Die Or Be Mine

Die Or Be Mine
episode 19


__ADS_3

"Lepas..kan aku mohon." Air mata Sheva mulai merembes keluar dari wajah pucat serta kaki yang gemetar karena takut.


Leher putih Sheva sudah di penuhi kissmark yang di ciptakan Aron, tidak sampai di situ kini tangan nakal Aron meramas kedua gunung kembar Sheva secara bergantian yang membuat Sheva menangis lebih kencang lagi.


Sheva terus berontak karena bagaimana pun ini adalah hal baru baginya, selama ia hidup tidak pernah sama sekali ia memberikan tubuhnya kepada lelaki manapun untuk menyentuhnya apa lagi bagian yang sangat sensitif dari tubuhnya.


Tetapi Aron lelaki itu dengan santainya, dan tidak tau malunya melakukan hal itu pada Sheva yang bahkan terang-terangan menolak dirinya.


Merasa Sheva yang terus menerus berontak di bawah sana, membuat Aron merasa risih dan memberhentikan aksi gilanya tersebut. Ia menatap manik hitam kalem milik Sheva sesaat dengan posisi yang masih di atas tubuh Sheva.


Melihat Sheva yang terus menerus menangis membuatnya emosi, seakan ia tau jika wanita di hadapannya benar-benar menolak dirinya. Padahal wanita di luar sana sangat ingin menghabiskan malam dengannya tetapi sialnya ia tidak tertarik sama sekali dengan wanita-wanita jala*g itu.


Aron benar-benar di puncak kekesalannya. Andai ia tak menahan diri mengingat wanita yang di hadapannya adalah wanita yang ia cintai, ia mungkin sudah membolongkan kepala Sheva dengan pistol miliknya lalu memotong tubuh wanita itu hingga beberapa bagian karena sudah berani menolaknya. Atau bisa saja ia memperkosa wanita itu berkali-kali dan kemudian memotong tubuhnya lalu membuangnya agar di makan binatang buas.


Aron bangun dari posisinya lalu menjatuhkan tubuhnya berbaring di samping Sheva. Sesaat Ia menatap ke langit-langit kamar sebelum memejamkan kedua matanya bersamaan dengan menghembuskan nafasnya kasar.


Di lihatnya kesamping saat membuka kembali kedua matanya, Sheva gadis itu masih terus menangis di sampingnya dengan posisi telentang dan ketakutan.


"Maafkan aku." Ucap Aron dengan suara dinginnya.


Sheva merasa kaget karena Aron meminta maaf padanya, padahal yang ia tau selama ini Aron tidak pernah mengatakan itu. Bahkan saat membunuh orang dan melemparkan dirinya dari atas balkon lelaki itu tidak mengucapkan kata maaf sama sekali.


Sheva menangis semakin kencang ia bahkan tidak peduli jika Aron akan kembali memarahinya karena hal itu.


Tapi apa yang di pikirkan Sheva berbanding terbalik, Aron malah membalikkan badannya menghadap Sheva lalu memeluk Sheva dengan lembut.


Sheva yang merasa tubuhnya di peluk itu langsung membuka matanya lebar-lebar dengan masih terus menangis dalam pelukan Aron.


Sheva merasa sangat nyaman saat di peluk Aron, ini adalah pertama kali baginya merasakan pelukan hangat dari seorang Aron sejak saat pertama kali ia di bawah ke mansion mewah tersebut. Sheva merasakan kedamaian untuk sesaat tanpa ada rasa takut sama sekali.


Sebenarnya Sheva menyukai Aron. Sangat bohong jika ia tidak menyukai lelaki itu sama sekali, tetapi emosi dan kebenciannya pada Aron yang lebih mendominasi membuatnya tidak ingin menerima Aron.

__ADS_1


Ingatan saat Aron membunuh kedua pasangan suami istri yang sangat baik menolongnya, di tambah lagi Aron telah membunuh Yuji sang pelayan peribadinya yang masih muda dan baik hati itu, membuatnya semakin membenci Aron.


