Die Or Be Mine

Die Or Be Mine
episode 21


__ADS_3

"Apa kau ingin aku membuatmu menjadi seseorang yang benar-benar tidak memiliki pendengaran ?"


"Coba saja jika kau bisa." Tantang Sheva pada Aron.


Aron menarik nafasnya dalam kemudian menggeleng kepalanya pelan.


"Hari ini aku tidak bisa mengajakmu keluar karena ada beberapa hal yang harus aku lakukan." Setelah mengatakan itu Aron meminum air putih yang ada di hadapannya.


Aron kembali menatap Sheva menunggu jawaban darinya namun Sheva sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada dirinya.


"Aku sedang berbicara padamu Sheva jangan membuatku semakin emosi." Ucap Aron dengan nada suara yang meninggi membuat semua orang yang berada di situ ketakutan.


"Aku tau ! Kau tidak perlu meembentakku seperti itu." Ucap Sheva dengan nada suara yang tinggi tidak kalah dari Aron. Sheva menatap Aron tajam dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.


Setelah mengatakan itu Sheva berdiri dari duduknya, mendorong kuat kursi kebelakang lalu berjalan meninggalkan Aron yang masih duduk begitu saja.


"Benar-benar keras kepala." Ucap Aron.


Setelah selesai dengan kegiatannya Aron kembali ke ruang kerjanya seperti biasa ia akan melakukan beberapa pekerjaannya dari rumah.


-


"Cepat katakan." Teriak Oskar dengan tangan yang sudah melingkar di leher lelaki itu.


"Aku tidak tau tuan, aku bersumpah." Ucap lelaki itu.


"Bawa dia." Perintah Oskar pada bebrapa bawahannya.


Oskar membawa lelaki yang belum di ketahui namanya itu ke mansion milik Aron, namun bukan di dalam mansion besar melainkan di ruang rahasia yang biasa ia gunakan untuk membunuh musuhnya. Ruangan itu adalah ruangan dimana Sheva menyaksikan anak buahnya memotong jari seseorang.


"Tuan, orangnya sudah ditempat." Ucap Oskar sopan pada Aron yang masih duduk dengan santai di ruang kerjanya. Aron mengangguk pelan kemudian berjalan duluan dari Oskar.


"Buka pintunya." Perintah Aron pada dua orang penjaga pintu itu.


Aron berjalan perlahan menikmati suara-suara indah tiap langkah kakinya dengan wajah datar khas dirinya. Ia duduk di salah satu kursi yang sudah di siapkan bawahannya.


"Buka." Perintah Aron pada bawahannya untuk membuka penutup kepala lelaki yang baru saja mereka bawah itu.


Aron tersenyum saat melihat wajah lelaki itu yang tampak ketakutan.

__ADS_1


"Tuan maafkan saya tuan. Saya sungguh tidak tau apa-apa tuan." Ucap lelaki itu dengan wajah yang penuh dengan luka dan darah memohon untuk di lepaskan.


"Siapa namamu ?" Tanya Aron masih dengan wajah datar.


"Sa..saya Sam tuan." Jawabnya.


Aron menganggukan kepala setelah mendengar jawaban lelaki itu lalu mengambil pisau yang berada di meja di sampingnya.


"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk melakukan itu." Tanya Aron yang sudah memainkan pisau di tangannya. Mata Aron tidak menatap lelaki itu melainkan menatap dalam pisau yang ada di genggamannya.


"Tuan saya tidak tau tuan, saya hanya di suruh untuk mengirim pesan itu pada anda tuan, sa..saya juga belum pernah bertemu dengaannya tuan." Ucap Sam jujur namun tampak sangat ketakutan saat melihat Aron terus menerus memainkan pisaunya seakan meberikan isyarat pada dirinya jika ia akan di bunuh saat ini.


"Oskar ?" Ucap Aron seraya menatap Oskar.


"Nomor ponselnya sekali pakai tuan, jadi kami tidak dapat melacaknya." Ucap Oskar


Aron menganggukan kepalanya saat mendengar jawaban dari Oskar, kemudian kembali menatap Sam yang sedang berlutut di hadapannya.


