
Aku mencoba untuk kembali terlelap, walau masih terdengar suara tangisan dari balkon.
“Antarkan aku pulang.”
Terus saja berulang. Entah apakah Papa mendengarnya atau tidak, semoga saja tidak. Aku akhirnya terlelap dan terbangun selepas subuh. Suara itu tentu saja sudah hilang.
“Arka,” ujar Papa lalu menoleh ke arah dapur. “Semalam ada suara tangisan dari balkon kamar kamu.”
Ucapan Papa terhenti karena Mama datang membawakan kopi untuk Papa. Sepertinya beliau tidak ingin membicarakan hal ini dengan Mama. Aku pun tidak menjawab atau membahasnya sampai akhirnya kami sudah berada dalam mobil.
“Kamu dengar juga ‘kan?” tanya Papa sambil fokus pada kemudi.
“Bukan hanya dengar tapi sempat ke balkon dan melihat sosoknya.”
“Lalu?”
“Ya, aku masuk lagi terus tidur.”
Aku tidak menceritakan kalau bukan hanya rumah kami yang didatangi oleh sosok itu, tapi Bono, Oky dan Marsa juga. Apalagi mengatakan sosok itu dari villa angker yang kami kunjungi sebelumnya.
Sampai di kelas, sudah ada Bono, Oky dan Marsa duduk di sekitar mejaku.
“Ada apaan sih, pagi-pagi udah konferensi aja,” ujarku menggoda mereka.
“Jangan bercanda deh, gue ketakutan semalaman. Nanti malam gue tidur di tempat lo ya,” ujar Bono. Aku sempat terkekeh mendengarnya lalu beralih menatap Oky yang terlihat paling murung dan wajahnya jelas begitu lelah.
“Apa Om kamu juga diganggu?” Marsa bertanya sambil menatapku.
Aku lupa tanyakan pada Om Kaivan, bel tanda pelajaran dimulai pun berbunyi. Sementara kami mengakhiri obrolan mengenai gangguan sosok bocah noni belanda dan fokus pada pelajaran.
Di sela belajar, aku membuka ponsel karena ada pesan masuk. Ternyata dari Om Kaivan.
[Arka, semalam aku diganggu. Hantu dari villa]
Fix. Kami semua diikuti.
...👻 *** 👻...
“Jadi gimana?” tanya Bono.
Kami berempat duduk di tribun setelah jam belajar usai, aku mengusap kasar wajahku memikirkan apa yang membuat kami diikuti dan diganggu. Parahnya sosok itu tetap ikut ke mana kami berada, Oky sempat melihatnya di toilet.
“Om kamu diganggu juga?” tanya Marsa.
Aku menganggukan kepala.
“Hm, mungkin karena kita kemarin lelah dan perbuatan kita mengganggu habitat mereka. Semoga nanti malam gangguan itu tidak ada lagi,” ujarku berusaha menenangkan mereka.
“Lo yakin?” Bono bertanya karena diantara kami dia yang paling penakut.
“Nggak,” jawabku.
“Kalau ternyata muncul lagi, gimana? Gue nginep di tempat lo ya,” pinta Bono.
“Sosok yang mengganggu kita, apa sama?” Akhirnya Oky membuka suara.
Kami pun saling tatap, aku memang belum memastikan ini pada mereka.
__ADS_1
“Yang muncul di kamar gue, bocah perempuan bule rambutnya diikat dan mukanya pucat,” tutur Bono.
Aku menatap Oky menunggu informasi tentang yang mengganggunya.
“Sama,” sahutnya.
“Yang ada di balkon kamarku juga dia.”
“Aku nggak yakin kalau ini terjadi karena kita lelah dan … pasti ada penyebabnya. Bukan karena kita datang ke tempat itu, ada hal lain yang menyebabkan dia ikut,” tutur Marsa.
“Tapi apa?”
Yang aku khawatirkan kemarin adalah Om Kaivan, karena dia menantang kuntilanak yang duduk di atas ranting tapi yang ikut malah sosok lain.
Aku putuskan untuk bubar dan pulang, berusaha mensugesti mereka kalau nanti malam kami tidak akan diganggu dan bisa tidur dengan nyenyak.
.
.
