
Aron dan para pengawal lainnya terus melakukan penembakan pada musuhnya. Beberapa dari pengawal Aron terluka begitu juga dengan musuhnya. Beberapa menit kemudian terdengar tembakan dari arah lain yang terus menembaki musuh dari Aron.
Kini mobil yang di tumpangi Aron sudah hancur tertembak, sementara Sheva semakin ketakutan hingga tubuhnya gemetar. Tampaknya rombongan pengawal Aron barusan tiba bersama Oskar. Saat melihat pengawalnya sudah mengambil alih untuk menembak, Aron segera menggendong Sheva untuk keluar dari dalam mobil menuju ke salah satu mobil yang sudah disediakan Oskar.
Baru beberapa langkah Aron berjalan, tiba-tiba sebuah peluru mengenai kakinya membuat Aron berhenti sejenak. Tidak tinggal diam saat melihat bossnya tertembak, Oskar segera memerintahkan pengawal untuk menghabisi musuh mereka.
Sementara Aron terus berjalan kearah mobil dengan menggendong Sheva. Aron tidak ingin hal lain melimpah Sheva maka dari itu ia sama sekali tidak mempedulikan rasa sakit dikakinya.
"Berangkat." Ucap Aron pada sopirnya sembari meringis menahan sakit.
Sheva membuka jas yang sedari tadi ia gunakan untuk menutup kepalanya dengan tangan gemetar. Ia menatap Aron yang terus meringis menahan sakit di kakinya.
Sheva semakin panik saat melihat kaki Aron yang kini penuh dengan darah. Bukannya membantu Aron menutupi luka agar tidak mengeluarkan banyak darah, Sheva malah menangis sejadi-jadinya dan langsung memeluk Aron dengan erat.
"Hey apa yang kau tangisi diamlah." Ucap Aron yang mengelus pundak Sheva. "Aku tidak apa-apa, ini hanya goresan kecil. Berhentilah menangis." Bujuk Aron pada Sheva.
Sheva terus menangis di dalam pelukan Aron, hingga kini tidak sadar jika mereka sudah tiba di villa. Wajah Aron semakin pucat mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Sementara para pengawal yang lain sudah menunggu kedatangan Aron di villa itu. Mereka segera membantu Aron berjalan menuju kamar milik Aron. Sementara Sheva terus berjalan mengikuti mereka dari belakang dengan tangisnya. Mereka semua di perintahkan untuk tunggu diluar dan tidak diijinkan untuk masuk ke dalam kamar.
Kini Aron sedang ditangani oleh dokter peribadinya Leo. Saat mengetahui tuannya di kelilingi musuh dalam perjalanan ke villa, Oskar segera menghubungi dokter Leo untuk segera ke villa.
Luka di kaki Aron cukup serius karena pelurunya masuk sangat dalam. Setelah satu jam lebih dokter Leo selesai dengan tugasnya, Aron tidak apa-apa hanya saja ia harus beristirahat yang banyak untuk segera pulih.
Dokter Leo keluar dari kamar Aron dan melihat Sheva yang terus berdiri sejak tadi dengan rasa takut dan gelisahnya. Melihat Sheva yang seperti orang gila membuat Leo ingin mengerjai Sheva.
__ADS_1
"Apa dia baik-baik saja." Tanya Sheva pada dokter Leo.
"Maafkan aku tapi sepertinya tuan Aron..." Belum selesai Leo berbicara Sheva sudah berlari dan masuk ke dalam kamar Aron. Leo yang melihat tingkah Sheva hanya tersenyum lalu meninggalakan mereka.
Sheva yang pikirannya sudah kemana-mana saat melihat Aron berbaring dan menutup mata tanpa menggerakkan tubuhnya sama sekali pun langsung memeluk Aron dan menangis.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon." Ucap Sheva di sela tangisnya. Sementara Aron yang kaget pun segera membuka matanya kemudian mengerutkan keningnya. Sungguh ia tidak mengerti apa yang ada di otak Sheva hingga memikirkan dirinya sudah meninggal.
"Kau sudah membuatku dalam masalah tapi kau malah meninggalkanku. Aku...aku akan menikah denganmu jadi bangunlah aku mohon." Ucap Sheva lagi dengan tangis yang semakin kencang.
