Die Inside

Die Inside
Chapter 4 : Novel


__ADS_3

Aku pulang dengan keadaan yang lumayan lelah karna energi Ku terkuras oleh percakapan Tersebut.


Disaat Aku masuk kedalam, Aku melewati ruang makan yang dimana terdapat Ibu yang sedang duduk Disana.


"Ah Yuu" ucap Ibu yang terdistorsi oleh keberadaan Ku


Aku pun berhenti dan merespon panggilan tersebut meski tidak mengatakan sepatah kata Pun.


"Bagaimana hari pertama Mu disekolah?" tanya Ibu


"Seperti biasa" jawan Aku singkat


"Karna ini hari pertama Mu masuk kelas SMA bagaimana Kita merayakannya?" tanya Ibu meminta


"Tidak usah Bu, itu cuma menghambur-hamburkan uang, lebih baik jika uang tersebut Ibu simpan untuk kepentingan lain" jawab Aku dengan datar


"Ayolah Nak, tidak bisa kah Kita merayakannya sebentar saja, Kita sudah lama tidak melakukan acara bersama bukan?" Ucap Ibu yang ekspresi nya berubah pahit


"Itu benar Kak, tidak kah Kita kembali ke keadaan keluarga yang normal?" tanya Amara yang turun dari tangga


'Keluarga Normal?' Aku tidak mengerti apa yang Mereka pikirkan tentang keluarga normal, Bahkan setelah kejadian di TK dan SD Aku tidak pernah diajak untuk keluar yang Aku lakukan hanya berada di rumah, ditambah kecelakaan di SMP yang membuat Aku harus mendekam di Kamar selama masa Liburan.


Setelah tenggelam dalam pikiran Ku, Aku kembali ke kenyataan dan menolak semua ajakan Mereka.


"Tidak terimakasih Kalian bisa pergi berdua saja" jawab Aku yang berjalan menaiki tangga


Setelah menaiki tangga, Aku pun melepas seragam dan menjatuhkan diri ke kasur, Aku yang merasa lelah memutuskan untuk istirahat sebelum lanjut untuk menulis bab berikutnya untuk novel Ku.


Setelah beristirahat sebentar, Aku bangun dari posisi tidur Ku dan duduk dimeja belajar, Aku mulai mengambil Tablet yang Aku dapat sebagai hadiah ulangtahun Ku dari Ayah.


Ayah memberikan Ku tablet secara diam-diam agar tidak diketahui oleh Ibu karna itu akan membuat masalah, Aku sendiri masih tidak tahu hadiah apa yang Ayah berikan kepada Ku disaat Dia Kecelakaan.

__ADS_1


Aku menyalakan tablet tersebut dan menyambungkannya ke keyboard yang Aku beli sendiri menggunakan duit yang Aku tabung, Aku membuat aplikasi novel tersebut dan menulis kelanjutan dari Ceritanya.


Aku menulis novel ketika Aku kelas 8, disaat itu Aku dikurung dan tak melakukan apapun, disaat Aku membuka ponsel Ku, Aku mendapat notif dari apkstore yang mempromosikan sebuah aplikasi Novel.


Aku yang tertarik mengunduh aplikasi tersebut dan melihat banyak cerita didalamnya, Aku mulai menyadari bahwa Aku bisa membuat dunia Ku sendiri, Aku mencurahkan semua perasaanku ke setiap kata dan Aku mulai merasa nyaman berada disana melebih rumah Ku Sendiri.


Waktu berlalu, Aku menyelesaikan lanjutan ceritanya tepat Pukul 07 malam, setelah menyelesaikan nya, Aku membaca beberapa lanjutan novel yang Aku bookmark dan tenggelam dalam cerita Tersebut.


Setelah selesai membaca beberapa novel, Aku pun tidur untuk kembali beraktivitas Besok.


.


.


.


.


.


.


