
"Maaf tuan, saya mendapatkan kabar jika rapat anda akan dimajukan jam 9 nanti." Ucap Oskar. Kemudian Aron melihat arloji mewah di pergelangan tangannya sudah pukul 8.
"Aku harus segera pergi sekarang." Ucap Aron pada Sheva saat mengehentikan sarapannya.
"Baiklah, apa kau ingin aku membuatkan bekal makan siang nanti ?" Tanya Sheva menatap Aron.
"Tidak perlu sayang, bukankah kau akan sibuk dengan tanamanmu hari ini." Ucap Aron yang kini memeluk Sheva.
Sebenarnya bukan alasan itu yang membuat Aron menolak dibuatkan bekal oleh Sheva, melainkan karena hari ini akan menjadi hari yang sangat sibuk untuk dirinya, tentu saja karena ia melakukan dua pekerjaan sekaligus.
Aron berjalan keluar dari villa bersama Oskar yang mengikutinya dari belakang. Saat pintu villa tertutup Aron menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya ke belakang menatap Oskar yang kini menundukkan wajahnya kebawah.
"Jangan sampai membuatku membunuhmu Oskar." Ucap Aron sembari menepuk-nepuk pipi Oskar.
"Maafkan saya tuan." Ucap Oskar yang masih dengan posisinya. Bagaimana Aron tidak marah ? kebohongannya hampir saja terbongkar karena Oskar.
"Jangan mengulanginya Oskar." Ucap Aron, kemudian kembali melangkah untuk masuk ke dalam mobil mewah miliknya. Kini Aron sudah berada di dalam mobil bersama sopir pribadinya beserta Oskar dan seorang pengawal.
"Saya baru mendapatkan informasi dari orang suruhan yang mencari tau tentang tuan Matthew. Ternyata nyonya Sheva bukanlah wanita milik tuan Matthew melainkan adik sepupu dari tuan Matthew." Ucap Oskar dengan memberikan tablet yang berisikan informasi tersebut pada Aron.
Aron mengerutkan dahinya, seakan tidak percaya dengan informasinya "Bagaimana bisa ?" Tanya Aron.
"Untuk detailnya belum tau pasti tuan. Tapi saat ini kami sedang berusaha untuk mencari tau." Jawab Oskar.
"Jadi selama ini informasi tentang Sheva adalah salah ?" Tanya Aron.
"Iya tuan." Jawab Oskar dengan ragu-ragu. Ia merasa jantungnya benar-benar akan copot saat ini, bukan karena ia merasa jatuh cinta, melainkan takut akan di habisi oleh Aron. Dalam hatinya ia hanya berdo.a agar tuannya dalam suasana hati yang damai.
Setelah mendengar jawaban dari Oskar, Aron segera memerintahkan untuk terus menyelidiki semua hal tentang keluarga itu.
Setelah memakan waktu yang cukup panjang, kini Aron sudah tiba di perusahaan miliknya, ia berjalan dengan gagah melewati para karyawan yang memberinya salam sejak tadi. Tidak luput dari tatapan nakal seakan ingin memiliki dari wanita-wanita di perusahaannya.
Aron masuk kedalam ruangannya, diikuti dengan Oskar dan salah satu pengawalnya. Baru beberapa saat ia berada didalam ruangan tiba-tiba sekertarisnya mengetuk pintu dan mengatakan jika ada seorang teman yang ingin bertemu dengan dirinya.
__ADS_1
Aron menaikan salah satu alisnya, teman siapa yang pagi-pagi sudah ingin bertemu dengannya. Terlebih lagi hari ini ia sungguh mengosongkan jadwal temu dengan siapa pun karena ia harus segera ke markas.
Tidak ingin memikirnya terlalu banyak Aron segera menyuruh sekertarisnya untuk mempersilahkan tamu tersebut masuk. Aron tersenyum kecut saat melihat siapa yang yang datang menemuinya sepagi ini.
"Wah, suatu kebanggan untukku ketika tuan besar Matthew memutuskan untuk menemuiku terlebih dahulu." Ucap Aron yang masih dengan posisi duduknya memperhatikan Matthew dari atas kepala hingga ke bawah kakinya.
"Brengsek." Ucap Matthew dengan emosi yang ingin melangkah ke arah Aron untuk mengahbisi lelaki itu, namun ia tidak dapat melakukannya karena sudah di tahan terlebih dahulu oleh Oskar dan pengawal Aron.