"Aku beri kau waktu 5 menit untuk mengingat kembali siapa yang menghubungimu."


Sam berusaha mengingat setiap percakapannya dengan lelaki itu hingga sessat kemudian ia kembali bersuara.


Aron memijat pangkal hidungnya perlahan dengan kedua mata yang tertutup.


"Cari tau Oskar." Ucap Aron.


"Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat, jika ia menghubungimu lagi maka kau harus segera memberi tau ku dan jangan mencoba berbohong padaku karena jika aku mengetahuinya maka tubuhmu akan menjadi santapan binatang buas." Ucap Aron tersenyum sambil memainkan pisaunya di wajah Sam yang penuh luka dan darah.


"### Urus dia Oskar." Lanjut Aron kemudian keluar meninggalkan ruangan itu.


Aron menuju kamarnya untuk membersihkan diri setelah itu berniat untuk kembali ke ruang kerjanya.


Sejak tadi ia terus menerus memikirkan siapa kerabat dekat dari Frit Blen namun sia-sia karena hingga sekarang ia belum menemukannya sama sekali.


Sementara disisi lain Sheva duduk di kursi riasnya, matanya sudah tampak sangat bengkak karena sedari tadi terus-terusan menangis mengingat perlakuan Aron padanya.


Hingga tidak lama terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya, dengan cepat Sheva membalikan badannya dan mendapati Aron yang sudah berdiri tegak di hadapannya.


"Untuk apa kau kemari." Ucap Sheva sembari menghapus air matanya.

__ADS_1


"Kenapa, ini rumahku." Jawab Aron dengan wajah datar lalu berjalan duduk di ranjang empuk milik Sheva.


"Tapi ini kamarku, kau tidak berhak setiap saat masuk ke kamarku tanpa seijinku." Ucap Sheva yang tatapan yang seakan ingin memakan Aron hidup-hidup.


"Dasar aneh." Desis Aron.


"Apa maksudmu aneh?" Tanya Sheva dengan wajah kesalnya.


"Yah kau aneh, kau melarangku untuk masuk ke kamarmu tapi kau tidak melarangku untuk memilikimu." Ucap Aron dengan senyum sinisnya membuat Sheva semakin emosi.


"Dasar brengsek kau sendiri yang memaksaku untuk menjadi milikmu." Teriak Sheva yang sudah berdiri dari duduknya lalu berjalan memukul Aron dengan sekuat tenaga. Sedangkan Aron bukannya marah ia malah tertawa dan terus menjahili Sheva.


Sesaat kemudian Aron menarik tangan Sheva kuat hingga Sheva terduduk di pangkuannya lalu memeluk kuat Sheva. Sheva membulatkan matanya kaget saat melihat ia sudah berada di pangkuan Aron.


"Kau..lepaskan aku." Berontak Sheva.


Bukannya melepaskan pelukanya Aron malah semakin mengencangkan pelukkannya pada Sheva.


"Biarkan seperti ini dulu beberapa saat." Ucap Aron dengan wajah yang sudah berada di dada sheva. Entah kenapa Aron merasa sangat nyaman saat berada di pelukkan Sheva, membuatnya melupakan semua masalahnya.


"Menikalah denganku." Ucap Aron yang masih tetap berada di posisinya.


Sheva kaget atas apa yang diucapkan Aron padanya. dengan cepat ia berdiri dari pangkuan Aron lalu menatap manik coklat lelaki itu dalam.


"Aku serius menikahlah denganku Sheva." Ucap Aron lagi yang menatap wajah Sheva.


"Ke..kenapa kau mengatakan itu ?" Tanya Sheva dengan wajah yang bingung.


"Tidak ada alasan lain, aku hanya ingin memilikimu."


"Apa ?" Ucap Sheva dengan suara yang meninggi.


"Aku bertanya alasannya dan kau malah mengatakan hanya ingin memilkiku. Oh Tuhan yang benar saja kau mengajakku menikah bukan karena kau mencintaiku ?" Lanjut Sheva.


Tbc ... 🌵


Hayo, mana dukungan buat Authot 😭


Jangan lupa untuk komen dan like yah 😘

__ADS_1


__ADS_2