
“Aaaa,” teriak Oky lalu berlari keluar.
“Tungguin gue,” ujar Bono sambil mengejarlngkah Oky.
“Aish, anak-anak ini. Kenapa sih takut banget? Kamu juga, kenapa nakut-nakutin Oky?” tanya Om Kaivan. Dia tidak percaya kalau aku benar melihat ada yang duduk di atas kepala Oky.
Om Kaivan masih mengoceh sambil meninggalkan aku dan Marsa, sepertinya mengejar Oky dan Bono. Marsa menatapku lalu menatap kepergian Om Kaivan.
“Arka, kita?”
“Ikut mereka,” sahutku dan sukses membuat Marsa langsung berlari.
Kami berhasil keluar dari villa. Oky terengah karena baru saja mengeluarkan jurus langkah seribu, begitu pula dengan Bono.
“Arka, gila lo. Serius tadi di atas kepala gue ada ….”
“Iya,” sahutku cepat agar Oky tidak melanjutkan kalimatnya.
“Sekarang masih ada?” tanyanya lagi.
“Sudah pindah ke sana.” Marsa menunjuk balkon, tempat awal sosok itu terlihat.
Aku menengadah dan benar, sosok bocah mirip noni belanda sudah duduk di balkon mengayunkan kedua kakinya.
“Kalian jangan percaya, itu hanya ulah Arka agar kita keluar dari sana,” ujar Om Kaivan.
Aku hanya mengedikkan bahu saat Oky dan Bono menatapku. Sebenarnya aku heran dengan orang-orang yang penasaran dengan dunia gaib, bahkan ada yang sengaja mendatangi tempat yang diduga angker untuk dapat melihat atau berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata.
Sedangkan aku yang memang sejak lahir ada kelebihan untuk berinteraksi dengan "mereka", berharap kelebihan ini bisa dibuang atau dipindahkan.
Bukannya mengakhiri kegiatan ini, Om Kaivan malah mengajak kami ke belakang memutari bangunan villa.
“Gila, bener serem ya,” gumam Bono saat melihat area belakang bangunan.
Ada gazebo yang sudah hampir runtuh dan kolam renang yang sudah kering dan kotor bahkan banyak sampah dedaunan dan ranting di dalam kolam. Tidak jauh dari kolam ada pohon besar dengan salah satu ranting menjulur tepat di atas kolam.
Tidak usah dibayangkan kalau malam ada sosok apa yang duduk berayun di ranting tersebut. Sudah pasti sosok yang menyeramkan.
“Kalian sebenarnya cari apa sih?” tanyaku sambil menggaruk kepala.
Tubuhku sudah merasakan tidak nyaman karena energi yang semakin kuat. Sepertinya para penunggu bangunan ini mulai terusik dengan kehadiran kami.
“Jujur gue penasaran,” ujar Bono. “Ini lokasi udah gothic, tapi belum ada penampakan,” ujarnya lagi.
__ADS_1
“Kalau mau lihat penampakan, datang nanti malam,” sahutku.
“Ah, iya. Bagaimana kalau kita balik lagi nanti malam,” usul Om Kaivan dan disambut dengan setuju oleh Oky dan Bono.
“Eh jangan, bahaya.” Ucapanku tidak digubris oleh Kaivan CS. Setelah meninggalkan villa yang diduga angker ini, mereka kembali merencanakan kembali nanti malam.
...***...
“Kita berangkat setelah isya. Kalau Papa Arka tanya, bilang saja kita mau naik,” titah Om Kaivan pada Oky dan Bono lalu kembali ke lantai bawah.
Aku yang berbaring di sofa sampai menoleh dan menggelengkan kepala.
“Om, bahaya. Aku nggak ikut ah,” ujarku.
“Jangan gitu Ka, ikut dong. Yang bisa melindungi kita-kita ‘kan Cuma lo,” pinta Bono.
“Yang bisa melindungi kita hanya Allah dan baiknya kalian batalkan rencana ini.”
“Ah, Arka nggak asyik banget.” Oky kecewa dengan usulanku yang masih keberatan dengan rencana mereka.