Kini bukan mengerutkan kening lagi tapi senyum manis di wajah Aron. Entalah, tapi saat ini ia sangat senang saat mendengar Sheva mengatakan ingin menikah dengannya.
Aron segera membalas pelukan Sheva yang sedari tadi terus memeluk dirinya, membuat Sheva kaget dan melepaskan pelukannya.
"Kau.." Sheva tidak melanjutkan perkataannya saat melihat Aron mengisyaratkannya untuk diam dengan meletakan jari telunjuknya pada bibir.
"Kau membohongiku ?" Tanya Sheva dengan tatapan kesalnya.
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti."
"Berhentilah mempermainkanku."
"Aku tidak mempermainkanmu, itu kenyataannya. Ada seorang wanita yang terus menangis dan mengajakku untuk menikahinya." Mendengar ucapan Aron membuat wajah Sheva memerah karena malu. Ia mengutuk dirinya kenapa harus menangisi lelaki meyebalkan ini.
"Diamlah ! atau aku akan membunuhmu."
__ADS_1
"itu kenya....." Aron tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Sheva sudah menutup mulut Aron dengan tangan mungilnya.
"Aku bilang diam, kau membuatku malu." Ucap Sheva. Sheva tidak menatap wajah Aron tetapi malah melihatnya kesembarangan arah.
Aron meraih tangan Sheva yang di gunakan untuk menutup mulutnya lalu menarik Sheva kuat hingga membuat wajah mereka sangat dekat.
Sheva merasakan napas mint Aron pada kulitnya, begitu juga sebaliknya. Beberapa detik kemudian Aron meraih tengkuk Sheva lalu mencium bibir Sheva. Aron melepaskan ciumannya lalu kembali menatap wajah Sheva, seakan ingin mengetahui sejauh mana Sheva akan bertindak padanya.
Entah apa yang di pikirkan Sheva saat ini. Ia malah kembali mencium Aron yang membuat Aron kaget, karena ini adalah kali pertama Sheva mulai menciumnya dengan berani. Tidak ingin melepaskan kesempatan emas itu Aron segera membalas ciuman itu dengan terus ******* bibir manis Sheva dengan brutal.
Mereka terus berciuman hingga tangan nakal Aron mulai menyentuh ke bagian dada Sheva lalu memainkannya dan sesekali meramasnya dengan penuh gairah membuat Sheva mendesah. Aron sama sekali tidak mempedulikan kakinya yang sedang sekarat saat ini saat mendengar Sheva yang terus mendesah saat tangan nakalnya meramas gungung kembar Sheva bergantian. Desahan Sheva seakan mengatakan jika ia sangat menikmati sentuhan itu.
Sheva melepaskan ciumannya saat menyadari kondisi Aron yang sedang sekarat.
"Ah sial." Ucap Aron dalam hati saat Sheva melepaskan ciumannya. Ia merasa sangat kesal, bagaimana tidak ? kini napsunya sudah di atas rata-rata tetapi karena kondisi kakinya tidak memungkinkan membuatnya semakin gila saat ini. Ia berjanji akan menghabisi orang yang membuat kakinya terluka saat ini.
"Aku..aku ingin mandi." Ucap Sheva salah tingkah dengan wajah merahnya.
"Mandilah, kau bisa memakai bajuku dulu. Karena aku belum menyiapkan pakaianmu." Ucap Aron yang masih dengan posisi awalnya.
Sheva berjalan kearah kamar mandi lalu menutup pintu. Sheva berdiri di hadapan cermin lalu memukul-mukul pipinya seakan ingin menyadarkan dirinya.
"Ah...bodoh ! kenapa kau menjadi tidak tau malu seperti ini ?" Ucap Sheva pada dirinya sendiri. "Ah aku bahkan sangat malu menatapnya tadi." Lanjut Sheva. Setelah terjadi keributan yang di sebabkan dirinya sendiri Sheva memutuskan untuk mandi dan mencoba merilekskan dirinya.
Namun sialnya susah payah ia berusaha, tapi wajahnya semakin merah di tambah lagi jantungnya berdegub sangat kencang saat mengingatnya.
__ADS_1
Tbc ... 🌵
Mana Votenya buat author ðŸ˜ðŸ˜ beri Vote yah biar Author tambah semangat Uploadnya.