"Ah Yuu selamat pagi" ucap Ibu menyapa


'Aku hanya menundukkan kepala untuk membalas sapaan Ibu'


"Sebelum Kau berangkat bagaimana kalo Kita sarapan?" ucap Ibu dengan gemetar


"Tidak apa-apa Aku bisa makan di kantin sekolah" jawab Aku dengan sopan


"Tidak Kak, Kau harus makan bersama kami" ucap Amara dari belakang

__ADS_1


Dengan begitu Amara menarik Ku ke meja makan dan menyuruh Aku duduk dengan paksa, Aku tidak ingin membalas paksaan itu karna Ibu akan sangat Marah.


Dengan begitu Aku duduk di meja bersama dengan Amara sedangkan Ibu mempersiapkan sarapan pagi, Ibu mulai menaruh 2 piring makan untuk sarapan Aku dan Amara.


Aku sudah lama tidak makan bersama Mereka, Aku terbiasa membuat makanan sendiri ketika semua orang sudah tidur atau makan setelah Mereka makan, Ayah pernah bilang Kepadaku.


"Kau boleh tidak percaya pada Ibu Mu, Kau boleh tidak suka pada Ibu Mu, namun Kau harus tetap menghormati Dia, meskipun itu menyakitkan karna Dia Ibu Mu"


Terkadang Ibu membuat makanan untuk Ku namun tidak mengajak Ku makan bersama dengan Dia, Aku tetap memakan masakan Ibu karna itu salah satu cara Aku menghormatinya meskipun Dia berbuat jahat karna itu adalah amanah yang Ayah berikan sebelum Dia Meninggal.


Aku selesai makan dan bergegas untuk pergi ke sekolah, Aku sedikit menunduk untuk berterima kasih kepada Ibu atas makanannya, Aku berjalan menuju halte bis yang biasa Aku naikin, sesampai di halte bis, Aku menaiki busnya karna sudah datang, sambil duduk Aku mendengar musik menggunakan Earphone.


Aku sampai di perhentian dan turun, sambil berjalan menuju depan gerbang, Aku pun memasuki wilayah sekolah dan berjalan menuju lorong koridor, disana Aku menemukan seseorang yang tak asing Aku lihat, Dia adalah Ira.


"Ah Yuu" panggil Ira


"?" balas Aku memiringkan kepala


"Etto ada yang mau Ku katakan kepada Mu jam istirahat nanti" ucapnya


"Baiklah" balas Aku singkat


Aku langsung pergi meninggalkannya karna Aku merasa tatapan murid mulai terdistorsi oleh keberadaan Aku dan Ira, meskipun anak baru Ira adalah anak yang cukup populer, Aku mendengar bahwa Dia disebut sebagai pendatang yang membawakan kecantikan dan keimutan walau Aku tidak berfikir seperti Itu.


Aku pun memasuki kelas dan berjalan menuju meja, dikelas lagi-lagi Aku mendapat tatapan pahit yang anak kelas lontarkan kepada Ku, Aku hanya bisa berpura-pura tidak melihat hal tersebut, disaat Aku duduk Aku sedikit terdistorsi oleh keberadaan seseorang yang duduk di samping Ku, Aku tidak tau dia siapa dan sejak kapan Dia disana, namun Aku tiba-tiba saja terdistorsi olehnya, siswi yang berpakaian agak berandalan dan rambutnya yang di kuncir namun masih agak berantakan, dari gayanya Dia terlihat seperti Yanke atau Iblis dengan tatapannya yang Tajam.


Aku yang cukup lama memperhatikannya mendapatkan perhatiannya, Dia melihat Ku yang sedang memperhatikannya dan membalas Ku dengan tatapan amarah dan tajam, Aku berpaling dan mencoba untuk tidak memperhatikannya sama sekali, Di sedang melihat ponselnya yang Aku sendiri tidak tahu apa yang Dia Lihat.


Tunggu kenapa Aku memikirkan tentang apa yang Dia lakukan dan karakteristik nya yang seperti berandal dengan tatapan yang sadis dan tajam, Aku benar-benar tidak mengerti dengan orang Sepertinya.


"Lebih baik jika Aku tidak terlibat dengannya lebih Jauh"

__ADS_1


Dengan begitu Aku melanjutkan aktivitas Ku, dengan sedikit gangguan dari siswa dikelas dikarnakan oleh rumor yang sudah melekat kepada Ku seperti Kutukan.


Bersambung


__ADS_2