
“Aaaa,” teriakku yang juga dibarengi dengan teriakan Marsa, Bono dan Oky.
“Arka, apaan sih?” Marsa memukul lenganku. Aku memastikan lagi sosok yang tadi muncul tiba-tiba di sampingku, ternyata sudah tidak ada.
“Ngagetin tau nggak sih, udah mah situasi mendukung. Nah elo malah ngagetin,” keluh Bono.
Aku menghela nafas, bukan karena rasa takut karena sosok yang terlihat tapi karena terkejut. Bagaimana tidak terkejut, sosok itu mengganggu saat lampu padam dan muncul tiba-tiba saat lampu kembali benderang.
“Kalian merasakan sesuatu nggak, waktu lampu padam?”
Bono dan Oky saling pandang kemudian menatapku, sedangkan Marsa menatap ke arah balkon.
“Sudah nggak ada, dia tadi masuk. Ada di belakangku tapi nggak tahu sekarang ke mana,” ujarku yang sebenarnya aku ucapkan untuk Marsa tapi Oky dan Bono memahami ada sesuatu yang berbau mistis. Keduanya menggeser duduk mereka merapat ke arahku.
“Lo jangan aneh-aneh deh, ini villa loh bukan rumah kita. Jangan ngomongin hal begituan deh,” pinta Bono.
“Aku sedang menjelaskan kenapa tadi teriak.”
“Sudah-sudah, jadi kita akan tidur di mana?” tanya Oky yang terbawa suasana, dia terlihat takut.
“Di sini ajalah, pakai kasur lipat tuh,” tunjuk Bono pada tumpukan kasur lipat yang ada di pojok ruangan.”
“Arka, orangtuamu kapan balik lagi?” Marsa melirik jam dinding, sepertinya dia agak takut juga karena kamar untuk Marsa ada di lantai bawah tepat di sebelah kamar Mama dan Papaku.
“Ehm, entahlah. Di luar masih hujan, mungkin menunggu reda.”
“Kalian lapar nggak sih? Kalau gue sih laper nih, ada makanan nggak?” tanya Bono.
“Tadinya aku mau ajak kalian makan di luar, tapi hujan. Ada mie cup doang di bawah,” jawabku sambil kembali merebahkan diri di atas karpet.
“Ya udah nggak apalah, dari pada nggak bisa tidur gara-gara perut keroncongan. Ayolah kita turun,” ajak Bono pada kami.
“Sama Oky tuh atau Marsa. Aku malas turun,” jawabku lalu memejamkan mata.
“Gue juga tunggu di sini aja,” sahut Oky.
“Marsa, jangan bilang lo mau tinggal makan doang?”
__ADS_1
“Iya, aku temani.”
Marsa dan Bono mengalah dan memberanikan diri turun ke dapur untuk menyeduh mie cup dan mengambil makanan lain.
“Arka, tadi bener ada sesuatu di sini?” tanya Oky.
Aku membuka mata, ternyata Oky sudah duduk dekat sekali denganku. Rupanya dia tidak ingin ikut turun karena penasaran dan ingin bertanya.
“Menurut kamu? Sudahlah, nggak usah dibahas dan nggak usah takut. Kita lebih sempurna dibandingkan “mereka”,” jelasku agar Oky tidak terlalu ingin tahu lebih jauh sosok yang tadi mengganggu.
“Tapi ka ….”
Ucapan Oky terselang karena ponselku berdering, ternyata panggilan dari Mama. Tidak lama kami berbicara, Mama hanya menyampaikan akan pulang terlambat menunggu hujan agak reda dan juga menyampaikan kalau Om Kaivan sudah dalam perjalanan dan sudah hampir sampai ke villa.
Kami berempat menikmati mie cup ditambah cemilan lainnya. sesekali kali tertawa karena celoteh Bono dan tidak menyadari kehadiran seseorang.
“Seru amat ya.”
Kami berempat serempak menoleh, ternyata Om Kaivan.
“Ngagetin aja deh. Harusnya salam atau apa gitu,” ujarku.
