
“Jadi gimana Pah, waktunya Davina nggak lama lagi dan raga tanpa jiwa seperti itu jadi sasaran para arwah gentayangan,” seruku pada Papa.
Setelah menjenguk Davina dan tidak ada tanda-tanda gadis itu akan bangun, aku semakin khawatir apalagi banyak makhluk gaib yang menunggu di luar kamar perawatan Davina.
“Arka, tidak semudah itu arwah mengisi raga dengan jiwa tersesat. Kalaupun kondisi Davina akhirnya dinyatakan tidak mungkin sadar karena otaknya sudah tidak berfungsi lagi, itu sudah menjadi takdirnya. Kita tidak bisa lakukan apapun, Papa pun tidak tahu bagaimana cara menyadarkan Davina.”
Aku bersandar pada sofa yang aku duduki, Mama menatap iba padaku setelah penjelasan kondisi Davina dan tidak ada yang bisa kami lakukan.
Akhirnya aku kembali ke kamar. Seperti biasa, Davina ada di ruang ganti. Dia tersenyum melihatku, sedangkan aku menatapnya dengan raut wajah datar. Aku sudah berjanji akan membantunya semaksimal mungkin dan saat ini batas maksimal sudah pada akhirnya.
Sebagai manusia biasa tentu saja tidak bisa membuat Davina kembali ke hidupnya karena ada campur tangan Tuhan di sini.
“Aku tahu kamu kecewa,” ujar Davina.
Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapannya.
“Maksudmu?”
“Kalaupun aku tidak bisa kembali, itu bukan salahmu. Aku senang bisa kenal dan berteman denganmu,” ujar Davina lagi. “Sepertinya aku tidak punya teman sebelumnya tapi kamu mau menemaniku dan tetap yakin kalau aku benar ada dan bukan imajinasimu. Terima kasih, Arka.”
“Davina ….”
Kalau sosok itu bisa aku sentuh mungkin sudah aku peluk, rasanya kami akan segera berpisah. Berpisah karena Davina bisa kembali ke tubuhnya atau menjadi arwah yang sesungguhnya karena raganya dinyatakan sudah meninggal.
“Kalau aku bisa kembali, aku ingin ada kamu saat aku membuka mata. Yakinkan aku kalau kita memang sedekat ini. Kalau ternyata aku tiada, kamu tahu harus bagaimana,” tutur Davina.
...***...
“Kesimpulannya, Davina akan meninggal?” tanya Bono saat aku menceritakan kondisi Davina dan segala situasinya.
Saat ini jam istirahat dan kami berada di taman sekolah, berkumpul untuk membahas Davina. Marsa tampak berpikir, mengabaikan Bono dan Oky yang terus bertanya tentang hal yang aku sendiri tidak tahu. Seperti mencari orang yang diyakini bisa membangunkan Davina.
“Kalau dokter bisa membangunkan orang koma, kelar masalah. Karena koma bukan penyakit yang ada obatnya, tapi suatu kondisi tubuh dari seseorang,” tutur Oky.
“Davina sudah tidak punya banyak waktu," ujar Marsa.
“Hm,” sahutku.
“Ikhlaskan saja, mungkin memang itu yang terbaik untuk Davina. Kamu sudah pernah mempertemukan Davina dengan raganya?” Marsa bertanya sambil menatapku.
Aku menoleh pada Marsa, idenya boleh juga. Dari awal aku menemukan raga Davina, belum pernah aku mengajaknya untuk melihat sendiri raga dirinya.
“Kapan kita lakukan hal ini?” tanya Oky seakan tahu apa yang aku rencanakan.
__ADS_1
“Siang ini, sepulang sekolah. Aku akan ajak Davina ke rumah sakit. Kenapa aku tidak kepikiran ya, bertemu dia di rumah sakit dan dia hanya ingat rumah sakit dan menyadari dirinya berbeda. Mungkin saat dia dinyatakan koma,” tuturku.
Aku tidak bisa fokus dengan pelajaran, rasanya ingin segera berakhir jam belajar lalu melakukan rencana yang sudah dibahas tadi. Salah satu guru bahkan menegurku yang melamun dan tidak menjawab saat dia bertanya.
Akhirnya bel tanda jam berakhir pun berbunyi. Aku bergegas pulang, bersama tiga temanku. Kami menuju ke rumahku untuk mengajak Davina. Sosok Davina bisa ikut aku kalau memang aku izinkan, entah kenapa bisa seperti itu aku tidak tahu.
