu,” ujar Mama sambil menyenggol lengan Papa.


Saat ini Papa sedang menghubungi Om Lim, Mama bertanya macam-macam pada Davina sedangkan aku hanya menyimak obrolan mereka.


“Gimana Pah, boleh?”


“Tuan Lim mengizinkan, awalnya tidak tapi aku sampaikan kalau kamu ketakutan dan tidak nyaman di rumah,” tutur Papa.


Davina menghela nafas lega. Aku masih penasaran dengan hantu yang mengganggunya.


“Hantu yang menakutimu, yang biasa muncul atau ….”


“Hantu yang bersama Marsa. Kalau sosok yang biasa aku lihat, hanya diam dan tidak mengganggu. Yang ini dia berusaha mendekatiku bahkan sempat mencekik leherku.”


“Apa dia ikuti kamu ke sini?” tanya Mama.


“Waktu Arka belum keluar, hantu itu masih ada di depan pagar.”


“Davina, kamu mengalami apa yang pernah Tante rasakan.”


Aku dan papa saling tatap mendengar pernyataan Mama, lalu Papa terkekeh.


“Apa mereka akan mengikuti jejak kita?” Pertanyaan Papa sepertinya ditujukan untuk mama, kemudian dia menatapku dan Davina.


“Nggak ada ya Pah. Kalau aku ikuti jejak Papa, mau dikasih makan apa anak orang. Masih sama-sama kuliah,” sahutku.


...***...


Sebenarnya aku sudah terlelap dan entah ini sudah jam berapa saat aku mendengar pintu kamar diketuk dan teriakan Davina. Setelah mendapatkan izin dari Om Lim, Davina akhirnya menginap dan Mama menempatkannya di kamar tamu tidak jauh dari kamar Mama dan Papa.


“Iya, sebentar,” ujarku menuju pintu sambil menguap.


Brak.


“Astagfirullah,” ucapku saat membuka pintu dan didorong cepat oleh Davina. Gadis itu langsung memelukku.


Kedua tanganku masih berada di atas, tidak berani membalas pelukan atau mengusap punggung Davina karena kami bukan pasangan yang sedekat itu. Mungkin saja belum.


“Davina, kita ….”


“Arka, aku takut. Hantu itu ada di jendela. Dia berteriak dan memanggilku.”


“Aku akan usir hantu itu, tapi lepas dulu.”


“Nggak, aku takut. Jangan ke mana-mana dan jangan usir aku,” tutur Davina bahkan wajahnya dia benamkan di dadaku.


“Ada apa ini? Arka, Davina apa yang kalian lakukan?”


 

__ADS_1


__ADS_2