Die Or Be Mine

Die Or Be Mine
episode 16


__ADS_3

"Bajin*an, dia bahkan menguncinya." Setelah beberapa kali mencobanya tetap saja pintu tersebut tidak bisa terbuka. Dengan kesal Sheva menendang pintu itu beberapa kali tetapi hasilnya tetap sama.


"Berhenti menendangnya, pintu itu tidak akan terbuka." Mendengar suara lelaki yang sangat ia benci membuat Sheva dengan cepat membalikan tubuhnya menghadap Aron.


"Apa kau sudah baikan ?" Tanya Aron dengan santainya berjalan duduk di sofa kamar.


"Menurutmu apa aku baik-baik saja setelah kau lempar ?" Ucap Sheva sinis membuat Aron tersenyum.


"Tapi aku sudah menolongmu." Ucap Aron.


"Kenapa kau tidak biarkan saja aku mati. Kau sudah melemparku dan kau menolongku kembali ? Apa kau waras ?" Ucap Sheva dengan suara yang lantang.


"Aku sudah memperingatkanmu tapi kau sendiri yang terus menerus menyulutkan api." Jawab Aron dengan acuh.


Sheva kembali menatap Aron yang dengan santai menatap dirinya. Hingga sesaat terjadi keheningan di dalam ruangan itu.


"Berhentilah untuk bersikap bodoh yang terus berontak jika kau ingin selamat." Ucap Aron yang tersenyum dan keluar begitu saja meninggalkan Sheva yang hanya diam dengan emosinya.


Di sisi lain Aron sudah berkumpul dengan kedua sahabatnya As Lou dan Bob Kim di dalam ruangan VVIP Club malam. Seperti biasa mereka selalu di temani botol minuman dimana-mana.


"Jadi...kau belum menemukan pria itu ?" Tanya Bob Kim.


"Hm." Aron hanya berdehem dan meneguk whisky di gelas yang ia pegang.


"Apa rencanamu selanjutnya ?" Tanya As Lou.


Aron melihat sekilas kedua sahabatnya itu dan kembali meneguk whisky digelasnya.


"Aku akan mencarinya hingga ketemu ! Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil saham yang kini jatuh ketangannya. Meski yang aku punya diperusahaan itu sangat besar, tapi tetap saja aku ingin menguasai semuanya." Ucap Aron dengan meletakkan gelas whisky yang sudah kosong ke meja dihadapannya.

__ADS_1


As Lou dan Bob Kim hanya menggelengkan kepala melihat sahabat baik mereka itu. Mereka tau jika Aron adalah seorang yang penuh dengan ambisi. Padahal sudah memiliki kekuasaan dimana-mana tapi masih saja belum puas.


"Terserah kau sajalah." Ucap As Lou pasrah.


Tiba-tiba ponsel Aron berdering, dengan cepat ia mengangkat telefon dari tangan kanannya itu yaitu Oskar.


"Hm ada apa ?" Tanya Aron to the point saat mengangkat telefon Oskar.


"Maaf tuan, jika saya mengganggu anda tapi saya ingin mengatakan bahwa kami sudah menemukan pria itu." Ucap Oskar dari seberang telefon yang membuat Aron berdiri dari duduknya.


As Lou dan Bob Kim terkejut melihat Aron yang tiba-tiba berdiri dengan rahang yang mengeras dan tak lupa tangan yang terkepal sempurna.


"Segera kirimkan alamatnya, aku akan segera kesana." Ucap Aron yang langsung mematikan panggilannya sepihak dan berjalan keluar meninggalkan kedua sahabatnya yang hanya terdiam seribu bahasa.


"Benar-benar tidak waras." Ucap Bob Kim yang langsung meneguk whisky di gelasnya.


-


"Maaf tuan Rangga berdoalah agar anda tidak tewas malam ini." Ucap Oskar pada pria yang sekarang di tahan oleh kedua bawahannya itu.


Shit! Kalian orang-orang tidak punya hati, sekuat apapun kalian memaksaku untuk tanda tangan di atas kertas putih sialan itu, aku tidak akan pernah menandatanganinya !" Ucap Rangga dengan raut wajah marahnya.