“Kamu sudah pulang?” tanya Mama saat aku mengucap salam dan menghampiri Mama yang sedang nonton TV.
“Mah, aku langsung ke rumah sakit ya,” pamitku.
“Makan dulu dan … Arka,” teriak Mama karena aku sudah menaiki tangga menuju kamarku.
“Davina,” panggilku saat memasuki kamar.
Tidak ada sahutan.
“Davina,” panggilku lagi.
Masih tidak ada sahutan. Aku menuju ruang ganti dan benar saja, dia ada di sana.
“Arka, kamu sudah pulang?” tanyanya sambil berdiri.
“Ikut aku, kita ke rumah sakit.”
“Untuk apa? Aku malas di sana, banyak penampakan yang membuatku takut,” jawab Davina.
Di sinilah kami berada, rumah sakit di mana Davina masih terbaring tak berdaya. Kami berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Seperti biasa, aku mengabaikan sosok-sosok yang berkeliaran bahkan ada juga yang mengganggu dan menghalangi kami.
“Abaikan saja,” ujarku pada Marsa.
Sampai akhirnya kami tiba di depan kamar Davina.
“Kamu lihat itu?” tanyaku pada Marsa menunjuk beberapa makhluk tak kasat mata.
“Iya, mereka jenis pengganggu.”
Aku membuka pintu kamar rawat Davina, sosok Davira masih ada di sana.
“Davina,” panggilku.
Davira menatapku dengan wajah menunduk dan tatapan sengit. Davina perlahan memasuki ruangan dan kehadirannya mengejutkan Davira.
“Davina,” ujar Davira.
__ADS_1
Davina menatap Davira lalu menatap raganya yang terbaring di ranjang. Perlahan sosoknya mendekat ke ranjang.
“Berhenti, kamu seharusnya pergi. Kamu seharusnya sudah mati,” teriak Davira.
Davina menoleh dan menatap Davira.
“Sepertinya kita dekat tapi rasanya aku begitu membencimu. Aku belum mati, kamu yang sudah mati dan seharusnya kamu yang pergi. Apa ini semua karena ulahmu?” tanya Davina.
“Arka, apa yang terjadi?” tanya Marsa lirih tapi bisa didengar oleh Oky dan Bono.
“Mereka berdebat, Davina sepertinya menyadari kalau Davira … jahat,” tuturku masih menatap ke arah Davira dan Davina.
Oky dan Bono tidak bisa melihat yang aku lihat, Marsa yang bisa melihat Davira seolah sedang bicara dan marah pada sosok di depannya.
“Aku bilang pergi, aku yang akan menempati ragamu. Aku akan menjadi Davina,” teriak Davira bahkan teriakannya terasa memekakan telinga. Aku dan Marsa sampai terperanjat membuat Oky dan Bono terkejut.
“Ada apa?” tanya Bono.
“Davira, hentikan atau ….”
Davira berteriak kembali, aku dan Marsa sampai menutup telinga. Terpaksa, aku membaca doa untuk mengusir makhluk gaib yang biasa aku lantunkan ketika bertemu sosok pengganggu. Begitu pun Marsa, doa yang kami ucapkan berhasil membuat Davira lemah dan siap pergi.
“Kamu yang seharusnya pergi,” ujar Davira.
“Pergilah, tunggu aku,” ujar Davina mengulurkan tangannya. Davira melangkah mendekat, tangan mereka hampir bertemu, tapi sosok Davira perlahan melayang lalu memudar dan hilang.
“Arka, ke mana Davira?”
“Pergi, dia sudah pergi ke tempat yang seharusnya,” jawabku.
Tiba-tiba alat medis yang terpasang pada tubuh Davina berbunyi. Bukan hanya aku yang terkejut, yang lain pun sama.
“Panggil dokter.” Aku memekik kemudian menatap Davina. “Pergilah, entah ke tubuhmu atau menyusul Davira. Apapun keadaanmu, kita berteman. Aku tetap mengingatmu,” ujarku pada Davina.
Oky berkali-kali menekan tombol darurat. Bono bahkan keluar kamar untuk memanggil dokter.
“Arka,” panggil Marsa.
“Arka, terima kasih ….” Davina berjalan menuju raganya dan hilang …!
Aku masih memandang di mana sosok Davina akhirnya lenyap.
“Arka,” panggil Marsa membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
Marsa bergeser memperlihatkan raga Davina. Sosok itu sedang mengerjapkan matanya dengan nafas terengah.