
Sheva berjalan meninggalkan para pelayan tadi, dan masuk ke dalam kamarnya. Saat baru membuka kamar ia sudah melihat sosok lelaki yang tidak ingin ia lihat sementara duduk di atas salah satu sofa ruangan itu dengan santainya.
Sheva berjalan ke arah ranjang dan melewati Aron yang sejak tadi terus menatapnya.
"Kau dari mana ?" Tanya Aron.
Sheva naik ke atas ranjangnya, sesaat menatap tajam ke arah Aron, sebelum dengan kasar menarik selimut untuk menutupi tubuh mungilnya yang sedang berbaring itu.
"Aku manusia yang memiliki hati bukan sepertimu. Setelah melakukan kejahatan lalu pergi begitu saja tanpa kata maaf." Sinis Sheva pada Aron.
Mendengar ucapan yang di lontarkan Sheva membuat Aron mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum miring.
"Apa kau berniat untuk menyindirku ? " Tanya Aron dengan suara datarnya.
"Kau bisa menggunakan otakmu sendiri untuk memikirkannya." Ucap Sheva ketus.
Sesaat tanpa suara sama sekali, Aron memperhatikan Sheva yang tampak tidur di ranjang itu. Kemudian berdiri dari duduknya dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celana hitam yang ia pakai.
"Kau banyak menangis hari ini, istirahatlah yang banyak." Setelah mengucapkan kalimat itu ia berjalan keluar meninggalkan Sheva.
"********." Ucap Sheva sebelum ia tertidur.
-
Seperti biasa Aron menatap layar laptop di hadapannya dengan serius, tiba - tiba ia di kagetkan oleh ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk. " Ucap Aron yang pandangannya masih fokus pada layar laptopnya.
"Permisi tuan, saya mengantarkan kopi untuk anda " Ucap pelayan itu lalu meletakkan minuman di atas meja.
Aron tidak menjawab pelayan itu sama sekali hingga pelayan itu kembali meninggalkan ruangan tersebut.
Dengan cepat Aron mengambil ponselnya saat melihat pelayan itu keluar.
"Cek cctv dan bereskan dia." Lalu menutup panggilannya.
Karena sejak dulu hingga sekarang tidak ada para pelayan yang berani masuk ke dalam ruang kerjanya, apa lagi hanya sekedar mengantarkan minun untuknya. Selama ini yang melakukan itu hanya Oskar, orang kepercayaannya.
"Berani sekali kau mengutus orang mu datang ke mansionku." Setelah mengucapkan itu dengan cepat ia berjalan untuk melihat keadaan Sheva di kamarnya.
Aron membuka pintu itu dengan keras, membuat Sheva bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan." Ucap Sheva dengan suara tinggi dan menyipitkan matanya.
"Aku akan tidur di sini malam ini." Aron langsung berjalan ke arah ranjang tanpa mempedulikan wajah Sheva yang sudah menahan marah sejak tadi.
"Apa kau gila, aku tidak ingin tidur dengan mu." bersamaan dengan itu Sheva mengibaskan selimutnya untuk keluar tapi di tahan oleh tangan kekar Aron.
"Apa yang kau lakukan ?" tanya Sheva menatap tangan Aron yang sedang menahan tangannya.
"Kau berharap aku melakukan apa padamu? " Ucap Aron datar dan masih menahan tangan Sheva
"Apa kau lupa perkataanku sejak awal ? kau harus patuh pada apa yang aku katakan. Tidurlah, lagi pula aku tidak tertarik dengan ukuran kecil sepertimu." Sambungnya lagi.
"Aku tidak mau ti..." Belum selesai Sheva bicara sudah di potong oleh Aron.
"Tidurlah, kalau kau berani berbicara lagi aku akan mematahkan gigimu "Ucap Aron dengan tatapan tajam.
Hingga reflek Sheva menutup mulutnya. Ekspresi lelaki di hadapannya ini terlalu mengerikan, yang membuat Sheva tidak meragukan jika dia benar - benar akan melakukannya.
Mendengar perkataan itu membuat Sheva tampak emosi lalu kembali tidur dan menarik selimut dengan kasar.