"Bawa dia ! Kita akan bertemu dengan tuan di parkiran." Ucap Oskar pada bawahannya yang sedang memegang tangan kanan dan kiri Rangga.


Mobil mewah milik Aron sudah terparkir di sana, dengan segera Aron turun dari mobilnya lalu berjalan dengan langkah cepat ke arah Oskar.


Para pengawal membungkukkan badan untuk memberi hormat pada Aron, tidak terkecuali dengan tangan kanannya Oskar.


Tanpa mempedulikan Oskar dan pengawalnya Aron memukul kuat wajah Rangga dengan tangannya yang sedari tadi ia kepal hingga Rangga jatuh tersungkur ke lantai dengan luka di sudut bibirnya.

__ADS_1


Rangga tidak membalas pukulan Aron, ia hanya memberikan senyum liciknya yang membuat Aron semakin emosi.


"Kau berani bersembunyi dariku sial*an !" Ucap Aron geram yang sudah berjongkok hingga tubuhnya sejajar dengan Rangga lalu memukul lelaki itu kembali.


"Kau hanyalah seekor tikus buangan bagiku, jadi jangan berharap kau dapat mengalahkanku." Ucap Aron menepuk pipi kiri Rangga lalu berdiri merapikan jasnya sebelum berkata kembali pada Oskar.


"Oskar bawah dia ke markas dan urus dia." Perintah Aron yang langsung berbalik meninggalkan mereka.


Oskar membukakan pintu dan mempersilahkan Rangga untuk masuk ke dalam ruangan yang tampak sangat gelap tersebut dengan hanya di terangi sebuah lampu kuning redup yang berada tepat di atas kepala Rangga.


Rangga emosi pikirannya sudah sangat kacau, bagaimana tidak ? ia akan memberikan saham yang selama ini sangat di inginkannya, baru setahun ia menikmatinya namun sekarang ia di paksa untuk menyerahkan saham itu kepada Aron.


Walaupun ia tau saham yang ia miliki sekarang tidak seharusnya menjadi miliknya, karena saham tersebut adalah warisan dari ibu kandung Aron yang sudah lama meninggal.


Jika ia tidak menandatangani surat itu maka ia akan mati, tapi jika ia melakukannya apakah Aron tidak akan membunuhnya ? Rangga terus memikirkan hal itu.


Hingga beberapa menit bergulat dengan pikirannya, Rangga akhirnya memutuskan untuk menandatangani surat yang berisikan bahwa ia memberikan sahamnya pada Aron dengan sukarela tanpa paksaan apapun.


Setelah memastikan Rangga sudah menandatangi surat itu, Oskar langsung menghubungi Aron. Entah apa yang dibicarakan Aron padanya hingga ia kembali dan tersenyum pada Rangga lalu memerintahkan pengawalnya untuk membebaskan Rangga dengan catatan harus merelakan salah satu jarinya dipotong.


"Sial*an kau Aron, aku tidak akan memaafkanmu tunggu saja pembalasanku." Teriak Rangga saat ia di lemparkan di tengah jalan yang tampak sepi dan jauh dari kota oleh pengawal Aron.


- AUTHOR POV -


Rangga adalah anak dari Alex Raw adik laki-laki dari ibu kandung Aron jacob yaitu Ane Raw.


Pamannya itu sejak dahulu sangat mengincar warisan sang kakak Ane Raw, seakan warisan sudah menutupi matanya apapun akan dia lakukan untuk mendapatkannya bahkan membunuh kakaknya sendiri.


Namun sebelum mendapatkan keinginannya ia sudah terlebih dahulu ketahuan yang mengakibatkan ia di bunuh oleh geng mafia yang di pimpin oleh Martin Jacob namun sekarang di pimpin oleh anaknya Aron Jacob.

__ADS_1


Martin Jacob membunuh Alex Raw tanpa sepengetahuan sang istri yang merupakan kakak kandung dari Alex Raw. Martin Jacob mengatakan jika adik iparnya kecelakaan dan mengakibatkan ia meninggal dunia.


Jangan lupa beri semangat buat author yah 🤗❤️


__ADS_2