Setelah makan malam, aku tidak menceritakan tentang gangguan yang aku dan kawan-kawan alami pada Papa, masih dengan keyakinan kami kalau semua baik-baik saja. Seperti biasa, kami bertiga masih bercakap-cakap setelah makan malam.
Mama masih mengingatkan aku agar tidak memilih universitas di luar kota apalagi beda pulau. Beliau tidak masalah kalau aku dapat universitas swasta selama masih berada di Jakarta.
“Aku boleh bawa kendaraan sendiri ya. Masa masih harus diantar papa.”
Papa terkekeh mendengar keluhanku.
“Maaf Den Arka, ada kawannya menunggu di ruang tamu,” ujar bibi.
“Katanya Bono, teman sekolah den Arka.”
“Sudah malam, kamu mau pergi ke mana?” tanya Mama.
“Nggak ada rencana kemana-mana, aku temui dulu deh.”
Bono memang berada di ruang tamu, bukan duduk selayaknya tamu tapi berjalan mondar mandir dan terlihat resah.
“Bono,” panggilku.
Bono menoleh dan menghampiriku.
“Arka, gue nginep di sini ya dan gue maksa. Setan itu masih ada, dia masih ganggu gue.” Tutur Bono.
“Bono, kamu kenapa?”
Aku dan Bono menoleh, Papa berdiri menatap kami.
“Om, saya izin menginap di sini ya? Please!”
Papa menatapku seakan menanyakan ada masalah apa.
“Ehm, Bono sepertinya diganggu oleh penunggu villa dan dia masih ketakutan,” ujarku bohong. Aku perlu memastikan apakah yang lain masih diganggu atau hanya Bono saja.
“Hm, istirahatlah. Ini sudah malam, besok kalian harus sekolah.”
Rasanya aku ingin terbahak melihat Bono yang sangat takut, tapi demi menghargainya aku tahan rasa itu. Bagaimana tidak, dia ingin kamar tetap terang dan ke toilet pun minta diantar.
__ADS_1
“Tidurlah, kalaupun sosok itu datang tidak akan bisa masuk,” ujarku menenangkan Bono.
“Lo yakin?”
Aku mengangguk pelan. Kami sudah berbaring di ranjang dan aku sudah mulai terlelap saat mendengar rintihan itu. seperti semalam, sosok itu menangis dan mengatakan minta diantar pulang.
“Arka, lo dengar itu ‘kan? Gimana kalau dia masuk?”
Aku menghela nafasku karena Bono berhasil membuatku terjaga.
“Dia nggak akan bisa masuk,” sahutku.
Aku terdiam, rintihan makhluk itu memang semakin terdengar semakin menyeramkan bahkan tubuhku merinding.
“Terus gimana Ka?”
Ponsel aku dan Bono yang terletak di atas nakas bergetar, kami saling tatap kemudian meraih ponsel masing-masing. Ada beberapa pesan di grup chat.
Oky
Arka tolongin gue, dia ada di kamar gue.
Marsa
Sosok ini bikin aku takut, dia terus muncul dan mengganggu. Arka, bagaimana kita mengusirnya?
“Arka, ini gimana?” tanya Bono.
Ponselku berdering, ternyata panggilan dari Om Kaivan.
“Arka, gila ini gila. Setan itu muncul lagi.”
“Om, tenang dulu. Keluarga om yang lain apa diganggu juga?”
“Nggak, aku lagi di apartemen. Kamu tahu sendiri aku sedang ada masalah dengan keluargaku.”
“Om ke sini aja deh, masalahnya bukan hanya Om Kai yang diganggu. Kita semua mendapat gangguan yang sama.”
Aku dan Bono sudah turun ke bawah dan menunggu kedatangan Oky serta Om Kaivan. Papa pun ikut terganggu dan akhirnya bangun.
“Sebenarnya ada apa ini?” tanya Papa saat semua sudah berkumpul di ruang tamu termasuk Marsa.
“Pah, kami diganggu. Dengan sosok yang sama dari villa,” ujarku mencoba menjelaskan masalah yang kami hadapi.
“Yang menangis di balkon kamar kamu?”
Aku mengangguk.
“Tapi Papa tidak melihat ada yang aneh di sana atau pun merasakan energi jahat.
“Bukan dari villa itu, Om.” Marsa pun membuka suara.
“Lalu?”
“Dari villa angker yang kami datangi,” jawab Oky.
“Apa?”
__ADS_1