Dia Belum Mati

Dia Belum Mati
Penampakan Di Tempat Baru


__ADS_3

Setelah kejadian di villa angker, kehidupanku berjalan seperti biasa. Aktivitas sekolah dan serangkaian jadwal ujian kelulusan yang harus kami jalani. Gangguan dan penampakan makhluk tak kasat mata, tentu saja masih ada. Namun, yang masih mengganggu pikiranku adalah mimpi mengenai Om Kaivan yang mengalami kecelakaan. Sampai sekarang aku tidak tahu makna mimpi itu.


Saat ini aku sudah mendaftar di salah satu kampus di Jakarta. Kami berempat tidak ada yang satu kampus. Bono kuliah di salah satu universitas negeri di daerah Bogor, karena ambil jurusan pertanian. Oky di Bandung karena menekuni bidang teknik. Marsa masih di Jakarta, dengan jurusan kedokteran dan aku mengikuti arahan Papa dengan manajemen bisnis.


Mama terkadang menyinggung tentang Marsa yang semakin jelas menunjukan perasaannya untukku. Aku tidak merespon dan acuh untuk yang satu itu, karena tidak ingin memberi harapan palsu pada Marsa. Karena sosok seseorang masih bersemayam di sudut hati terdalam. Padahal aku sudah lama tidak bertemu atau melihatnya. Mau sampai kapan? Entahlah.


“Kelas apa?”


“MB2,” jawabku.


“Oh, sekelas dong. Gue Yanto.”


“Arka,” sahutku.


Aku dan Yanto berkumpul sesuai arahan panitia orientasi khusus mahasiswa baru. Setelah pengarahan dan informasi link jadwal orientasi profesi dan kompetensi. Kami diajak berkeliling, mengunjungi fasilitas kampus termasuk cara akses masuk ke ruangan tertentu.


Karena tidak diizinkan ke luar Jakarta, pilihanku kampus swasta dan Papa harus mengeluarkan uang yang agak besar untuk pendidikanku di sini. Fasilitas kampus sebagian besar menggunakan teknologi, termasuk akses ruangan dan absensi.


“Kenapa ambil manajemen bisnis?” tanya Yanto di sela pengarahan.


“Hm, modal kerja.”


“Bukan karena bisnis keluarga?”


“Ya, salah satunya itu. Konsekuensi menjadi anak tunggal,” jawabku. “Lo sendiri, kenapa ambil jurusan ini?”


“Sama kaya lo. Padahal kalau ikut hati nurani, gue seneng otomotif.”

__ADS_1


Aku hanya manggut-manggut. Akhirnya pengarahan dan kunjungan fasilitas berakhir, aku pun undur diri. Kalau yang lain sepakat saling mengenal dengan berkumpul di café, aku secara halus menolak. Toh, kami akan saling kenal seiring waktu.


Tidak ada yang aku kenal di kampus ini, teman seangkatan di sekolah tidak ada yang melanjutkan ke sini. Alasanku memilih kampus ini karena Davina. Perempuan itu mengunjungi stand kampus ini saat berada di kampus fair.  Aku berharap bisa bertemu dengannya, kalau memang Davina sesuai dengan rencananya untuk kuliah di tempat ini.


“Shittt.”


Aku sudah berada di parkiran saat merasakan panggilan alam.


“Toilet di mana ya,” gumamku sambil melihat arah petunjuk dan aku menemukannya. Toilet yang berada di ujung koridor, agak gelap padahal ruangan lain terang. Kecuali yang sedang tidak digunakan, otomatis gelap.


Brak.


“Eh, mbak. Salah kamar,” ujarku saat berpapasan dengan perempuan keluar dari toilet laki-laki.


Namun, perempuan itu terus berjalan sambil menunduk, aku bergegas masuk ke dalam salah satu bilik mengabaikan perempuan itu karena sudah tidak tahan. Setelah selesai, aku kembali ke parkiran. Masih di koridor seseorang menegurku.


“Iya.”


“Ngapain?”


Aku heran dengan pertanyaan itu. Memang apa yang akan dilakukan orang ketika ke toilet, tidak mungkin makan.


“Ya, buang hajat lah,” jawabku tidak bersahabat.


“Toilet itu sudah tidak dipakai, makanya gelap. Lain kali jangan gunakan yang itu. Masnya mahasiswa baru ya?”


“Iya saya maba. Maksudnya toilet itu rusak?”

__ADS_1


“Dibilang rusak ya nggak, dibilang nggak ya rusak.”


Aku menggaruk kepalaku, mendengar penjelasan orang itu yang aku duga sesama mahasiswa mungkin senior.


“Aneh,” ujarku menatap toilet itu. “Lalu perempuan tadi?”


Aku menghela nafas dan berbalik, kembali menuju parkiran. Sepertinya akan ada pengalaman lain di sini, karena baru hari pertama sudah ada yang mengenalkan diri menampakan wujudnya.


...***...


“Bete ya,” ujar Yanto.


“Hm.”


Saat ini aku sedang mengikuti orientasi. Kalau orientasi pada umumnya banyak di lakukan outdoor, di sini fokus dalam ruangan. Bahkan materi sudah di share dan isi materi bentuknya presentasi. Ternyata bukan hanya aku hanya mengeluh, tapi yang lain juga.


Aku menantikan kegiatan terakhir orientasi, yaitu kemah kerja mahasiswa karena diadakan di luar. Tepatnya di bumi perkemahan Cikole Bandung. Hitung-hitung healing menjelang perkuliahan.


Ketika break, aku gegas keluar ruangan. Sekedar refresh dan panggilan alam. Aku tidak langsung masuk ruangan, masih berada di koridor membuka ponsel dan membaca pesan grup chat empat sekawan. Rasanya belum lama kami terpisah dan sekarang terasa ada yang hilang.


Saat fokus membaca keluhan Bono yang mendapat kost agak jauh dari kampus dan telat di hari pertama orientasi. Aku terkejut karena makhluk yang baru saja lewat.


“Astagfirullah,” ucapku setelah merasakan bulu kuduk seakan berdiri kaku.


Aku menoleh, penasaran dengan sosok yang lewat tadi. Ternyata sosok itu perempuan yang sebelumnya berpapasan denganku di toilet.


“Dia …. “

__ADS_1


Sosok itu berjalan menunduk, dari sosoknya jelas dia perempuan dan saat ini sosok itu berhenti dan menoleh. Wajahnya menyeringai ke arahku dan kedua kakinya tidak menapak. Aku disapa, oleh makhluk tak kasat mata penghuni gedung ini dan ini baru permulaan.


__ADS_2