Dia Belum Mati

Dia Belum Mati
Sosok Di Belakang Marsa


__ADS_3

Aku dan Davina duduk di deretan kursi yang tidak jauh dari parkiran. Gadis ini terus memaksa agar aku menceritakan tentang dirinya yang mengembara saat tubuhnya koma. Aku mengalah, akhirnya aku ceritakan bagaimana kami bertemu sampai dia terus mengikutiku. Termasuk tingkah cerianya yang sering berlarian dan bersenandung.


“Benarkah aku seceria itu?”


“Hm.”


“Saat kamu sudah sadar, kamarku jadi sepi dan hal yang aku rindukan adalah tingkahmu yang senang berlarian sambil tertawa sambil menutup mulut. Melihat aslinya kamu yang pendiam, aku berkesimpulan kalau batinmu tersiksa. Entah karena tertekan dengan keluargamu atau … aku tidak tahu. Yang jelas jiwamu saat itu terlihat begitu ceria.”


“Arka, kamu rindu … aku?”


Kenapa harus ditanya lagi, bukannya aku sudah katakan setelah dia sadar aku merindukannya.


“Hm.”


“Lalu janji apa yang aku ucapkan?”


Aku menoleh dan menatap Davina yang sedang melihat ke arahku. kalau aku ceritakan apa yang dia janjikan, apa dia akan penuhi. Jangan-jangan dia malah tidak percaya dan menuduh aku mengada-ada.


“Kamu janji akan mengingatku setelah sadar.”


“Hahh.”


“Kamu juga berjanji akan menemui orang tuaku. Selama berkeliaran hanya aku yang bisa melihatmu dan kamu kagum dengan Mama, begitu ingin memeluknya.”


Davina mengalihkan pandangannya, dia terlihat memikirkan janji-janjinya mungkin juga berusaha mengingat apa yang sudah dia lupakan.


“Jangan khawatir,” ujarku sambil menepuk bahunya membuat dia menoleh. “ dan jangan dipikirkan.”


“Melihatmu sadar, aku senang. Bukan hanya senang kamu bisa kembali ke tubuhmu, tapi bisa membuktikan kalau aku tidak berkhayal tentangmu.


Obrolan kami terjeda karena ponselku berdering, ternyata panggilan dari Marsa.

__ADS_1


“Halo.”


“Halo Ka, kamu di mana?” tanya Marsa di ujung telepon.


“Masih di kampus.”


“Aku sudah di depan gerbang, tunggu aku ya. Posisi kamu dimana nya?”


“Hah, di depan? Gue di … parkiran. Parkiran motor.”


Marsa minta aku menunggu dan dia mengakhiri panggilan.


“Pacar kamu?” tanya Davina.


Aku menoleh lalu terkekeh. Bagaimana bisa dia mengira Marsa adalah pacarku, kalau aku malah tertarik dengannya.


“Kok ketawa sih.”


“Dari pada nanti aku ganggu, jadi aku ….”


“Arka!”


Marsa berjalan menghampiriku, Davina yang akan pamit malah terpaku di tempat. Lebih tepatnya terkejut dan bukan hanya Davina yang terkejut, aku pun sama. Bukan kehadiran Marsa yang buat aku terkejut tapi sosok di belakangnya, sosok yang aku bisa lihat begitupun Davina. Sosok bukan manusia dan aku yakini dia sudah mati.


“Loh, Davina. Kalian ….”


“Satu kampus, dia kuliah juga di isni,” jawabku. “Lo dari mana, kenapa bawa teman?” tanyaku sambil menatap sosok yang mengikuti Marsa.


“Arka, tolongin gue. Dia nggak mau pergi, gue nggak ngerti kenapa.” Marsa bicara sambil memegang tanganku, menandakan dia benar-benar butuh bantuan.


“Kenapa dia bisa ikuti lo?”

__ADS_1


Marsa menggelengkan kepala. Aku mencoba berinteraksi dan  jawabannya membuatku melangkah mundur.


“Arka,” ujar Davina dan Marsa berbarengan.


“Lo nggak ada hutang janji atau pernah menyakiti dia ‘kan?” tunjukku pada sosok di belakang Marsa.


“Aku nggak tahu, yang jelas aku selalu menghindar. Entah ketika aku menghindar pernah berkata kasar atau bersikap tidak baik. Yang jelas aku selalu menghindar.”


Makhluk yang mengikuti Marsa, akan pergi kalau Marsa ikut dengannya. Dia adalah laki-laki yang pernah menyatakan cinta pada Marsa, tapi ditolak. Bahkan Marsa malah pindah sekolah. Ternyata mereka kembali bertemu di kampus yang sama. Ternyata cintanya masih untuk Marsa dan dia meninggal karena menolong Marsa yang hampir terpeleset di tangga kampus, malah dia yang terpeleset dan jatuh dengan posisi kepala menghantam undakan paling bawah lalu meninggal di tempat.


“Bukan salahku kalau dia harus mati, itu sudah takdir,” ujar Marsa.


Davina ketakutan melihat Marsa dan hantu yang menemaninya, bahkan davina sampai memegang kemeja belakangku.


“Apa kalian sekarang jadi dekat?” tanya Marsa.


“Ya dekat dong, lihat aja posisi kamu,” ujarku sambil bercanda.


Entah kenapa jawabanku membuat Marsa murung. Aku bukannya tidak tahu perasaan Marsa untukku, tapi dari awal aku sudah tekankan kalau kami berempat termasuk Bono dan Oky adalah sahabat.


Entah kenapa hantu itu mendekat ke arahku lalu mencengkram leherku. Tangan terasa dingin saat menempel di kulitku, tapi cengkramannya cukup keras membuatku susah bernafas.


“Arka,” ujar Marsa tapi tidak berani mendekat.


Sedangkan Davina berteriak dan melangkah mundur menjauh dariku.


“Arka, aku harus apa?” tanya Davina.


Aku melantunkan doa dan makhluk itu berteriak lalu menjauh.


“Marsa, gue tau lo sebenarnya bisa mengusir dia lalu kenapa malah membiarkan dia ganggu lo?”

__ADS_1


“Karena aku butuh bantuan, untuk mendapatkan hati seseorang dan menyingkirkan seseorang lainnya,” ujar Marsa sambil tersenyum padaku lalu melirik sinis pada Davina.


__ADS_2