Aron tersenyum, kemudian berdiri dari duduknya. Ia melangkah ke arah depan meja dan duduk di atas meja kerjanya dengan kedua tangan yang di lipat santai di dadanya.
"Brengsek, kau apakan Sheva sialan ?" Ucap Matthew. Emosinya saat ini benar-benat tidak dapat di kontrol, ingin sekali rasanya ia membunuh Aron.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Sheva ? Sheva siapa ?" Tanya Aron dengan berpura-pura tidak mengenal Sheva.
"Hentikan dramamu sialan ! Aku katakan padamu Aron, jangan pernah kau menyentuhnya walau seujung kuku sekalipun." Ucap Matthew dengan tangan yang di kepal kuat, sedangkan tubuhnya masih ditahan oleh Oskar dan pengawal itu.
Aron kembali tersenyum kemudian menganggukan kepalanya seakan ia mengerti.
"Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tidak menyentuh istriku sendiri man, istri !" Jawab Aron dengan santai namun penuh penekanan disetiap kalimatnya.
"Sialan ! apa yang kau lakukan padanya brengsek."
Bagaimanapun Matthew tau betul jika Sheva tidak mungkin melakukan hal itu.
"Ah benar, kau pasti tidak mengetahuinya jika aku dan adikmu sudah menikah." Jawab Aron dengan santai yang terus-terus memancing kemarahan Matthew.
Sekali tendangan Matthew berhasil melumpuhkan pengawal yang menahannya, Matthew juga memukul wajah Oskar hingga membuat Oskar terjatuh dan berdarah di sudut bibirnya.
Matthew melangkah ke arah Aron dan menarik kerah baju Aron kuat.
"Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita, jadi sebaiknya kau lepaskan dia Aron." Pekik Matthew tepat didepan wajah Aron.
Aron dan Matthew dulunya adalah sahabat sebelum mereka menjadi musuh seperti sekarang ini.
__ADS_1
Aron mendorong Matthew hingga terdorong kebelakang. Aron merapikan kemejanya yang sempat kusut dibuat Matthew. Ia berjalan ke arah sofa lalu duduk disalah satu sofa ruangan itu, dan memberikan perintah melalu tangannya agar Oskar dan pengawal itu tidak mencampuri urusan mereka, sementara Matthew masih dengan posisi berdirinya.
"Aku akan berikan apapun yang kau minta, asalkan kau melepaskannya Aron." Ucap Matthew yang kini sudah putus asa.
Aron tertawa sangat lebar, namun tertawanya itu sungguh penghinaan untuk Matthew.
"Apa kau menyuruhku untuk menjual istriku sendiri ?" Tanya Aron.
"Brengsek, berhenti mengatakan dia adalah istrimu sialan."
"Aku mengatakan yang sebenarnya ! tidak mungkinkan aku memanggilnya pelayan padahal dia adalah istri sah ku." Ucap Aron.
"Aku sungguh minta maaf untuk semuanya, tapi tolong biarkan dia bahagia. Aku tau kau orang seperti apa Aron. Hidupnya sudah cukup menderita jadi jangan membuatnya semakin sulit." Ucap Matthew yang kini sudah duduk disalah satu sofa berhadapan dengan Aron.
"Dia sungguh bahagia saat ini, jadi kau tidak perlu mengurus kehidupannya." Ucap Aron dengan senyum licik.
"Apa kau tau, jika Sheva sungguh membenci seorang mafia ? Aku akan mengatakan padanya siapa kau sebenarnya Aron." Ucap Matthew dengan tegas.
"Lalu bagaimana denganmu ? kakak tersayang yang ternyata seorang mafia juga yang telah membunuh banyak orang." Ucap Aron yang membuat Matthew emosi.
"Jangan mengancamku man, kita berada di posisi yang sama-sama tidak disukai olehnya. Sebaiknya kau keluar dari sini, karena aku akan segera pergi." Lanjut Aron.
"Aku akan membawanya pergi jauh darimu, asal kau tau saja Aron." Ucap Matthew dengan tegas. Sementara Aron hanya mengedikan bahunya dan tersenyum.
Matthew pergi meninggalkan Aron dengan emosi yang meluap dari dalam dirinya. Sementara Aron bergegas menyelesaikan tugasnya sebelum ia pergi ke markas mafia miliknya.
Tbc ... 🌵
Jangan lupa dukung Author dengan Vote, komen dan like 🙏 Dan sekalian baca novel Author yang lainnya yah jika sempat.
- Cinta Seorang Psycho
- My Boyfriend Is An Idol
__ADS_1
Terimakasih 🙏✌🏿