Dia Belum Mati

Dia Belum Mati
Davira ....


__ADS_3

Aku menatap Davina yang sedang duduk di ranjangku bersenandung sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Kalau dilihat gayanya sekarang dengan yang disampaikan oleh Om Lim – kakek Davina – bahwa Davina pendiam dan sangat tertutup, sungguh sangat bertolak belakang.


Sepertinya ada rahasia kenapa bisa Davira dan Davina yang bersaudara bahkan kembar tapi tidak akur bahkan ketika maut memisahkan pun masih ada misteri di antara mereka.


“Arka, kamu kok berdiri terus. Sini dong,” ujar Davina sambil menepuk ranjang.


“Kamu kelihatannya bahagia sekali?” tanya Arka masih berdiri dengan posisi bersedekap.


“Tentu saja aku bahagia, karena ternyata aku belum mati. Kamu akan bantu aku kembali ke tubuh aku ‘kan?” Davina melompat dari ranjang dan berhadapan denganku.


“Hm, aku dan Papa akan berusaha mengembalikan kamu pada jalan takdir. Kalau kamu sudah sadar dari koma, apa yang akan kamu lakukan?”


Aku penasaran dengan rencana gadis ini. Setelah dia kehilangan kembarannya dan mungkin saja ada misteri yang hanya diketahui olehnya.


“Kalau aku sudah sadar, aku ingin kamu ada di sana. Aku akan peluk kamu erat, karena sudah mau menemaniku dan juga aku ingin bertemu dengan Mama dan Papa kamu. Aku juga akan sampaikan pada keluargaku, agar diperbolehkan sekolah di tempat yang sama denganmu.”


Davina menjawab dengan gayanya yang manja dan centil, aku hanya bisa tersenyum dan berharap semua doanya bisa terkabulkan.


“Memang kalau kamu sudah sadar bisa ingat apa yang terjadi saat ini?” tanyaku yang penasaran juga apa iya Davina akan ingat semua kejadian saat jiwanya berkelana.

__ADS_1


“Tentu saja aku akan ingat, tapi apa kamu masih mau bertemu denganku?” tanya Davina lirih.


“Menurut kamu?”


Davina terdiam lalu menggelengkan kepalanya.


“Kamu sudah ada Marsa, sepertinya tidak butuh teman seperti aku yang selalu menyusahkan kamu,” tutur Davina.


Marsa, apa hubungannya Marsa dengan aku tidak ingin berteman dengan Davina. Tunggu dulu, apa dia cemburu pada Marsa.


Aku terkekeh membayangkan kalau jiwa yang sedang tersesat di hadapanku ini cemburu pada Marsa, artinya dia suka padaku? Benar-benar hubungan yang rumit.


“Kamu kok tertawa sih?” tanya Davina lagi.


Aku merebah di ranjang dan memejamkan mata, mengabaikan Davina karena sosok itu tidak perlu tidur. Paling dia akan berlarian dan bersenandung gembira. Namun, masih menjadi pertanyaan apakah davina koma karena jiwanya tersesat atau harus sadar dulu baru jiwanya akan kembali.


...***...


“Kalian sudah bertemu Davina?” tanya Bono saat kami berempat kembali berkumpul di jam istirahat, duduk di undakan tribun.

__ADS_1


“Hm, dia sedang koma dan Davira kembaran Davina memang sudah meninggal,” jelasku lagi.


“Bukan hanya itu yang perlu kalian tahu. Arwah saudara kembar Davina ada di sana, di samping tubuh Davina menunggu waktu yang tepat untuk menempati tubuhnya,” ungkap MArsa.


“Hah, memang bisa?” Bono bertanya lagi.


“Kalau itu aku nggak tahu, tapi Papa akan cari tahu. Aku dan Papa sepakat untuk menolong Davina.”


Setelah pelajaran berakhir, Arka kembali bergegas meninggalkan sekolah. Ketiga rekannya ingin ikut, tapi dilarang oleh Arka.


“Kali ini aku pergi dengan Papa, sebaiknya kalian tidak ikut dulu karena aku dan Papa akan mencari tahu kejadian sebenarnya.”


Akhirnya aku sudah berada di rumah sakit, lalu mengirimkan pesan pada Papa nama kamar di mana Davina berada.


Saat membuka pintu kamar perawatan yang lagi-lagi tidak ada seorang pun yang mendampingi. Namun, pandangan Arka tertuju pada sosok yang berdiri di samping ranjang Davina.


“Jangan datang lagi, kamu hanya mengganggu,” teriak sosok itu bahkan teriakannya cukup kencang dan membuat lampu dan bohlam yang tiba-tiba meledak dan tentu saja membuat suasana gelap.


“Justru kamu masih ada di sini malah mengganggu. Dunia bukan tempatmu lagi,” ujar Arka.

__ADS_1


Arwah Davira terlihat marah dengan tatapan bengis dan memicing.


“Pergi kau, penggangguuuuu,” teriak arwah itu sambil melayang menghampiriku dan kedua tangan mencengkram leherku. 


__ADS_2