
Aron terus melarang Sheva keluar karena beberapa dari musuhnya telah mengetahui jika Aron sudah menikah dengan seorang wanita. Aron takut jika Sheva akan mendapatkan masalah bahkan akan di bunuh karena ulahnya.
Sekalipun Sheva meminta ijin padanya sekedar membawakannya bekal pun Aron tetap tidak mengijinkannya. Dengan alasan ia tidak ingin Sheva kelelahan karena perjalanan jauh, jadi ia menyuruh Oskar untuk membawakannya bekal buatan Sheva.
"Sayang, apa aku bisa menanam beberapa bunga di halaman ?" Tanya Sheva pada Aron yang sedang mengerjakan tugas kantornya.
Aron menghentikan kegiatannya sesaat dan menatap Sheva sebelum ia melanjutkan aktivitasnya.
"Tentu saja boleh, asal jangan sampai membuat dirimu kelelahan." Ucap Aron.
Mendengar jawaban Aron membuat Sheva tersenyum bahagia. Karena sebelumnya saat ia meminta ijin ingin membuat kebun di halaman belakang Aron menolak permintaannya dengan tegas.
"Istirahatlah sebentar, kau sudah sedari tadi tidak istirahat." Ucap Sheva yang melangkah ke arah Aron kemudian duduk di pangkuan lelaki itu. Aron menghentikan kegiatannya dan menatap Sheva sebelum ia mencium bibir Sheva dengan lembut.
"Aku ingin melakukannya sekarang." Ucap Aron pada Sheva dengan wajah memohon. Belum sempat Sheva menjawab, Aron sudah menggendong Sheva menuju kamar.
Aron membaringkan Sheva lalu mulai mencium Sheva dengan lembut namun lama kelamaan ciuman itu menjadi l*ar. Kini Sheva tampak tidak kaku seperti sebelumnya, ia mulai pintar melakukan ciuman b*birnya dengan l*iar.
Aron membuka baju tidur milik Sheva yang sangat tipis hingga membuat Sheva terlihat polos tanpa sehelai benang pun.
Kini bibir Aron sudah berada di g*nung k*mbar milik Sheva, Aron terus melakukan aksinya dengan ******* ****** Sheva seakan ia sedang menyusui disana. Shva terus mendesah rasa nikmat dan sakit bercampur aduk menjadi satu.
Tidak ingin sampai disitu, Aron menurunkan kepalanya hingga ke a*ea yang sangat di suakainya.
Aron membuka kedua p*ha Sheva dengan lebar, terlihat jelas jika Sheva sudah sangat basah disana.
Aron memainkan l*dahnya di area vag*ina Sheva, sesekali menggigitnya dengan lembut, sementara Sheva tampak tidak tahan lagi.
Desahan Shva semakin keras, membuat Aron sangat menikmatinya. Setelah selesai dengan kenikmatan di bawah sana, kini Aron menuntun tangan mungil Sheva untuk memainkan adik kesayangannya.
Aron mendes*h nikmat saat jemari Sheva mulai memainkan adik kecilnya.
"Ahk terus sayang." Ucap Aron yang menggila karena kenikmatan.
Beberapa menit Sheva terus memainkan miliknya, dan kini adalah inti dari semua pemanasan mereka sejak tadi.
Aron mulai mengarahkan adik kecilnya ke arah vag*ina Sheva dengan pelan, membuat Sheva berteriak kenikmatan. Aron menatap mata Sheva yang seakan memohon agar ia segera melakukannya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Aron mulai memasukkannya dan memaju mundurkan miliknya, hingga menimbulkan bunyi karena sentuhan kulit Aron dan Sheva.
"Ahh...ahh...ahh.." Desah Sheva yang terus meramas bantal di kepalanya.
"Ahh...ahh...Apa kau menikmatinya sayang." Tanya Aron disela-sela aksinya. Tanpa malu-malu, Sheva menganggukan kepalanya dengan cepat. Aron tersenyum. Itu tandanya adik kecilnya bekerja dengan baik.
Kedua tangan Aron meramas gunung kembar Sheva yang sedari tadi terus menari-nari karena hentakan yang di buatnya.
"Ahh...ahh...
Aron menghentikan aksinya saat melihat air mata Sheva yang keluar dari matanya.
"Apakah sakit ?" Tanya Aron tanpa melepaskan adik kecilnya.
