
Kami tiba di Jakarta cukup sore, Davina sepertinya kecewa karena aku tidak berkenan menceritakan kisah aku dan jiwanya. Aku janji akan cerita, tapi lain kali tidak di bus seperti sekarang. Yang aku khawatirkan justru ketakutannya saat melihat makhluk tak kasat mata.
“Kamu dijemput?” tanyaku, dia hanya mengangguk.
Aku sengaja tidak memberi kabar kalau sudah sampai Jakarta, berencana menggunakan taksi daripada merepotkan Mama untuk menjemputku.
“Apa kamu dijemput oleh Mama kamu?”
“Hm, nggak. Aku belum kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Mungkin naik taksi,” jawabku lalu berdiri dan menarik tas Davina dan memberikan ke pangkuan gadis itu.
“Mau aku antar?”
“Tidak usah. Lebih baik kamu cepat sampai di rumah lalu istirahat.”
Bus pun berhenti, aku mengantarkan Davina sampai ke mobil dan menyerahkan tas milik gadis itu pada supirnya.
“Boleh aku telpon kamu?”
“Hm.”
Yanto menghampiriku saat mobil Davina sudah menjauh.
“Gue nggak nyangka lo bisa dikejar Davina.”
“harusnya gue dikejar siapa?”
“Setan.”
“Kampr3t bener.”
Yanto terbahak lalu meninggalkanku. Aku membuka ponsel dan memesan taksi online.
...***...
Perkuliahan sudah dimulai dan hari ini aku hanya ada jadwal pagi sampai siang. Setelah kegiatan di Cikole, Davina tidak ada menghubungiku padahal dia yang minta izin ingin menelpon.
__ADS_1
“Ka, anak-anak nanti malam mau jalan. Lo mau ikut?” tanya Yanto setelah kuliah terakhir selesai.
“Maksudnya jalan ke mana?” tanyaku sambi menyapa Bono dan Oky di grup.
“Yaelah, pake pura-pura. Night club, lo mau ikut nggak?”
Aku menggelengkan kepala. Bisa saja aku ikut mereka, dengan uang diberikan Papa tapi aku tidak berminat. Untuk apa banyak gaya dan hura-hura tapi bukan dari hasi sendiri. Bukan berarti setelah menghasilkan uang lalu foya-foya, tapi aku tidak ingin terjebak dengan pergaulan bebas.
“Bini lo dateng tuh,” ujar Yanto lalu meninggalkanku.
“Bini apaan sih?” Aku masih asyik dengan ponsel, karena percakapan dengan kedua temanku semakin seru.
“Arka.”
Aku diam sesaat lalu menoleh. Davina, dia duduk di kursi sebelah kananku. Aku menatap keliling kelas mencari Yanto, apa mungkin Bini yang dimaksud Yanto adalah Davina.
“Yanto sudah keluar,” ujar Davina seakan tahu apa yang aku cari.
“Hm. Kamu masih ada kuliah?”
“Kenapa belum pulang?” tanya heran.
“Sengaja tunggu kamu, aku ingin dengar cerita tentang aku. kamu sudah janji loh,” pinta Davina.
Aku menghea nafas, sebenarnya aku enggan menceritakan kisah jiwa Davina yang berkelana saat raganya koma. Sama saja aku akan mengingat gadis itu dan merindukannya, walaupun aslinya ada di sampingku. Aku tidak bisa berharap banyak, sedangkan hatiku banyak berharap.
Mungkin aku menyukai Davina, tapi tidak dengan Davina. Aku juga tidak tahu, sebenarnya yang aku suka Davina yang mana. Karena Davina yang sempurna baik jiwa dan raganya, sangat berbeda dengan jiwa Davina.
“Hm, harus ya?” tanyaku dan Davina mengangguk yakin.
“Davina, gue cari taunya ada di sini.”
Aku dan Davina menoleh ke arah pintu. Ada Dara dan dua orang temannya berjalan mendekat, lalu Dara duduk di atas meja tepat di hadapan Davina.
“Lo jadi ikut grup kita?” tanya Dara dengan tangan bersedekap.
__ADS_1
Aku dan Davina menatapnya, lebih tepat menatap sosok yang berdiri di belakang tubuh Dara. Sosok hantu wanita dengan pakaian sudah lusuh dan compang-camping, rambutnya tergerai berantakan bahkan sebagian menutupi wajah makhluk itu. Sekitar matanya berwarna hitam pekat dan ada darah menetes di sudut bibir. Yang jelas kalau anak kecil melihatnya pasti menangis, karena takut.
Davina menarik ujung kemeja yang aku kenakan, sepertinya dia memberi tanda ingin segera menjauh dari Dara.
“Woy, kok bengong?”
“Hm, kayaknya aku nggak ikutan deh.”
Sosok hantu itu mengusap mulutnya, mengambil tetesan darah dari sudut bibirnya lalu diusapkan ke wajah Dara. Tentu saja Dara tidak menyadari hal ini.
Davina dan aku saling tatap. Sepertinya Dara menggunakan susuk di wajahnya. Susuk kuntilanak atau susuk darah setan. Aku kurang begitu paham dengan jenis-jenis seperti ini, yang jelas kecantikan Dara didapat karena perjanjian dengan makhluk gaib.
“Kenapa? Lo tahu ‘kan perkumpulan ini khusus untuk keturunan para sultan. Lo pasti bangga deh, bisa gabung sama kita-kita.”
“Maaf kak Dara, aku nggak bisa. Aku nggak bisa bergabung dengan setan, eh maksudnya aku ingin fokus dengan kuliahku. Opa mengancam akan pindah kampus kalau aku tidak mendapatkan nilai yang baik.”
“Nggak asyik lo, tapi terserah deh. Lagi pula, lo memang nggak cocok jadi bagian dari kita. Ayo, cabut.”
Davina kembali menatapku, bahkan dengan mata terbelalak.
“Kamu lihat ‘kan?”
“Hm.”
“Apa kecantikan Dara, karena hantu itu?”
“Bisa dibilang begitu,” jawabku. “Kalau kamu ikut kelompok mereka, kamu akan bertemu dengan sosok hantu itu setiap hari,” ujarku sambil terkekeh, karena berhasil menggoda Davina.
“Nggak lucu, dibilang hantunya serem banget. Lihat aja rambutnya, wajahnya, mulutnya dan … kuku tangannya serem banget.”
Aku tidak berani melanjutkan tertawa, khawatir Davina tersinggung.
“Kamu jadi cerita ‘kan? Ayo di luar saja,” ajak Davina.
__ADS_1