
“Kamu duduk di sini,” ujarku sambil menunjuk tikar tidak jauh dari tenda. “Aku ke sana dulu,” ujarku lagi pada Davina.
“Aku takut, ini sudah hampir malam.” Davina melihat sekeliling.
“Aku harus melihat yang kesurupan, mungkin mereka butuh bantuanku. Yanto akan temani kamu.” Aku minta Yanto menemani Davina lalu bergegas menuju arah suara, di mana teriakan bersahutan karena ada beberapa peserta kegiatan mengalami kesurupan.
Situasi agak tidak kondusif, di mana banyak peserta lain yang menonton momen ini lalu beberapa kating bergaya seakan memiliki kekuatan dan berusaha menyadarkan peserta yang masih berteriak. Apa yang dikatakan Davina memang benar, ada sosok yang berdiri tidak jauh dari korban kesurupan.
Aku menghampiri salah satu perempuan yang berbaring di tahan dua orang temannya. Dia masih berteriak dan berontak dari cekalan teman-temannya. aku melantunkan doa dalam hati untuk mengusir makhluk itu sambil mengusap wajahnya.
Dia kembali menjerit dan berteriak.
“Jangan ganggu aku!” teriaknya.
“Kamu yang mengganggu.”
“Dia yang ganggu aku, mengotori kamar mandi.” Perempuan itu berkata tapi bukan dia, melainkan sosok yang mengganggunya.
Aku malas berdebat dengan makhluk ini, apalagi hari sudah semakin gelap. Setelah doa lain aku ucapkan lalu mengusap wajah perempuan itu, akhirnya dia mengerjap pelan dan sadar. Hal yang sama aku lakukan pada perempuan yang lain.
Tidak ingin menjadi pusat perhatian karena berhasil menyadarkan para korban kesurupan, aku kembali ke tendaku dan masih ada Davina di sana.
“Sudah aman, semua sudah sadar,” ujarku.
“Tapi masih ada yang lain, tadi saja ada yang lewat,” tutur Davina dengan raut wajah ketakutan.
“Kelola rasa takutmu, jangan lupa berdoa. Mereka tidak akan mengganggu kalau tidak terusik, dan aura kita yang negatif membuat mereka menggoda atau menakuti kita. Aku ada di sini, kamu berteriak juga kedengaran.”
Akhirnya Davina beranjak dari tempatku. Kalau di tanya senang atau tidak didekati Davina, jelas senang. Namun, aku tidak berharap Davina terus mengekor langkahku, karena kami akan jadi pusat perhatian dan aku harus fokus membantu teman-temanku agar tetap aman dari gangguan makhluk tak kasat mata.
“Arka, lo punya ilmu ya?” tanya Yanto
“Maksudnya ilmu apa? Fisika, bisnis atau ….”
“Lo bisa lihat setan ‘kan?”
“Ck, itu sih setannya saja yang apes.”
Yanto menggeser duduknya lebih dekat denganku, lalu menatap sekeliling. Entah apa yang dia cari.
“Ada nggak setan yang dekat dengan kita, sekarang ini?”
__ADS_1
“Kalau ada, lo mau ngapain?”
“Serius?”
Aku beranjak meninggalkan Yanto dan bergabung dengan peserta lain, sesuai arahan panitia. Acara berlangsung sampai jam sepuluh malam, dilanjutkan dengan istirahat. Aku sempat mengecek keadaan Davina, hanya memastikan keadaannya.
Sampai pagi menjelang tidak ada kejadian luar biasa atau gangguan makhluk lain. Saat olahraga pagi, aku melipir masuk ke tenda dan tidur. Semalam, aku berjaga bersama beberapa panitia alhasil saat ini aku terserang kantuk.
Berbeda dengan malam sebelumnya yang terlihat kondusif, malam kedua acara tidak berjalan sesuai dengan rencana. Ada lagi yang kerasukan dan yang ini susah ditangani. Berita buruknya, yang kerasukan adalah teman satu kelompok Davina.
Gadis itu panik, bahkan berlari dan bersembunyi ke belakang tubuh Arka.
“Davina kamu kenapa?” tanya pendamping kelompok Davina.
“Kak, saya takut.”
Wajar saja Davina ketakutan, penampakan makhluk yang merasuk cukup menyeramkan. Makhluk itu berbadan besar, berbulu hitam dengan mata menyala merah. Aku melangkah mendekat ke teman davina yang sedang berteriak, tapi ditahan oleh Davina.
