
“Hahh,” aku terbangun dengan nafas terengah.
Sudah lama sejak terakhir memimpikan Om Kaivan, tapi kali ini aku memimpikannya lagi. Perasaanku kacau setelah bertemu Davina kemarin dan sekarang aku kembali mendapatkan mimpi yang sama, melihat Om Kaivan kecelakaan.
“Sebenarnya, apa arti mimpi ini,” gumamku.
Aku beranjak dari ranjang menuju balkon kamar. entah mengapa rasanya agak panas padahal pendingin ruangan dalam keadaan hidup. Berdiri di balkon di tengah malam begini, sebenarnya tidak baik. Selain karena dingin angin malam, juga gangguan dari penampakan makhluk tak kasat mata.
Makhluk-makhluk itu memang tidak bisa masuk ke dalam rumah. Entah pagar apa yang kakek buat untuk rumah ini, tapi di luar rumah “mereka” masih bisa menampakan diri. Seperti sekarang, dari balkon ini aku bisa melihat dengan jelas sosok yang terbungkus kain putih dengan ikat di kepala dan kaki melompat lompat dan menggerakan tubuhku ke kiri dan kanan.
“Astagfirullah,” ujarku saat sosok itu menengadah. Wajahnya seperti luka dan hancur, terlihat menyeramkan. Bahkan aku merinding dibuatnya.
“Nggak beres deh,” ujarku lalu kembali ke kamar dan menutup pintu balkon.
Meskipun tidak bisa menerobos ke dalam rumah, makhluk itu bisa saja ikut berada di balkon dan menggoda atau menyakitiku.
Aku memilih kembali merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar, entah berapa lama sampai akhirnya aku kembali terlelap.
...***...
“Sudah masuk semua barang-barang kalian?” tanya Mama pada ketiga temanku, sedangkan aku masih asyik dengan game online.
“Sudah tante,” jawab Marisa.
Papa ada acara di puncak Bogor dan mengajak kami ikut serta sekaligus liburan, kebetulan hari ini jumat dan libur nasional. Jadi, weekend kali ini agak panjang. Rencana liburan ini sudah Papa tawarkan sebelumnya tapi gagal.
Aku mengajak Bono dan Oky agar tidak jenuh karena Mama dan Papa sudah pasti akan sibuk dengan menghadiri acara. Ternyata Marsa pun ingin ikut, Mama sudah berkomunikasi dengan orang tua gadis itu dan disinilah mereka siap berangkat bersama keluargaku.
“Kalian sudah sarapan? Kalau belum masuk dulu yuk,” ajak Mama.
“Terima kasih Tante, kami sudah sarapan di rumah,” ujar Oky mewakili kedua temannya.
Mama kembali ke dalam rumah dan permainan pun berakhir tentu saja dengan aku sebagai pemenang.
“Arka, Mama kamu masih muda ya,” ujar Marsa.
“Hm, mereka menikah muda,” sahutku.
__ADS_1
“Lo nggak lahir karena ….”
“Nggaklah,” sahutku menyela ucapan Bono. Pasti dia menduga Mama dan Papa menikah karena Mama sudah hamil duluan.
“Papa menikahi Mama karena ingin menolong Mama yang berada dalam gangguan makhluk halus. Karena mengobati Mama terkadang harus masuk ke kamar dan menyentuh tubuh Mama, maka lebih baik mereka halal dulu.” Aku menjelaskan singkat pada ketiga temanku.
“Wah, sudah ramai. Siap berangkat?” tanya Papa.
“Siap Om,” sahut Oky dan Bono serempak.
Papa duduk di depan bersama sopir, Mama dan Marsa di kabin tengah sedangkan aku, Bono dan Oky di kabin belakang.
Tiga jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan. Papa sudah menyewa villa yang dekat dengan lokasi acara. Walaupun ada sinar mentari tapi udara dingin tetap terasa, belum lagi pemandangan yang sehat untuk indra penglihatan.
“Ayu masuk dulu, Mama tunjukan kamar kalian.”
