Die Or Be Mine

Die Or Be Mine
episode 14


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini ?" Tanya Sheva dengan ketus saat posisi duduknya sudah di rasanya aman.


Sedangkan Aron hanya mengedikan bahunya sebelum kembali mengisap rokoknya lalu mematikannya di asbak yang berada di meja depannya.


"Aku sudah menyuruhmu masuk kedalam kamarmu, kenapa kau tidak masuk?" Ucap Aron yang menyilang kakinya di ikuti menyilang kedua tangannya.


Sheva tertawa sinis saat mendengar ucapan Aron.


"Ada orang yang akan mati lalu aku hanya akan berdiam diri dikamar ?"


Aron mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan Sheva. Lebih tepatnya menyindir dirinya.


"Dia menyebutmu pe*acur, apa kau suka dengan sebutan itu ?"


Sheva melemparkan tatapan sengitnya saat mendengar perkataan lelaki di hadapannya. Dia pikir perempuan mana yang akan senang jika di sebut sebagai pe*acur ? Bahkan pe*acur yang sebenarnya tidak akan menyukai sebutan itu.


"Dia hanya seorang wanita yang sedang m*buk." Ucap Sheva.


Cukup lama Aron hanya terdiam menatap Sheva tanpa mengatakan apapun, membiarkan ruangan itu hening sesaat.


Sheva melirik Aron yang yang menatapnya dalam diam dengan intens tanpa mengetahui pikiran lelaki kejam itu.


"Kau benar-benar perempuan bodoh." Desis Aron sebelum beranjak dari duduknya.


Sedangkan Sheva yang mendengar hal tersebut hanya memejamkan matanya. Berusaha untuk meredakan amarahnya. Membiarkan lelaki itu pergi dengan tenang hingga sebuah suara kembali masuk ke dalam indra pendengarannya.


"Kau sebaiknya berlari ke halaman belakang, sepertinya gadis muda itu sudah tidak bisa bertahan lagi."


-


Segala barang yang dapat di jangkau oleh tangan mungil Sheva di lemparkannya ke arah Aron yang hanya diam tidak menghindari lemparan tersebut.


Sheva semakin murka saat melihat Aron tidak menunjukan rasa sakitnya sama sekali akibat barang-barang yang di lemparnya.

__ADS_1


Aron hanya berdiri diam dengan wajah yang datar juga tangan yang di masukkannya kedalam kedua saku celananya.


"******** ! KAU YANG SEHARUSNYA MATI !" Teriak Sheva dengan murka. Tangannya mulai merambat mengambil vas bunga dari guci yang cukup besar untuk di lemparkan pada Aron.


Aron memberi kode pada Oskar untuk tidak melangkah maju saat Sheva mulai melemparnya dengan vas bunga guci yang berukuran cukup besar tersebut.


Keadaan kamar milik Sheva saat ini sangat mirip dengan kapal pecah. Banyak barang berhamburan dimana-mana, pecahan kaca di mana-mana, begitu juga dengan bantal yang seharusnya berada di atas ranjang kini sudah berada di lantai.


Sheva bahkan tidak mempedulikan delapan orang pengawal yang sedari tadi menatapnya, saat Sheva memaki-maki lelaki di depannya.


Karena bagi Sheva berkata kasar pada orang lain adalah salah satu tindakan yang tidak baik dan tidak pantas, tapi berbeda saat berhadapan dengan Aron. Ia menepis semua prinsip yang sejak dulu di dapatnya dari kedua orang tuannya itu. Sheva merasa berkata kasar pada Aron adalah hal yang pantas.


Sheva semakin emosi saat Aron tidak merasakan sakit sama sekali saat Sheva melemparnya dengan vas bunga itu.


Sheva mencari benda-benda lain yang akan di lemparnya pada Aron, tapi sialnya ia tidak menemukan benda-benda tersebut.


Sheva semakin frustasi,dan terus berteriak memaki Aron, hingga napasnya memburuh karena terus berteriak.


Suara napas Sheva berubah menjadi suara tangisan yang pecah membuat orang yang melihatnya sedikit keheranan.


