
“Kuliah, gimana?” tanya Papa saat kami selesai makan malam.
“Hm, biasa aja. Baru juga mulai,” jawabku sambil menerima dessert yang sejak tadi Mama banggakan karena menu baru yang dia buat.
“Sudah ketemu yang bening belum?”
“Papa, apaan sih? Jangan ajari Arka yang nggak-nggak deh.” Mama protes, padahal aku yakin Papa hanya bergurau.
“Nggak-nggak gimana, wajar kalau laki-laki mengagumi yang indah dan bening. Justru tidak wajar, kalau sampai sekarang Arka masih saja belum mengenal perempuan.”
“Aku bukannya belum kenal perempuan, tapi takut kalau nggak tahan dan ingin ikut jejak kalian menikah muda,” ujarku lalu terkekeh.
“Beda kasus, kalau Mama dan Papa menikah karena ….”
“Jodoh,” sahut Papa menyela ucapan Mama.
“Masa?” tanyaku.
“Iya karena kami sudah berjodoh, lagian kalau dientar-entar Mama kamu bisa digaet pria lain.”
Aku hanya terkekeh dan orangtuaku menceritakan lebih rinci alasan mereka menikah di usia masih muda.
“Selain manusia, ada yang usil nggak?”
“Hm, usil sih nggak. Hanya menunjukan kalau mereka ada.”
“Baiknya hati-hati dan jangan menunjukan energi kamu.”
“Kalau ada apa-apa, kamu segera hubungi Papa ya, apalagi kalau urusan makhluk halus,” ujar Mama khawatir. Inilah yang membuat aku malas bercerita atau berkeluh baik dulu urusan di sekolah atau sekarang saat di kampus.”
“Iya Mah.”
Aku pamit ke kamar dan bergelut dengan file modul dan diktat kuliah. Sebenarnya jadwal kuliah belum dimulai, masih orientasi dan besok adalah persiapan kegiatan kemah kerja mahasiswa. Tentu saja aku serius dengan pendidikanku yang tidak murah ini, karena berkaitan dengan masa depanku. Sebagai seorang laki-laki aku harus bertanggung jawab bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk keluarga dan keluarga kecilku nanti. Hampir jam sebelas malam, aku menguap dan menutup laptopku.
...***...
“Nggak sabar, pengen cepet besok,” ujar Yanto.
Aku terkekeh, teman baruku ini bertingkah seperti bocah yang tidak sabar akan bepergian mungkin sampai tidak bisa tidur.
“Jangan ketawa, gue nggak sabar karena pengen manfaatkan kesempatan kemah untuk dekati dia,” tunjuk Yatno pada perempuan yang satu kelas dengan kami.
__ADS_1
“Kenapa tunggu besok, deketin aja. Ajak kenalan, sok dekat terus jadian dan ….”
“Nggak semudah itu kali. Lihat, dia curi pandang sama kating. Nyebelin ‘kan?”
Aku hanya menghela nafas, semoga saja aku tidak sepertinya. Kuliah belum tapi sudah tidak fokus karena perempuan.
“Kumpul di Aula C, lantai 1. Pengarahan keberangkatan besok,” ujar salah satu kating.
Aku dan Yanto pun beranjak keluar kelas dan antri menggunakan lift.
“Tangga ajalah,” ajakku.
“Nggak ah, capek. Lagian ini kesempatan juga buat dekat dengan dia,” bisik Yanto karena perempuan incarannya tepat di depan kami.
“Gue lewat tangga."
Aku meninggalkan Yanto dan menuju tangga darurat. Terdengar langkah kaki dan obrolan. Sepertinya aku kloter terakhir yang menggunakan tangga. Ruang kelasku berada di lantai 4, jadi aku harus melewati tiga lantai.
Untungnya aku sering beradu basket dengan kedua sahabat karibku, jadi tidak terlalu berat menuruni anak tangga. Ketika menuruni anak tangga lantai tiga menuju lantai dua, aku mendengar suara langkah di belakangku.
Aku diam sesaat menunggunya, agar ada teman ngobrol. Hampir lima menit tidak ada yang datang.
“Perasaan tadi dengar suara.”
“Si4l,” gumamku lalu mendorong pintu dan tidak berhasil. “Kenapa pintunya berat,” ujarku sambil mendorong lagi.
Tap Tap
Aku kembali mendengar suara langkah dan gumaman. Perlahan aku menoleh dan mendongak untuk melihat siapa yang menuruni anak tangga. Tidak ada siapapun.
“Nggak beres,” ujarku lagi lalu mendorong pintu darurat lantai dua. Mungkin saja lift sudah sepi, padahal tinggal satu lantai lagi.
Tap Tap Tap Tap
Suara itu semakin jelas, suara langkah yang begitu cepat, aku berbalik dan … sret.
“Astagfirullah."
Ada sosok terbang dari atas melewatiku, menuju ke bawah. Tidak lama lampu berkedip-kedip dan terdengar suara terkikik.
Bruk Bruk
__ADS_1
Aku kembali mendorong pintu darurat, tapi tidak berhasil. Pintunya berat, seperti terkunci. Dengan terpaksa aku melangkap pelan, menatap ke bawah memastikan tidak ada sosok tadi di tangga.
Sepi dan tidak ada siapapun atau sosok apapun. Lampu masih berkedip dan aku putuskan kembali melangkah.
“Tolong ….”
Aku menghentikan langkahku, memastikan apa yang barusan aku dengar.
Sunyi.
Aku kembali melangkah.
“Tolong ….”
Suara itu begitu lirih, aku pun berbalik dan sosok itu duduk di undakan tangga tidak jauh di atasku. Dia mengulurkan tangannya dan dia menangis. menangis air mata darah.
“Tolong ….”
Aku bergegas menuruni anak tangga sampai di pintu darurat lantai satu, mendorongnya dan keluar.
“Hahh,” nafasku masih terengah karena berlari di tangga.
“Arka, lo kenapa?” tanya Yatno yang baru keluar dari lift.
“Nggak apa-apa,” jawabku. Tidak mungkin aku mengatakan baru saja bertemu dengan setan dan mengakui kelebihan yang tidak semua orang miliki.
Aku sudah bergabung di aula, di mana sudah ramai berkumpul mahasiswa dengan jurusan sama. Kalau dipikir sudah dua makhluk yang menunjukan wujudnya.
“Sebelah sana yuk,” ajak Yanto.
Saat pengarahan aku tidak fokus. Selain masih terganggu dengan gangguan tadi, aku merasa dahaga. Fix, aku akan bertanya Yanto arahan jelasnya.
“Gue ke belakang ya,” ujarku lirih. Yanto hanya mengangguk pelan. Baru keluar dari pintu aula, seseorang menabrakku.
“Eh, kalem Non,” ujarku.
Yang menabrakku perempuan, aku menahan agar dia tidak tersungkur.
“Maaf, aku ….”
Kami terkejut saat pandangan kami bertatapan. Dia … Davina.
__ADS_1