“Arka, makhluk itu memandangku terus,” bisik Davina.
Aku mengangguk lalu kembali melangkah. Para makhluk tak kasat mata penghuni daerah ini terganggu dengan kehadiran kami. Apalagi yang merusak tumbuhan atau tidak menjaga kebersihan tentu saja mereka akhirnya diganggu.
Kurang tidur dan berinteraksi dengan beberapa makhluk tak kasat mata, membuat tenagaku serasa habis. Berharap malam segera berlalu dan acara selesai lalu kami kembali pulang ke Jakarta.
“Arka, bangun Ka.” Yanto mengguncang tubuhku, padahal aku baru tidur jam empat pagi dan melewatkan waktu subuh.
“Apaan sih?”
“Itu ada Davina, dia mau nanti di bus duduknya bareng lo.”
“Iya,” jawabku kembali memejamkan mata.
“Lo nggak rapi-rapi. Kita mau penutupan terus pulang,” ujar Yanto lagi.
“Iya lima menit lagi.”
Aku bangun ketika tenda akan dibongkar dan segera merapikan bawaanku ke dalam ransel. Ternyata Davina sudah menunggu, ditemani oleh Yanto.
“Tuh, Arkanya sudah bangun. Gue bongkar tenda dulu,” ujar Yanto lalu meninggalkan aku dan Davina.
Davina tidak banyak bicara, bahkan sampai acara ditutup dan semua naik ke bus dia hanya diam. aku akan duduk di jok belakang, tapi dilarang oleh Davina.
__ADS_1
“Duduk di sini, ada yang ingin aku bicarakan,” ujarnya sambil menepuk kursi di kosong di sampingnya.
Kami duduk di jok dua seat baris ketiga dari depan. Ketika bus sudah melaju aku menanyakan keadaannya, dia terlihat begitu resah.
“Arka, kamu kenal Kak Dara ‘kan?”
“Hm, kenal sih nggak tapi tahu orangnya.”
“Dia diikuti hantu perempuan dan tampangnya serem banget, mirip sosok hantu di film Suzana.”
Aku terkekeh mendengar penjelasan Davina.
“Yang di film itu hanya karangan saja, masa sama sih penampilannya dan kamu takut?”
“Aku serius. Masalahnya Kak Dara minta aku ikut gangnya dan aku harus melihat makhluk itu terus. Gimana dong?”
Aku kenal Dara dengan perkumpulannya, kalau dilihat hanya mahasiswa tertentu yang ikut dengan perkumpulannya. Semacam geng sosialita. Dara tahu kalau Davina cucu dari pengusaha sukses dan diincar untuk gabung dengan perkumpulan itu.
Hantu wanita yang mengikuti Dara sepertinya bukan ikut karena terganggu, tapi karena kesepakatan atau perjanjian. Bisa jadi keluarga Dara memiliki pesugihan atau perjanjian gaib.
“Kamu mau gabung dengan perkumpulannya?”
“Nggaklah.”
“Ya sudah, tidak usah dipikirkan.”
Aku menyandarkan kepala dan memejamkan mata, sedangkan Davina menatap keluar jendela. Tidak lama dia kembali membuka suara.
“Aku boleh tanya?”
“Tentang?” tanyaku masih dengan mata terpejam.
“Kata Opa, kamu bertemu dengan jiwaku waktu aku masih terbaring koma. Apa benar?”
Pertanyaan gadis itu membuatku langsung membuka mata sempurna dan menoleh lalu menatapnya.
“Kalaupun aku cerita, kamu tidak akan ingat.”
“Tapi … aku ingin mendengarnya. Aku ingin tahu apa yang aku lakukan saat meninggalkan raga ini.”
“Banyak, kamu melakukan banyak hal dan berjanji beberapa hal. Tenang saja, aku tidak akan menagih apapun janjimu, karena yang bicara saat itu adalah jiwamu tanpa raga dan aku maklum. Hanya saja, kamu dan jiwamu sangat berbeda. Kalian seperti dua sosok yang bertolak belakang,” tuturku lalu kembali menyandarkan kepala. Membayangkan ulah Davina saat itu, membuatku tersenyum.
__ADS_1
“Berbeda bagaimana? Arka ceritakan padaku, please!”