"Kenapa ? kenapa kau membunuhnya, dia tidak bersalah. Bagaimana bisa kau membunuh seseorang dengan mudahnya saat orang lain bahkan berpikir dua kali untuk melakukannya."


Sheva memukul-mukul dadanya yang terasa penuh membuatnya sesak. Rasa bersalah yang memenuhi dirinya membuat Sheva semakin keras memukul dadanya.


"Kau bahkan sudah membunuh orang yang baik yang sudah menolongku, membuatku merasa sesak mengingatnya dan kau menambah rasa sesak itu kembali menjadi dua kali lipat."


Hingga suara langkah sepatu terdengar mendekat ke arah Sheva dan tepat berhenti di depannya.


Sheva tidak memberontak saat sebuah tangan besar yang terasa kasar menarik dagunya kuat hingga membuat mendongak menatap mata coklat milik Aron.


Dan mata yang sama sekali tidak menunjukan sisi kemanusiaan dari segi manapun tersebut juga menatapnya tajam.


"Kau yang melakukannya." Cengkaraman tangan Aron di dagu Sheva semakin menguat membuat Sheva meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Saat aku menyuruhmu masuk kedalam kamarmu harusnya kau masuk." Desisnya sebelum melepaskan cengkaramannya yang kasar.


"Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang kau perbuat. Aku sudah memperingatkanmu tapi kau sendiri yang melanggarnya." Sambung Aron yang kembali berdiri tegak. "Kau sendiri yang menyirami dirimu dengan bensin, jadi jangan salahkan orang lain saat api mulai menyerangmu."


Sheva yang sedari tadi hanya diam dengan mengepal kedua tangannya saat mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Aron padanya. Menghapus air matanya Sheva kembali berdiri dari duduknya lalu melangkah mundur dengan mata yang bernai menatap mata Aron.


Sheva membasahi tenggorokannya dengan air ludahnya sebelum membuka suaranya.


"Sekarang aku tau kenapa wanita itu menyebutmu sebagai d*rah kotor." Sheva benar - benar menyulut api. "Karena setiap kata yang keluar dari mulutmu itu kotor membuat semua orang merasa jijik mendengarnya !"


Dan saat Sheva berhasil menyulut api tersebut, dengan cepat Api tersebut merambat ke arahnya mencoba membakarnya.


Aron berjalan mendekati Sheva yang bahkan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya seinci pun.


Aron tidak bisa memungkiri bahwa wanita yang di bawanya ke dalam mansionnya ini adalah seorang yang dengan mudahnya menyulut emosinya melalui mulut manis tersebut.


Sheva menelan ludahnya saat dengan kuat Aron mencengkram kedua bahunya lalu mendorongnya mundur hingga ke ujung batas balkon kamar. Membuat punggung Sheva menabrak pembatas balkon tersebut dengan keras, yang membuatnya meringis kesakitan di area punggungnya.


"Ulangi." Desis Aron di depan wajah Sheva dengan rahang yang mengeras dan mata yang berkilat marah.


Dengan tersenyum sinis Sheva menahan rasa sakit yang berada di pundaknya yang akan meninggalkan bekas "Kau tidak mendengarnya ? kau menjijikan ! kau bahkan lebih menjijikan di bandingkan sampah manapun yang berada di dunia ini."


"Tarik ucapanmu sebelum aku melemparmu kebawah."


Sheva tanpa sadar melirik sedikit kebawah dan tidak memungkiri bahwa rasa takut menyelimutinya. Di bawah terdapat kolam renang yang akan menjadi tempat terakhirnya untuk bernapas. Sheva yakin itu saat melihat wajah Aron yang tampak sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Kau adalah sampah yang bahkan tidak bisa di daur ulang."


Byurr...


Kalimat itu menjadi kalimat terakhir bagi Sheva saat Aron tidak bisa mengendalikan emosinya dan melempar Sheva dari atas balkon kamar tersebut. Membuat pengawal yang melihatnya sedikit tersentak kaget saat Aron melempar wanita tersebut tanpa belas kasihan.


Mereka berpikir wanita tersebut berarti bagi tuannya tapi, sepertinya tidak saat melihat Aron melemparnya dari atas balkon tanpa gentar.

__ADS_1


Tbc ... 🌵


__ADS_2