Sheva sudah tertidur lelap, sedangkan Aron lelaki itu tidak bisa memejamkan matanya sama sekali karena ia takut jika musuhnya akan datang lalu menyerangnya dan Sheva. Dan itu akan membuat Sheva tambah syok.
Aron menatap Sheva dengan tatapan yang dalam saat Sheva membalikkan wajahnya ke arah Aron dan tangannya yang sudah memeluk erat tubuh kekar lelaki itu. Aron hanya diam membiarkan Sheva terus memeluknya.
Aron menaikan salah satu alisnya dan tersenyum kecut setelah mendengar perkataan Sheva.
"Apa kau sangat kepikiran dengan ucapanku, hingga saat tidur juga kau mengatakan itu." Kata Aron sambil mengelus pipi Sheva lembut.
Tak lama ia di kagetkan dengan suara panggilan masuk ponselnya.
Perlahan ia melepaskan pelukan Sheva dari tubuhnya agar Sheva tidak terbangun lalu berjalan ke arah balkon.
"Katakan. " Ucap Aron saat panggilannya terhubung.
"Lapor tuan, semuanya sudah beres dan wanita yang menyamar sebagai pelayan tadi sudah di musnahkan." Kata Oskar dari seberang telefon.
"Apa yang dia katakan ?" Tanya Aron.
"Wanita itu mengatakan benar jika ia bekerja untuk Matthew dan setelah kami selidiki ternyata ia hanya seorang diri tuan."
"Kerja bagus Oskar, utuskan orang kita untuk menghancurkan mansion miliknya." Ucap Aron pada Oskar dengan wajah yang sudah tampak emosi. Lalu menutup panggilannya.
__ADS_1
-
Pagi harinya, Aron bangun terlebih dulu dari Sheva. Ia melihat Sheva yang tertidur pulas di sampingnya. Aron memberikan kecupan hangat sebelum ia bangun dari tempat tidur. Tak lupa Aron menyelimuti Sheva dengan pelan agar Sheva tidak terbangun.
Aron berjalan ke luar kamar Sheva lalu kembali ke kamar miliknya.
Sementara itu, Sheva mulai membuka matanya. Matanya berkedip sangat lambat. Sheva melihat sekeliling tempat tidur, tidak ada siapa pun di sana.
Ia kembali mengingat kejadian semalam. Saat Aron masuk ke kamarnya lalu mengatakan ingin tidur bersama dengannya membuat Sheva senyum - senyum sendiri.
Hingga ia di kagetkan oleh ketukan dari luar kamar.
"Permisi nona, sarapannya sudah siap." Ucap Yuji yang sudah berdiri di hadapannya.
"Iya baiklah Yuji, aku akan turun setelah mandi."
"Baik nona." Yuji keluar dan meninggalkan Sheva di dalam kamar itu.
Sheva tampak sudah duduk di meja makan dengan sangat anggun. Melihat sekitarnya tapi tidak dapat menemukan keberadaan Aron sama sekali sejak tadi.
"Apa dia pergi ?" Ucapnya dalam hati.
Di sela - sela sarapannya datanglah seorang pria berseragam hitam yang tidak lain adalah orang suruhan Aron.
"Permisi nona, maaf mengganggu. Tuan mengirim sebuah gaun untuk anda kenakan nanti malam."
Sheva kaget dan tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu.
"Nanti malam tuan akan pergi ke sebuah acara dan tuan perintahkan anda untuk ikut serta dengannya. Tuan akan menjemput anda nona." Sambung pengawal itu.
"Acara apa ? " Tanya Sheva.
"Maaf nona saya hanya disuruh mengantarkan gaun untuk anda." Ucap pengawal itu seraya membungkuk kan badannya.
Sheva hanya mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah pengawal itu.
"Uhm, apakah boleh aku menghubungi Tuanmu aku ingin bicara satu hal padanya." Ucap Sheva pada pengawal itu.
Pengawal itu tampak bingung harus mengatakan apa dan juga takut jika tuan mereka Aron akan marah padanya.
"Aku hanya berbicara sebentar saja, jika kau tidak memberikan ponselmu maka aku tidak akan ikut acara nanti malam."
__ADS_1
Tbc ... 🌵
Jangan lupa komen, biar author nya semangat nulis ❤️