Bertemu dengan Om Kai membuat aku mengingat akan mimpi-mimpiku tentang dirinya. Aku merasa dilema, karena aku ceritakan bisa jadi Om Kai jadi kepikiran. Kalaupun tidak cerita, malah aku yang kepikiran.
Sudah jam sepuluh lewat, Mama dan Papa belum juga datang. Om Kaivan sudah beristirahat di kamar yang diperuntukan untuknya. Marsa sudah terlihat mengantuk, aku pun mengajaknya turun dan mengantar sampai kamarnya.
“Harus aku tunggu sampai Mama datang, atau gimana?”
“Hm, nggak usah. Lagi pula aku udah ngantuk, setelah ini sudah pasti langsung terlelap.”
...***...
“Minggir,” teriak Bono lalu … Byur.
Saat ini kami bertiga asyik berenang di kolam fasilitas villa. Sedangkan Marsa hanya duduk di pinggir kolam dengan kaki menjuntai ke dalam air. Tubuhnya juga sudah basah karena sudah renang dua putaran.
Mama, Papa dan Om Kaivan sedang berbicara di beranda samping tidak jauh dari kolam. Aku beranjak naik, karena tubuhku sudah menggigil. Om Kaivan berjalan menghampiriku.
__ADS_1
“Arka, habis ini ke luar. Ajak juga teman-temanmu.”
“Ke mana?” tanyaku sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang sudah disiapkan oleh petugas villa.
“Ada villa kosong yang menurut kabar angker banget. Aku penasaran makanya mau ajak kamu.”
“Ah, aneh-aneh aja. Nggak ah. Om Kai nggak ikut dengan Papa ke acara kantor?”
Om Kaivan menggelengkan kepalanya. “Sudah ada Papa kamu.”
“Ayo, aku mau ikut,” sahut Bono yang sudah berdiri tidak jauh dariku.
Aku berdecak pada Bono, karena semangat untuk ikut Om kaivan. Padahal diantara kami berempat, dia yang paling penakut. Semalam aja, tidur tidak mau jauh dari aku dan Oky bahkan dia mau tidur di tengah antara aku dan Oky.
“Halah, kayak berani aja lo.”
Akhirnya kami sepakat mengunjungi villa kosong yang dimaksud oleh Om Kaivan, tanpa memberitahu detail pada Papa lokasi tujuan kami.
Tepat tengah hari kami sudah tiba di desa yang agak jauh dari lokasi Villa tempat kami menginap. Villa kosong ini berada di perbukitan, di tambah pohon-pohon besar. Sebenarnya, suasana dan pemandangan cukup menjual untuk tempat wisata atau peristirahatan. Namun, entah apa alasannya sampai villa ini malah kosong.
Kami sudah berani melewati gerbang yang jelas ada papan bertuliskan dilarang masuk. Pasti ada alasan khusus kenapa orang tidak boleh melewati pagar itu.
Aku merasakan energi yang kuat dan gelap dari dalam villa.
“Wah. Luas juga ya, padahal kalau masih dibuka mungkin bisa ramai pengunjung,” ujar Bono.
“Bagaimana kalau villa ini sengaja ditutup agar tidak ada pengunjung. Mungkin berbahaya untuk pengunjung,” sahut Marsa.
“Apa alasan vila ini terbengkalai?” tanya Oky.
Aku hanya mengedikkan bahu, kami sudah keluar dari mobil dan berjalan semakin mendekat ke arah bangunan villa.
Sekelebat bayangan hitam terlihat antara pepohonan yang ada di lingkungan vila ini dan hanya aku yang menyaksikan itu. Marsa kebetulan sedang memperhatikan balkon yang ada di lantai dua.
“Kamu lihat sesuatu?” tanyaku lirih agar jawaban Marsa tidak bisa didengar oleh yang lain.
“Aku lihat anak kecil, perempuan. Pakaian dan penampilannya mirip … noni Belanda,” sahut Marsa sambil menatapku, kemudian tatapan kami kembali mengarah pada balkon.
__ADS_1
“Om Kaivan, kita baik aja deh,” ajakku bukan tanpa alasan. Perasaanku tidak enak dengan kehadiran kami di tempat ini.