Sheva menggelengkan kepalanya, ia sendiri tidak kenapa ia mengeluarkan air matanya. Namun yang pasti saat ini rasanya nikmat.
"Aku akan berhenti jika kau merasa sakit." Ucap Aron lagi.
Entah apa yang di rasuki Sheva, kini ia menggerakan tangannya pada adik kecil Aron untuk terus melakukannya. Sementara Aron semakin bersemangat saat mendapatkan sinyal dari Sheva untuk melanjutkan aksinya.
Kali ini Aron melakukannya dengan cepat tanpa jedah sama sekali. Sheva terus mendes*h kenikmatan di bawah tubuh Aron. Ia terus menggigit bibirnya berulang kali, dan mencakar punggung Aron. Hingga satu jam lebih mereka berdua selesai olahraga malam dengan Aron yang memuncratkan cairan kentalnya di dalam r*him Sheva.
"Aku mencintaimu." Ucap Sheva yang kini sudah memeluk tubuh Aron.
Sheva dan Aron tertidur tanpa memakai pakaian sama sekali, hanya di tutupi dengan selimut.
-
Cahaya matahari menyinari kamar tidur pasangan suami istri itu yang tampak lelah karena olahraga malam mereka. Tampak Aron terlebih dahulu bangun dari tidurnya. Ia tersenyum sesaat sebelum ia mencium kening dan bibir Sheva.
Beberapa menit kemudian Aron keluar dari dalam kamar mandi. Ia menggeleng kepalanya saat melihat Sheva masih tertidur pulas di atas tempat tidur.
Aron melangkahkan kakinya ke arah Sheva, lalu kembali mencium wanita yang sangat ia cintai, namun gengsi untuk mengatakannya.
"Hey, bangunlah sekarang sudah pagi sayang." Ucap Aron lembut dengan mengelus lembut kepala Sheva.
"Sebentar lagi." Ucap Sheva dengan mata yang masih tertutup.
__ADS_1
"Ayo bangun, kenapa kau jadi pemalas bangun seperti ini ?" Ucap Aron lagi.
"Ah, sebentar lagi sayang aku masih ingin tidur." Protes Sheva dengan wajah yang terlihat menggemaskan menurut Aron.
"Baiklah aku akan turun duluan, jika kau lama maka aku akan berangkat kerja."
Aron kembali mencium kening Sheva sebelum ia pergi untuk mengganti bajunya.
Rutinitas banyak orang di pagi hari yaitu sarapan tidak terkecuali dengan Aron dan Sheva yang kini sudah berada di meja makan.
Sarapan mereka di pagi hari ini cukup simpel yaitu roti dan selai dan susu sebagai pelengkap untuk Sheva sedangkan Aron hanya air putih.
Belum lama mereka sarapan, tiba-tiba Oskar datang dengan wajah paniknya.
"Maaf mengganggu tuan." Ucap Oskar pada Aron dan membuat Sheva merasa bingung.
"Apa kau ingin bergabung untuk sarapan, Oskar ?" Tanya Sheva pada Oskar.
"Tidak nyonya, saya sudah sarapan terimakasih sebelumnya." Ucap Oskar dengan sopan.
"Baiklah, jika besok-besok kau ingin bergabung untuk sarapan, maka bergabung saja karena aku dan Aron akan senang jika ada teman, ia kan sayang ?" Ucap Sheva yang melihat Oskar dan Aron bergantian. Sementara Aron hanya menganggukkan kepalanya.
Aron menatap tajam Oskar, seakan ingin membunuh tangan kanannya itu jika ia mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan mafia di hadapan Sheva saat ini.
Oskar yang mengerti maksud tatapan itu pun segera memundurkan langkahnya dan mengalihkan pembicaraanya agar Sheva tidak curiga.
"Maaf tuan, saya mendapatkan kabar jika rapat anda akan dimajukan jam 9 nanti." Ucap Oskar. Kemudian Aron melihat arloji mewah di pergelangan tangannya sudah pukul 8.
Tbc ... 🌵
Harusnya hari ini upload sampai episode 33 tapi semuanya terhapus jadi author harus nulis ulang 😭
Jangan lupa dukung Author dengan Vote, komen dan like 🙏 Dan sekalian baca novel Author yang lainnya yah jika sempat.
- Cinta Seorang Psycho
- My Boyfriend Is An Idol
__ADS_1
Terimakasih 🙏✌🏿