Die Inside

Die Inside
chapter 17 : Makan Bersama


__ADS_3

Sekarang adalah hari Selasa pukul 06:15, Aku tidak bisa bergerak sekitar 5 menitan dikarenakan Akira yang memeluk Ku saat Dia setengah Sadar.


Aku masih bingung bagaimana cara Aku melepaskan pelukan yang erat ini, dan juga Dia mengigau sesuatu hal yang sangat Random.


Aku berusaha untuk mengangkat tangannya tanpa berfikir yang tidak-tidak dan sesekali Aku mencoba membangunkannya dengan Pelan.


"Akira tolong bangun" ucap Ku sekali lagi


Aku hampir menyerah dan menunggunya untuk bangun dengan sendiri, namun hal yang lain juga Terjadi.


"Yuu Kamu udah bangunin Akira?" tanya Ibu Akira yg masuk tiba-tiba


"Uhm maap tan Akiranya" ucap Ku terpotong


"Maaf mengganggu Kalian silakan dilanjutkan tak usah hiraukan tante" balas Ibu Akira menutup pintu


"Tunggu tan, Yuu terjebak dan gak bisa bergerak" ucap Ku ke Ibu Akira karna salah paham


"Ibu berisik banget Aku lagi tidur tau" ucap Akira yang sadar


"Eh..., Ibu disitu terus ini?" tanya Akira yang mulai sadar


"Hai" ucap Ku tersenyum yang masih terjebak


Dan ya, Akira akhirnya bangun dan sadar walau Aku menerima sebuah tamparan yang sangat mantap, Aku berada di ruang makan dan ikut sarapan bersama keluarga Akira.


.


.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul 06:23 Kami sudah selesai sarapan beberapa menit yang lalu, Ayah dan Kakak Akira sudah berangkat terlebih dahulu, Aku menunggu Akira yang mengambil barangnya di kamarnya setelah selesai Kami pun Berangkat.


"Sudah?" tanya Ku ke Akira


"Ya" jawabnya


"Baiklah kalo begitu Ayo" balas Ku


Aku dan Akira pun berangkat, kami berpamitan dengan Ibu Akira lalu Pergi.


"Aku berangkat Bu" ucap Akira


"Permisi tante" ucap Ku ke Ibu Akira


"Yuu" panggilnya


"Iya?" tanya Ku yang hampir keluar


"mulai sekarang Kamu bisa memanggil saya Ibu jika Kamu mau" jawab nya dan menyuruh Ku untuk berangkat


Aku yang mendengarnya merasa terdiam sebentar dan Tersenyum.

__ADS_1


"Baik terimakasih Ibu, Aku berangkat" ucap Ku tersenyum merasa kan sesuatu


Setelah keluar Kami berjalan menuju ke halte bus yang jaraknya tak terlalu jauh, sepertinya Akira masih marah karna kejadian tadi pagi, Dia mengembangkan pipinya menandakan bahwa Dia Marah.


Aku bingung harus berbuat apa karna Aku jarang berhubungan dengan wanita, karna ketika Aku berhubungan dengan wanita itu akan menjadi hal yang Buruk.


Aku melihat Akira yang sedang marah dan menurut Ku Dia terlihat imut daripada Menyeramkan.


"Kau tau, Kau terlihat imut ketika Kau marah" ucap Ku mencubit pipinya


"Lagian kenapa Arata tidak membangunkan Ku ketika Aku sedang tidur" tanyanya yang cemberut


"Hum..., karna menurut Ku, Harumi terlihat imut ketika tertidur jadinya Aku tidak tega membangunkan Mu" jawab Ku mencoba membuat Harumi tidak marah


"Apa yang baru saja Kau katakan" balas Dia malu


"Apa yang baru saja Ku katakan?, Aku bilang Harumi imut ketika tertidur" jawab Ku membalas perkataannya


"Baiklah begini, Aku tidak akan marah lagi tapi sebagai gantinya Kau harus mengatakan Aku imut" balasnya dengan cepat


"Baiklah Harumi Ku yang imut" jawab Ku tersenyum


"Hehehehehe" balas Dia tertawa senang


Kami melanjutkan berjalan menuju halte setelah sampai Aku dan Akira menaiki bus dan berangkat, Kami bukanlah sebuah pasangan atau apa pun, Kami hanyalah teman yang saling mengerti satu sama lain dan memiliki satu hobi dan kesukaan yang Sama.


