
Waktu sudah pukul 12 malam, dan Aron lelaki kejam itu baru tiba di mansion mewah miliknya. Saat baru turun dari mobilnya, semua pelayan dan pengawal menyambutnya dengan memberi hormat.
Aron melangkahkan kakinya menuju kamar mewah miliknya, ia berniat akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pergi untuk melihat keadaan Sheva.
Disisi lain para pengawal sedang kerepotan dengan teriakan Sheva dari dalam kamar yang terus menerus menendang pintu dan meminta tolong untuk meminjamkannya ponsel padanya.
Alasan Sheva meminjam ponsel adalah, agar ia dapat berkomunikasi dengan sahabatnya untuk meminta bantuan mengeluarkan dirinya dari mansion yang tanpa kehidupan milik Aron tersebut.
Yah, sahabatnya itu adalah Daniel, yang saat itu tidak sengaja bertemu dengannya di toko bunga. Sheva masih menyimpan kertas kecil yang bertuliskan nomor ponsel milik Daniel.
Niat Sheva tidak terwujudkan karena tidak ada seorang pun dari para pengawal penjaga pintu itu yang berani meminjamkan ponsel untuknya.
Sementara Aron yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Sheva menahan emosi saat mendengar semua pembicaraan Sheva pada pengawal yang berada di sampingnya tersebut.
Aron menyuruh para pengawalnya untuk meninggalkan tempat tersebut. Kemudian dengan perlahan ia membuka pintu kamar Sheva dan mendapati gadis itu sedang berdiri tepat di hadapannya dengan wajah yang terkejut.
Sheva tidak menyangka yang akan membukakan pintu adalah Aron, padahal malam ini ia berharap tidak bertemu dengan lelaki itu.
"Kenapa kau kaget ?" Ucap Aron dengan suara beratnya dan kembali menutup pintu kamar.
Aron memperhatikan Sheva dari atas sampai bawah dengan wajah yang datar yang membuat Sheva kembali merasa gugup hingga dengan cepat menyembunyikan salah satu tangannya yang sedang memegang kertas kecil tersebut ke belakang.
"Berikan." Ucap Aron dengan wajah datar dan kedua tangan yang di masukkan ke dalan saku celananya.
"Berikan apa." Bohong Sheva. Sebenarnya ia tau jika Aron mengetahui kebohongannya.
"Berikan padaku atau aku akan memperkosamu malam ini." Ucap Aron tegas dengan langkah yang terus maju mendekat ke arah Sheva.
"A...apa maksu..."
"Aku tidak main-main dengan ucapanku, berikan atau aku akan memperkosamu malam ini." Potong Aron.
"Tidak ! Aku akan memberikannya jika kau mengatakan apa alasan kau menahanku disini sekarang." Sheva terus melangkah mundur hingga tidak sadar tubuhnya sudah tersandar didinding kamarnya.
__ADS_1
"Kau ingin tawar menawar denganku ?" Tanya Aron yang sudah mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Sheva.
"Te..tentu saja." Sheva memalingkah wajahnya ke arah samping tidak ingin melihat wajah Aron.
"Tidak sopan jika saat berbicara kau tidak melihat lawan bicaramu." Aron tersenyum setelah melihat wajah Sheva yang sudah seperti udang goreng.
"Aku tidak peduli dengan sopan santun."
"Kau harus peduli karena menjadi nyonya Aron harus memiliki sopan santun." Ucap Aron dengan posisi yang masih sama. Tangannya perlahan mengambil kertas yang ada di tangan Sheva yang tanpa disadari oleh gadis itu.
"Apa ? " Sheva dengan kaget segera membalikkan wajahnya cepat dan membuat bibirnya tidak sengaja menyentuh bibir Aron.
Sheva mendorong dada Aron kuat membuat tubuh Aron mundur ke belakang. Aron tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudian ia memegang bibirnya dengan ibu jari tangannya.
"Apa yang kau bicarakan brengsek." Teriak Sheva dengan suara lantangnya yang membuat Aron sesaat memejamkan kedua matanya.
Aron menarik napas dalam dan menghembusnya pelan bersamaan dengan membuka kembali matanya mentapa Sheva.