“Arka,” panggil Marsa. “Kalian jadi ke tempat tadi?”
“Jadi.”
“Tidak.”
“Terus kamu ikut?” Marsa kembali bertanya padaku. Bono dan Oky menatapku, tentu saja mereka berharap aku ikut serta.
“Nggak.”
“Tapi mereka tidak ada yang bisa ….”
“Biarin aja, paling ada yang ikut pulang. Bono menggendong kuntilanak dan Oky diikuti pocong.”
Oky dan Bono serempak meneriaki ku dan mengumpat, aku berbaring membelakangi mereka dan menghadap sandaran sofa.
“Arka, aku serius,” ujar Marsa.
“Hahh.” Aku beranjak duduk dan menatap Bono dan Oky bergantian. Mengingat ide bodoh mereka, aku tidak peduli walaupun mereka akan diganggu dengan setan tapi mengingat persahabatan kami bahkan mereka juga menemani saat aku menangani Davina akhirnya aku putuskan akan ikut serta.
“Kamu nggak usah ikut,” titahku pada Marsa dan dia keberatan.
Aku memberikan pilihan, dia atau aku yang ikut. Marsa mengalah, karena demi kebaikannya juga.
__ADS_1
“Kalian mau ke mana?” tanya Papa melihat kami berempat termasuk Om Kaivan sudah akan berangkat.
“Nanjak Om. Katanya kalau malam begini di puncak pass, rada rame,” jawab Oky.
“Jangan malam-malam pulangnya,” ujar Mama.
“Berangkatnya juga udah malam, paling cepat pulang pagi,” sahut Om Kaivan dan sukses langsung mendapat ceramah dari Mama.
“Awas saja kalau kamu ajarkan mereka yang nggak-nggak,” ancam Mama pada Om Kaivan.
Om Kaivan malah terkekeh dan menepuk pundakku.
“Aku nggak ajarin mereka yang nggak-nggak tapi yang enak-enak.”
“Kaivan,” teriak Mama.
“Yura, sudahlah.” Papa dan Mama juga ada acara, mereka sudah siap berangkat dan kami akan berangkat setelah mereka pergi.
Benar saja, suasana malam tentu saja membuat perjalanan terasa lebih menegangkan. Apalagi saat mobil kembali memasuki kawasan villa yang tadi siang kami datangi. Penerangan bangunan dan area sekitar tidak terlalu baik. Banyak lampu sudah mati atau mungkin aliran listrik yang terputus.
“Kita ke mana dulu?” tanya Oky pada Om Kaivan.
“Area belakang.”
Aku tidak setuju dengan Om Kaivan, area belakang adalah tempat dengan energi paling kuat.
“Ke dalam saja Om, ke tempat tadi,” usulku.
Bono dan Oky menunggu jawaban Om Kaivan. Aku menatap ke arah balkon, tidak ada bocah mirip noni belanda yang tadi mengikuti kami.
“Belakang,” jawab Om Kaivan.
Aku mengumpat dalam hati karena area itu yang tidak ingin aku datangi. Benar saja, aku sudah melihat penampakan pocong saat berhasil tiba di area belakang lewat jalur samping villa.
Sambil beristighfar aku mengusap wajah karena penampakan sosok itu masih berdiri tidak jah dari gazebo dan menggoyangkan tubuhnya pelan ke kiri dan ke kanan.
“Arka, lo kenapa?” tanya Bono.
“Nggak apa-apa, mudah-mudahan aja dia nggak ikuti Oky pulang.”
Aku menatap ke arah kolam dan ranting besar yang menjulur di atasnya, ada sosok yang duduk dengan kaki terjulur ke bawah. Sosok perempuan dengan rambut panjang dan sebagian wajah tertutup rambut. Gaun putihnya tampak sudah sangat kusam. Sesekali dia terkikik sambil memainkan rambutnya. Dia … kuntilanak.
“Bono, jangan lihat ke atas. Nanti dia ikut sama kamu.”
__ADS_1
“Arka, lo jangan nakut-nakutin deh.”
Sosok itu kembali terkikik dan saat ini bukan hanya aku yang bisa mendengar suaranya.