.


.


.


.


.


"Baiklah anak-anak duduk di tempat kalian masing-masing Kita akan mulai ujiannya, harap persiapkan alat tulis dan kartu peserta kalian" ucap pengawas


Dengan begitu ujian pun Dimulai.


.


.


.


.


.


「Waktu Istirahat」


Ujian pertama selesai, kini Aku sedang duduk di waktu istirahat, pada awalnya Aku berniat untuk pergi ke kantin namun Akira mendatangi Ku.


"Yuu" panggil Akira


"Ya?" tanya Ku membalas

__ADS_1


"Apa Kamu ingin keluar sebentar?" tanya Akira sekali lagi


"Kenapa?" jawab Ku bingung


"Itu...," balas Dia sedikit malu


Aku melihat sebuah tas bekal yang disembunyikan oleh Akira, Aku yang bingung akhirnya mengerti apa yang Dia Maksud.


"Baiklah ayo" ucap Ku berdiri


Aku berdiri dan berjalan keluar kelas diikuti oleh Akira.


Aku masih bingung dimanakah Kita bisa makan dengan tenang tanpa dilihat orang siswa Lain.


"Jadi apa yang Akira inginkan?" tanya Ku ke akira


"Sebenarnya Aku membawakan Mu bekal seperti yang sudah di janjikan namun entah kenapa Aku merasa malu" jawab Dia malu


"Eh..., seorang yang disebut yanke merasa malu? bukankah itu tidak wajar" balas Ku mencoba menggodanya


"Bukan begitu maksud Ku" balas Akira yang sedikit marah


"Baiklah kalo begitu bagaimana kalo Kita makan disini" ucap Ku seketika


Setelah berjalan cukup lama, Aku berhenti dan memastikan tidak ada orang Disekitar.


"Disini?" tanya Akira yang bingung


"Ya biasanya Aku membeli minuman di vending mesin ini" jawab Ku menjelaskan


Kami berada di tempat lorong jalan menuju belakang sekolah biasanya Aku membeli minuman, dan disini sering terjadi pengungkapan rasa, Aku memilih disini karna tidak banyak siswa yang beraktivitas disekitar Sini.


Aku dan Akira duduk di kursi panjang yang terbuat dari Besi.


"Jadi apa yang Kamu buat?" tanya Ku ke Akira


"Aku tidak bisa memasak banyak tapi Aku akan berusaha untuk membuat sesuatu yang enak" jawab Akira menyodorkan tempat makan yang Dia ambil dari tas bekal


Aku menerima bekal tersebut dan mencoba untuk Membukanya.


Aku memulai dengan suapan pertama, dan yah rasanya tidak terlalu buruk mungkin agak sedikit kurang di bagian asinnya tapi ini masih Enak.


"Bagaimana rasanya?" tanya Akira yang penasaran


"Rasanya tidak seburuk penampilannya" jawab Ku spontan


"Maksud Ku ini masih enak" timpal Ku cepat


"Aku senang jika itu enak" balasnya tersenyum


"Kamu sendiri engga makan bekal Mu?" tanya Ku ke Akira


"Ah Aku lupa kalau begitu mari makan bersama" jawab Akira ke Aku


"Ya memang sedari awal itu tujuannya" jawab Ku yang bingung


Aku dan Akira menghabiskan waktu istirahat dengan makan bersama, Aku pernah merasakan hal ini sebelumnya, pada saat Aku smp dulu, dimana Aku terbiasa makan dengan Octavia di perpustakaan saat jam istirahat, namun entah mengapa disaat Aku mengingat hal tersebut Aku tidak merasakan rasa sakit atau rasa tidak nyaman mungkin karna Akira yang perlahan mengubah semua kenangan pahit Ku menjadi lebih Baik.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2