
Papa memijat kepalanya, sejak tadi dia berjalan mondar mandir sambil mendengarkan secara rinci ketika kami mendatangi villa angker, bahkan dua kali datang dan berakhir diikuti oleh makhluk tak kasat mata.
“Kaivan, kamu itu sudah dewasa dibandingkan mereka. Bagaimana bisa ….”
“Sudahlah Bang, laki-laki wajar berpetualang. Dari pada aku ajari berpetualang dengan wanita.”
Aku hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Om Kai. Untungnya Mama tidak terganggu dan masih tidur waktu aku lihat ke kamarnya, kalau tidak dia pasti akan histeris dan menyalahkan om Kai.
“Om, tolong kami. Saya sangat terganggu dan ….” Oky tidak dapat melanjutkan kalimatnya, diantara kami memang dia yang terlihat paling tersiksa.
“Kita harus tau dulu penyebab semua ini, kalau hanya datang ke tempat itu tidak mungkin akan akan begini,” tutur Papa.
“Semua diam, coba dengar!” titah Marsa, semua pun diam dan memasang telinga baik-baik. “Itu suaranya ‘kan, tangisan makhluk itu,” ujar Marsa lirih.
“Iya,” sahut Bono.
“Jadi, yang semalam menangis di balkon kamar kamu, sosok makhluk itu?” tanya Papa padaku, dan aku hanya menganggukkan kepala.
“Di balkon. Dia ada di balkon kamar kamu?” tanya Om Kai.
“Iya.”
“Dari tadi memang sudah terdengar tangisannya dan Arka bilang, makhluk itu nggak akan bisa masuk ke kamarnya.”
“Iya, makanya aku usul kita semua ke sini,” ujar Om Kai. “Kita tidur dulu deh, semalam kita sudah diganggu jadi malam ini paling nggak kita bisa tidur nyaman di rumah ini.”
“Kaivan,” tegur Papa. “Kita harus selesaikan urusan ini, sekarang!”
Papa mengajak aku dan Om Kai ke kamarku untuk berinteraksi dengan makhluk itu. Bono, Oky dan Marsa tidak ingin menunggu dan ikut mengekor langkah kami. Benar saja, makhluk itu masih menangis merintih dan suaranya jelas terdengar dari balkon kamarku.
Bono memadamkan lampu kamar sesuai perintahku dan aku menggeser gorden lalu membuka kedua pintu balkon.
Oky dan Marsa duduk di sofa, sedangkan Om Kaivan berdiri menatap ke luar balkon. Makhluk itu ada di sana, duduk di tembok balkon memunggungi pintu. Hanya aku dan Papa yang bisa melihat sosok itu, tapi rintihanya bisa didengar oleh kami semua.
“Pergilah, di sini bukan tempatmu,” usir Papa pada sosok bocah noni belanda itu.
“Antarkan aku pulang,” ujarnya lirih.
“Pulanglah sendiri!” titah Papa.
“Mereka yang membawaku.”
Papa menoleh ke belakang, menatap kami semua. Aku hanya mengedikkan bahu, tubuhku mendadak merinding karena makhluk itu menoleh dan menunjukkan wajahnya dengan raut marah dan kedua matanya yang hitam.
“Tidak ada yang membawamu kemari,” ujar Papa.
__ADS_1
“Dia yang membawaku.”
Aku mengernyitkan dahi karena Oky ditunjuk oleh makhluk itu. kini sosok itu hilang tapi suara rintihannya terdengar sangat jelas. Bono gegas menghidupkan kembali lampu kamarku.
“Kamu bawa sesuatu milik makhluk itu?” tanya Papa pada Oky.
“Aku tidak ….” Dia terdiam, sepertinya sedang berpikir apa yang dibawa olehnya sampai ada makhluk yang ikut dengannya.
“Aku tidak tahu,” sahut Oky.
Kami semua diam mengingat apa yang kami lakukan di tempat itu yang mungkin saja mengganggu atau merusak milik makhluk itu sampai akhirnya lampu kamarku tiba-tiba padam dan pintu balkon kembali terbuka seperti di dorong dengan paksa.
“Om,” teriak Bono menghampiri Papa.
Makhluk itu berdiri di atas tembok balkon menatap ke arah kami walaupun wajahnya tidak terlihat karena kamarku gelap. dia mengulurkan tangannya menunjuk ke arah kami.