"Memiliki dan menikahimu adalah salah satu alasan aku menahanmu di sini." Aron berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan santainya di sana, memperhatikan Sheva yang berdiri mematung saat mendengar ucapannya.
"Jangan bersikap berlebihan, aku tau dari dulu kau sangat menginginkan hal itu bukan ?" Tanya Aron.
Bagaikan di bakar api saat mendengar ucapan Aron padanya. Panas ! itulah yang di rasakannya saat ini. Bagaimana bisa Aron berkata seperti itu, dulu ? dulu kapan. Ia baru saja di culik dan di tahan di mansion tersebut tetapi lelaki di hadapannya ini mengatakan jika Sheva menginginkan untuk menikah dengannya Bagaimana bisa Sheva menikah dengannya sedangkan ia sangat membenci lelaki bernama Aron tersebut.
Sheva membalikkan badannya menatap Aron dengan tatapan tajam seakan ingin memakan lelaki di hadapannya hidup-hidup.
"Apa kau pikir aku wanita gila yang mau menikah dengan lelaki yang sudah menculikku dan bahkan melemparku dari atas balkon tanpa belas kasihan hah ?"
"Aku tidak butuh pendapatmu." Ucap Aron tersenyum.
"Aku akan memberikanmu dua pilihan, kau ingin mati bersama sahabatmu itu atau menjadi milikku lalu menikah denganku."
Mendengar ucapan Aron membuat Sheva mengepal kuat kedua tangannya, hingga wajahnya berubah menjadi sangat merah karena emosi, matanya tampak kaca-kaca dengan langkah tegak ia berjalan ke arah Aron yang sedang duduk dengan santainya memperhatikkan dirinya.
__ADS_1
"Sialan kau laki-laki ********, kau laki-laki tidak tau diri aku akan membunuhmu sekarang brengsek." Ucap Sheva yang sudah memukul Aron dengan kedua tangan kecilnya.
Sementara Aron tidak menghentikan kegiatan Sheva yang terus-terusan memukul tubuhnya.
Sesaat kemudian Aron berdiri dari duduknya dengan cepat menahan tangan Sheva kuat, lalu memperhatikan wajah gadis cantik itu dengan mata yang sudah bengkak karena menangis.
"Aku tidak peduli kau mau atau tidak, tetapi malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya."
Setelah mengucapkan itu Aron menggendong Sheva ala bridal dan melempar gadis itu ke atas ranjang king size yang berada di kamar tersebut.
"A..apa yang kau lakukan." Ucap Sheva dengan ketakutan di wajahnya. Jantung Sheva berdegup sangat kencang sosok lelaki tinggi,tampan dan kejam ini sekarang sudah berada di atas tubuhnya, lebih tepatnya menindih tubuh mungilnya.
Sheva menginggit bibir bawahnya karena merasa takut.
"Kenapa kau menggigit bibir bawahmu seperti itu ? kau menggodaku ?" Tanya Aron pada Sheva.
Aron mulai mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka sangat dekat, bahkan Sheva dapat merasakan napas Aron di kulitnya.
Kerongkongan Sheva terasa mengering, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tidak sanggup bicara.
"Sialnya aku sekarang tergoda denganmu, kau harus tanggung jawab." Tanpa aba-aba Aron langsung ******* dengan kasar bibir merah muda itu.
Terasa seperti ada sengatan listrik dari dalam tubuhnya, matanya membulat saat merasakan benda kenyal dan basah menyapu bibirnya.
"Mmmppphhh....Sheva mulai kehabisan nafas ia mencoba mendorong Aron sekuat tenaga dan memukul bahu Aron tetapi tidak ada tanda-tanda aksi Aron tersebut berhenti, Aron malah melanjutkan aksinya ke leher jenjang milik Sheva.
"Lepas..kan aku mohon." Air mata Sheva mulai merembes keluar dari wajah pucat serta kaki yang gemetar karena takut.
Tbc ... π΅
Hallo teman-teman, maaf yah Author upnya lamaπ
tapi sekarang Author bakal rajin up, jadi jangan marah-marah Author lagi yah hehehe π€π
__ADS_1