Die Or Be Mine

Die Or Be Mine
episode 25


__ADS_3

Hal itu semakin membuat Matthew yakin jika adiknya benar-benar di culik oleh salah satu musuhnya.


-


Sudah satu minggu berlalu, sudah selama itu juga Matthew masih berada di negara kekuasaan Aron. Ia benar-benar memutuskan akan tetap berada di negara itu jika belum menemukan sang adik.


Selama itu juga mereka tidak mendapatkan petunjuk sama sekali tentang keberadaan Sheva. Tentu saja karena Aron sudah menghapus semua jejak-jejak terakhir dari Sheva.


Rencana satu persatu telah ia jalankan hingga ia rela mengikuti kemanapun Aron pergi, namun hasilnya nihil. Memang tidak mudah untuk mengalahkan seorang Aron.


Dan kini pikiran Matthew semakin liar. Bagaimana jika ternyata Sheva telah dibunuh atau dijual ? itulah pikiran liar Matthew saat ini.


Hingga Sebuah ide konyol terlintas dipikirannya. Yaitu mengirim seorang wanita hamil ke mansion milik Aron, dengan alasan meminta pertanggung jawaban seakan Aron telah menghamili wanita itu dan saat itu mereka akan memulai aksinya.


-


Aron duduk di atas kursi kebesarannya, dengan salah satu kakinya di silangkan. Tidak lupa dengan sebatang rokok yang menyelip di tengah hempitan jarinya. Aron sesekali memejamkan matanya menikmati rasa manis yang berhasil ia hisap dari batang rokoknya.


Belum sempat ia membuang puntung rokoknya, telinganya sudah terlebih dahulu mendengar ketukan dari luar pintu.


Aron menghembuskan napasnya lelah, padahal belum 15 menit ia mengistirahatkan diri, namun sepertinya anak buahnya itu benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.


"Ada apa ?"


Suara Aron terdengar sangat dingin namun tegas. Kalimat tanyanya barusan lebih terdengar seperti kalimat perintah yang tak terbantahkan. Bahkan Aron tidak mempersilahkan sosok di balik pintu itu masuk kedalam ruangannya.


"Ada seorang wanita yang mencari anda tuan." Terdengar sedikit pelan dengan suara yang bergetar, sepertinya sosok di balik pintu itu sangat berhati-hati dengan ucapannya, takut jika malah menaikan emosi Aron.


Aron mengerutkan dahinya ketika telinganya menangkap kata wanita. Seingatnya ia tidak pernah berhubungan dengan wanita lain selain Sheva. Lalu siapa wanita yang di maksud anak buahnya.


"Seorang wanita ?"


Lagi-lagi Aron bersuara dingin, dua kata yang keluar dari mulutnya seakan menuntut penjelasan sepenuhnya dari anak buahnya.


"Kami tidak tau dia siapa tuan, yang saya tau dia ingin menemui anda."


"Suruh pergi dari sini." Suara Aron dengan tegas menggambarkan wibawa yang sesungguhnya.


"Kami sudah menyuruhmu untuk pergi tuan, tapi dia bersikeras ingin menemui anda."


"Shit." Aron mengumpat dengan keras. Bagaimana mungkin seorang wanita ingin menemuinya ? Siapa wanita yang dimaksud anak buahnya ? Bahkan jala*g sekalipun tidak akan berani masuk kedalam mansion miliknya.


"Usir dia." Suara Aron menggema di ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Baik tuan." Jawab anak buahnya.


Tidak lama anak buahnya kembali menemui Aron di ruang kerja dengan perasaan yang ketakutan.


"Maaf tuan tapi wanita itu..."


"Sudah ku bilang usir dia." Potong Aron.


"Tapi tuan..."


"Apa kau sudah bosan hidup ?" Ucap Aron yang mulai emosi.


"Maaf tuan, tapi wanita itu sedang mengandung."


"Lalu apa kau pikir aku peduli hah ?!"


BRAK..


Aron menggebrak meja di hadapannya dengan kasar. Ia rasa jika benar anak buahnya itu sudah bosan hidup hingga tak bisa lagi ia andalkan. Apalagi Aron hanya menyuruhnya untuk mengusir seorang wanita. Lalu bagaimana jika Aron menyuruhnya membunuh para ketua geng mafia, bisa ia pastikan jika anak buahnya hanya akan mempermalukan dirinya.


"Tapi masalahnya wanita itu mengatakan ia sedang mengandung anak tuan."


Mata Aron membulat seketika, bagaimana mungkin seorang wanita dengan beraninya datang ke mansion miliknya dan mengatakan sedang mengandung anaknya. Apa dia wanita gila ? karena seingatnya ia tidak bernah menanam benih pada wanita lain selain Sheva.