“Antarkan aku, kembalikan barang yang sudah kalian ambil. Cincinku ….”
“Cincin,” seru Oky.
Papa melantunkan doa dan makhluk itu hilang lalu lampu kamarku kembali terang benderang.
“Kamu tahu cincin miliknya?” tanyaku pada Oky.
“Tidak, tapi aku menemukan cincin waktu kita mau pulang. Aku temukan di tanah tidak jauh dari mobil Om Kaivan.”
Oky merogoh saku celananya dan menunjukan cincin berkarat dengan permata biru.
“Barang ini harus segera diantarkan lagi ke sana, bisa jadi makhluk itu menempati barang ini,” tutur Papa.
“Bisa besok ‘kan Pah?”
“Malam ini juga,” sahut Papa sambil menoleh ke arah jam dinding.
“Bang, ini sudah malam,” keluh Om Kaivan, aku pun mengeluhkan hal yang sama.
“Kalau kalian masih ingin diganggu silahkan saja, bahkan nyawamu bisa saja terancam,” ujar Papa pada Oky.
Papa meninggalkan kamarku, kami semua saling tatap. Kami jelas takut dan ingin semua ini segera berakhir tapi kalau harus ke tempat itu lagi malam ini juga, aku pun agak takut.
“Kita ke sana sekarang, apa kalian sudah izin dengan orangtua kalian?” tanya Om Kai pada ketiga temanku.
“Aku hanya bilang menginap di sini tapi nggak bilang kalau mau ke luar kota,” jawab Bono. Sepertinya Oky dan Marsa pun sama.
Tidak lama kemudian Papa kembali sudah mengganti piyama dengan pakaian lengkap berjaket.
__ADS_1
“Kita berangkat sekarang,” ajak Papa.
Aku menuju ruang ganti untuk berganti baju, begitupun dengan Bono.
“Ini ada apa sih?” tanya Mama sudah berada di kamarku. “Jadi yang berangkat bukan hanya Papa, Om Kai dan kamu juga Arka?” cecar Mama.
“Kami semua tante,” jawab Marsa.
“Bang, ini ada apa sih?” tanya Mama pada Papa.
Papa menjelaskan singkat pada Mama mengapa kami harus pergi bahkan tidak bisa menunggu besok.
“Mama mau ikut.”
“Jangan, kamu di rumah saja.”
“Nggak, Mama mau ikut.”
Papa tidak bisa melarang, akhirnya kami semua berangkat menggunakan satu mobil. Om Kaivan mengemudi, Papa duduk di samping kemudi. Mama dan Marsa di kabin tengah, sedangkan aku bertiga di kabin belakang.
Beruntungnya jalanan lancar, setengah satu pagi kami sudah keluar dari tol Ciawi. Tidak ada percakapan selama perjalanan, selain Papa yang mengingatkan kami agar tidak melamun dan selalu berdoa walau hanya dalam hati.
Akhirnya mobil yang dikemudikan Om Kai berbelok ke jalan mengarah ke villa angker. Suasana mulai terasa berbeda, apalagi kanan kiri pohon besar dan ….
“Astagfirullah.”
Bukan hanya aku yang beristighfar, karena kami melihat sosok itu dipinggir jalan bahkan melewatinya. Kami semua melihatnya kecuali Mama. Aku lihat Marsa memeluk Mama karena takut. Tidak jauh beda dengan Bono dan Oky menutup wajahnya dengan telapak tangan.
“Kita hampir sampai,” ujar Om Kai.
Mobil pun berbelok memasuki kawasan villa angker dan melewati gerbang yang masih terbuka karena ulah kami sebelumnya.
“Matikan lampu depan,” titah Papa pada Kaivan. “Oky, di mana kamu menemukan cincin itu?” tanya Papa.
Kami semua turun dari mobil. Mama memeluk lengan Papa dan Marsa memegang tanganku. Oky menggenggam cincin dan berjalan ke arah tempat dia menemukan barang itu. Om Kai mengikuti di belakang Oky.
Dia berjongkok dan meletakan cincin itu lalu kembali menuju mobil.
“Kita pulang,” ajak Papa.
Tiba-tiba ….
Brak.
Ada sosok pocong muncul di belakang Om Kai, kani semua melihatnya dsn berteriak.
__ADS_1