Kami pun mengekor langkah Mama. Di lantai bawah ada dua kamar. Kamar yang paling besar dengan balkon langsung menuju kolam renang di pakai oleh Mama dan Papa, sedangkan kamar di sebelahnya untuk Marsa.
“Kamu di sini ya, yang lain biar di atas.”
Kami bertiga bergegas menuju lantai dua, ada tiga kamar di sana. Aku sudah memilih satu dengan double bed. Aku terbiasa tidur di ranjang yang besar dan kamar ini sepertinya nyaman untuk tiga hari ke depan.
“Mendingan kita tidur di sini rame-rame,” usu Bono.
“Kenapa? Kamu takut?” tanya Marsa baru menginjakan kaki dari undangan tangga terakhir.
“Gue sih enggak, tapi Arka dan lo pasti bisa merasakan dan melihat sesuatu,” sahut Bono lagi.
Aku merebah di atas karpet, menyungging senyum mendengar ucapan Bono.
“Di pohon dekat pagar, ada yang nunggu. Hitam, besar dan berbulu,” ujarku. “Matanya merah menyala,” tambahku lagi.
“Kamu lihat juga?” Marsa bertanya padaku.
“Masa?” tanya Oky.
“Lo jangan pada bercanda deh, kita dua malam loh tidur di sini,” sahut Bono.
__ADS_1
Aku terkekeh lalu melemparkan bantal sofa yang tadi aku gunakan sebagai alas kepala ke arahnya.
“Makanya jangan penakut,” ejekku.
...***...
Setelah makan siang, Papa dan Mama bersiap berangkat ke lokasi acara. Jalan raya sudah mulai padat karena weekend. Papa berpesan agar kami tidak pergi terlalu jauh dan selalu mengabarinya.
Aku berniat ke kebun teh yang tidak jauh dari sini dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, rencana tinggal rencana karena tidak lama kemudian langit gelap dan hujan turun disertai petir. Kami hanya bisa bersantai di tengah ruang lantai dua.
Penjaga villa menempati pos yang ada di dekat gerbang agak jauh dari rumah karena villa ini cukup luas termasuk area parkir dan tamannya.
Menjelang malam, hujan belum reda dan mulai muncul gangguan dan penampakan yang menurutku cukup mengganggu.
“Arka,” ujar Marsa lirih.
“Udah, nggak usah takut,” sahutku.
Bono dan Oky tidak mendengar apa yang aku dan Marsa bicarakan. Pintu balkon yang hordengnya belum tertutup, terlihat jelas sosok yang duduk di tembok balkon menatap ke arah kami. Sosok itu perempuan dan gaunnya yang terlihat usang, sedang memilin rambutnya.
Wajahnya tidak menyeramkan tapi seringai dan senyumnya mirip dengan senyum joker musuh Batman. Makhluk itu menyadari aku bisa melihatnya, dia terlihat mengulurkan tangannya dan melambai seakan mengajak untuk mendekat.
Tiba-tiba lampu mati, sepertinya ada gangguan listrik. Bono sempat mengumpat karena terkejut sedangkan Oky bergumam doa.
“Kalian jangan berisik deh.”
Terdengar juga suara Marsa. Aku meraba karpet mencari ponselku untuk menghidupkan flashnya tapi aku raba-raba tidak ketemu malah aku dikejutkan dengan bisikan di belakang telinga.
“Kamu cari apa?”
Deg.
Dari energi yang aku rasakan, suara itu dari makhluk tak kasat mata. Mungkin yang tadi ada di balkon. Terdengar Oky dan Bono kembali berdebat ditambah suara Marsa yang meminta segera dinyalakan flash dari ponsel.
Sedangkan aku dikerjai makhluk ini yang mulai meraba tanganku, usapannya terasa dingin.
Di saat aku mencoba menguasai diri dan membuang jauh-jauh rasa takut. Akhirnya lampu hidup kembali membuat ketiga temanku bersorak. Aku perlahan menoleh ke samping dan wajah makhluk itu tepat di sampingku dengan posisi kepala agak tengleng.
__ADS_1
“Aaaaa.”