Aron memilih membuang batang rokoknya kemudian menginjaknya secara asal. Ah, sebenarnya terlihat sayang jika sepatu mewah miliknya harus menginjak rokok yang masih berapi itu. Padahal sepatu itu cukup untuk hidup golongan menengah selama sebulan penuh.


Aron membuka pintu dengan kasar, matanya menatap tajam sosok yang kini tengah menunduk di hadapannya. Kemudian melangkahkan kakinya melewati anak buah yang tidak becusnya itu.


Aron masuk kedalam ruangan pribadinya, semua pengawal rumah menundukan badannya seraya mempersilahkan Aron untuk lewat.


Aron menaikkan salah satu alisnya saat matanya melihat sosok wanita di hadapannya dengan penampilan sederhana dan perut buncitnya.


"Aku mohon tuan bertanggung jawab, karena ini adalah anak tuan." Ucap wanita itu dengan polos.


Aron tersenyum mengejek kearah perempuan di hadapannya. Apa wanita itu berniat menjebaknya ? tapi mengapa caranya sungguh kampungan seperti ini.


"Berapa yang kau mau ?" Tanya Aron.


"Apa maksud anda."


"Berapa uang yang kau butuhkan." Ucap Aron memperjelas perkataannya.


Aron menyimpulkan bahwa wanita di hadapannya adalah wanita yang sama dengan perempuan-perempuan lainnya yang menggilai hartanya.

__ADS_1


"Kenapa anda berpikir seperti itu ?" Tanya wanita itu.


"Sudahi saja dramamu, aku bahkan tidak ingat pernah tidur dengan wanita lain selain dengan wanitaku sendiri." Ucap Aron dengan senyum sinisnya.


"Tapi ini benar-benar anak anda tuan." Ucap wanita itu tidak mau kalah namun dalam hatinya merasa sangat ketakutan.


"Berhenti berkhayal dan pergilah dari sini sebelum aku membuatmu sengasara seumur hidup." Aron kini melangkah meninggalkan wanita itu dan kembali keruangan kerjanya.


Wanita itu tampak terus memperhatikan sekeliling seakan mencari sesuatu disana.


Sementara di telinganya terdengar perintah untuk melanjutkan aksi berikutnya, yaitu memasang penyedap suara dan kamera di berbagai ruangan yang memungkinkan.


Dan kini beberapa kamera telah ia pasang di beberapa tempat tanpa ketahuan oleh para pengawal.


Wanita itu melangkahkan kakinya keluar dari mansion dengan perut buncit palsunya. Perasaannya lega saat dirinya berhasil keluar hidup-hidup dari kandang singa itu. Sementara dari atas jendela mansion Sheva memperhatikan wanita itu dengan penuh tanya.


Sementara di markas besar milik Matthew, dirinya tersenyum saat mengetahui rencana awalnya berhasil, setidaknya ini dapat membantu dirinya untuk memastikan jika Sheva memang berada di mansion milik Aron.


Baru beberapa saat Matthew merasa bahagia tiba-tiba ia di kagetkan oleh suara panggilan dari anak buahnya.


"Ada apa ?" Tanya Matthew.


Salah satu anak buahnya menunjukan ke salah satu monitor dimana disana terdapat wajah Aron yang tersenyum lebar pada kamera.


Saat itu juga Matthew merasa ia sungguh di permainkan oleh Aron. Brengsek itu sudah mengetahui rencananya tapi berpura-pura seakan ia tidak tau apa-apa.


Perasaannya terasa kacau, bagaimana jika terjadi sesuatu pada adiknya, apa lagi ia mengetahui Aron adalah laki-laki paling kejam. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana Aron terus menghukum Sheva.


-


Aron tersenyum penuh kemenangan saat ini. Apa lagi ia baru saja mengetahui jika ternyata tujuan Matthew datang kembali ke negaranya karena untuk mencari seorang wanita.


"Dia sungguh di buat lemah oleh seorang wanita." Desis Aron saat mendengar laporan dari Oskar di seberang telefon.


"Perintahkan orang untuk terus memantau gerak geriknya Oskar." Perintah Aron dengan bibir yang tersenyum licik.


"Baik tuan." Jawab Oskar dengan sopan lalu memutuskan panggilannya.


Tbc ... 🌵


Jangan lupa dukung Author dengan Vote, komen dan like 🙏 Dan sekalian baca novel Author yang lainnya yah jika sempat.


- Cinta Seorang Psycho

__ADS_1


- My Boyfriend Is An Idol


Terimakasih 🙏✌🏿


__ADS_2