"Haruskah aku berlutut dan menghukum diriku agar kau diam?" Ucap Aron dengan suara yang sangat rendah. Nada suara yang bahkan baru di dengar Sheva saat ini. Aron merenggangkan pelukkannya. Ia menatap Sheva sesaat sebelum kembali memeluk wanita itu.


"Diamlah aku minta maaf, kenapa kau sangat cengeng aku bahkan belum memulainya tapi kau sudah menangis sampai seperti ini."


Sheva berhenti menangis saat mendengar ucapan Aron barusan. Ia melepaskan pelukkan Aron darinya kemudian segera merubah posisinya dengan duduk. Ia menghapus air matanya kemudian memperhatikan Aron yang ternyata mengikutinya duduk.


"Kenapa kau melakukan itu padaku." Ucap Sheva dengan suara gemetarnya.


Aron menatap Sheva lalu tersenyum sesaat sebelum menjawab pertanyaannya.


"Kau tau alasannya." Jawab Aron singkat yang kembali berbaring dengan kedua tangannya di letakkan di atas kepalanya.


"Aku tidak tau ! Makanya aku bertanya padamu katakan padaku." Ucap Sheva dengan nada suara yang meninggi.


"Sudahlah aku ingin istirahat." Jawab Aron dengan santainya.


Sheva terus bergerak karena merasa tidak nyaman. Sifat Aron sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Yang tadinya dingin dan kasar, sekarang menjadi hangat dan lembut.


"Berhentilah bergerak atau aku akan membuatmu kesulitan berjalan besok pagi."


Sheva membungkam mulutnya saat mendengar ucapan Aron padanya.


Sudah satu jam berlalu kini waktu sudah pukul 2 dini hari. Sheva masih belum memejamkan matanya sama sekali. Sedangkan Aron tampak sangat nyenyak masih sama dengan posisi yang memeluk Sheva dari belakang.


Perlahan Sheva melepaskan tangan Aron yang melingkar pada pinggang kecilnya.


Sheva membalikkan badannya perlahan di lihatnya lelaki di hadapannya itu dengan sangat intens.


Kulit putih bersih, Alis mata yang indah, hidung yang mancung, serta bibir yang sedikit tebal.

__ADS_1


"Kau sangat tampan jika tidur." Ucap Sheva sembari tersenyum.


Entah apa yang merasukinya ia merasakan ada perasaan yang tidak biasa dari dalam hatinya.


"Apakah aku mencintainya ?" Kata-kata itu terus muncul di pikirannya.


Sheva menyentuh wajah Aron dengan lembut sebelum kembali tertidur di samping lelaki itu.


-


Pagi harinya Aron bangun terlebih dahulu dari Sheva. Aron mencium kening Sheva kemudian turun dari ranjang lalu duduk di salah satu sofa samping ranjang tersebut.


Pandangannya tidak terlepas dari Sheva. Hingga beberapa saat kemudian Sheva bangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih tertutup Sheva mencari keberadaan Aron dengan tangannya, Ia meraba ke sana kemari tetapi tidak menemukan keberadaan lelaki itu sama sekali.


"Kenapa tidak ada orang." Pikir Sheva.


Sheva mengerutkan dahinya sesaat sebelum ia membuka matanya perlahan. Di lihatnya lagi ke samping tempat Aron tertidur semalam tetapi tidak mendapati orangnya.


"Aku di sini." Ucap Aron dingin, membuat Sheva berbalik melihatnya.


Padahal dalam hatinya ia ingin tertawa sangat kencang saat melihat apa yang di lakukan Sheva barusan.


Yah, Sheva mencari dirinya, padahal tadi malam wanita itu menolaknya mentah-mentah.


Dengan wajah merah menahan malu, Sheva berteriak lalu menutupi kembali seluruh tubuhnya dengan selimut putih polos itu.


Tbc ... 🌵


Hallo teman-teman, apa kabar hari ini ?


Masih sanggupkah kalian menunggu kelanjutan dari cerita ini ? Wkwk jangan lupa untuk dukung Author yah biar semangat nulis 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2