Die Or Be Mine

Die Or Be Mine
episode 27


__ADS_3

"Aku memang brengsek, tapi aku masih waras untuk tidak melakukannya dengan sembarang wanita." Ucap Aron pada Sheva yang kini sudah berada di dalam pelukannya.


"Wah kau sungguh pembohong yang handal, aku tidak menyangka kau akan mengatakan itu." Ucap Sheva mendorong Aron untuk melepaskan pelukannya.


"Jangan membuatku marah Sheva, sebaiknya kau istirahat karena besok adalah hari yang istimewa untuk kita."


"Apa maksudmu ?" Tanya Sheva yang tampak bingung dengan ucapa Aron padanya.


Aron tersenyum pada Sheva sebelum ia beranjak ke atas ranjang milik Sheva.


"Kau akan segera mengetahuinya besok, jadi kemari dan segera istirahat."


"Kau tidak akan membunuhku kan ?" Tanya Sheva dengan wajah gugupnya.


"Bagaimana kau akan menjadi istriku jika aku membunuhmu." Ucap Aron dengan menggelengkan kepalanya.


"Cepatlah kemari, aku ingin istirahat." Perintah Aron pada Sheva yang kini masih berdiri melamun di hadapannya.


"Tidur saja jika kau ingin. Aku belum mengantuk."


"Aku tidak akan mengulang kata-kataku. Kemari sebelum aku melakukan sesuatu padamu malam ini."


"Ah menyebalkan, berhenti mengancamku." Sheva menatap Aron dengan tatapan tajamnya saat Aron menepuk tempat tidur disisinya mengisyaratkan pada Sheva untuk tidur disisinya.


Sheva manarik selimutnya hingga keatas menutupi semua tubuhnya seakan memberi tau Aron jika ia tidak ingin disentuh oleh pria itu. Aron yang melihat tingkah Sheva pun mengerutkan keningnya.


"Apa kau ingin mati ?" Tanya Aron dengan datar.


Mendengar ucapan Aron yang menanyakan jika dirinya ingin mati, membuat Sheva kaget dan bangun dari posisi baringnya menjadi duduk lalu menatap Aron dengan penuh tanya.


"Kau ingin mati dengan cara menutupi seluruh tubuhmu menggunakan selimut ini ?" Tanya Aron yang masih dengan posisi baring.

__ADS_1


"Gunakan selimut dengan sewajarnya." Setelah mengucapkan kalimat itu Aron segera membalikkan badannya membelakangi Sheva.


"Menyebalkan." Gerutu Sheva pada Aron. Kemudian ia kembali tertidur. Kali ini dengan selimut yang menutupi hingga bagian dadanya.


Waktu sudah tengah malam. Sheva sudah terlelap sedari tadi, mungkin sekarang ia sedang berkelana di dunia mimpinya. Sedangkan Aron sama sekali tidak bisa tidur. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Hingga ia di kahetkan dengan ponselnya yang berdering.


Aron mengibas selimut pelan, karena takut membangunkan Sheva. Aron melihat panggilan itu ternyata dari Oskar, orang kepercayaannya. Ia melangkah ke arah balkon lalu menutupi pintu kearah balkon dengan pelan. Aron sengaja menutup pintu balkon agar ia lebih leluasa berbicara dengan Oskar.


"Katakan." Ucap Aron dengan tegas saat panggilannya terhubung.


"Maaf tuan sudah mengganggu anda. Saya mendapatkan informasi jika tuan Matthew akan menemui anda di mansion besok pagi."


Aron mengerutkan keningnya. Kenapa dia sangat berani untuk datang ke mansion ? padahal selama ini ia selalu bersembunyi entah dimana. Pikir Aron.


"Kenapa ?" Tanya Aron pada Oskar. Sesaat Aron menatap ke arah Sheva yang tertidur.


"Saya tidak tau pasti tuan, yang jelas ia ingin berdamai." Jawab Oskar.


"Baik tuan." Setelah memastikan Oskar mengerti ucapannya, Aron segera memutuskan panggilannya.


Ia kembali melangkah ke kamar, sesaat ia menatap Sheva lalu beranjak ke kamar miliknya dan meninggalkan Sheva yang tertidur pulsa. Aron berencana akan membawa Sheva ke villa malam ini. Karena jika ia tidak melakukannya maka usahanya untuk memiliki Sheva selama ini tidak akan terwujud.


Aron membawa beberapa pistol untuk berjaga-jaga melindungi dirinya sebelum Ia kembali ke kamar Sheva. Aron melangkah dengan pelan ke arah tempat tidur lalu mencium kening Sheva lembut. Kemudian dengan perlahan-lahan Aron mengubah posisi Sheva yang sebelumnya tidur di atas tempat tidur kini berada di kedua tangannya.


Aron menggendong Sheva dengan hati-hati, karena takut jika Sheva terbangun dari tidurnya kemudian mengamuk. Di halaman mansion sopir dan beberapa pengawal telah siap-siap untuk berangkat. Mereka hanya tinggal menunggu Aron.


Kini Aron sudah berada di dalam mobil, ia duduk di kursi belakang dengan memangku kepala Sheva. Sedangkan Sheva gadis itu tertidur sangat nyenyak hingga membuatnya tidak sadar jika Aron akan membawanya ke villa. Aron memerintahkan pada sopirnya untuk segera berangkat.


Di dalam mobil hitam itu bukan hanya mereka bertiga melainkan ada seorang pengawal yang ikut bersama mereka. Mobil Aron sudah terlebih dahulu kemudian di ikuti dengan dua mobil para pengawal di belakangnya. Baru beberapa menit mereka berlalu tiba-tiba bunyi tembakan bergema di indra pendengaran mereka.


"Sial." Pekik Aron saat mengetahui jika musuhnya sedang mengejarnya. Dengan cepat ia mengeluarkan pistol yang disembunyikannya di balik jas hitam miliknya.

__ADS_1


Mendengar suara tembakan yang keras membuat Sheva kaget dan bangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya dengan mata sayup-sayup. Bukannya tadi ia berada di kamar ? kenapa bisa berada di mobil ? dan ini kenapa Aron dan pengawalnya memegang pistol ?. Pikir Sheva.


Belum selesai Sheva dengan pikirannya tiba-tiba bunyi tembakan kembali terdengar, mengenai kaca spion mobil yang di tumpangi mereka.


"Ah." Teriak Sheva. Aron yang kini sadar di sampingnya ada Sheva pun segera menarik Sheva kedalam pelukannya.


Kini bukan kaca spion yang tertembak melainkan kaca mobil belakang. Sheva kembali teriak, bagaimana tidak ? ini adalah pengalaman pertama yang mengerikan baginya. Berada di dalam mobil tengah malam dan di tembak oleh musuh.


Aron merangkul Sheva untuk tunduk bersamanya agar tidak terkena tembakan. Ia membuka jasnya lalu menutupi kepala Sheva.


"Tetaplah dengan posisi seperti ini." Ucap Aron pada Sheva yang tampak sudah menangis. Kemudian Aron membuka kaca mobilnya lalu mulai menembaki musuhnya.


Sedangkan para pengawal yang berada di mobil belakang tampak sudah terluka karena tembakan, namun mereka juga sudah menghabisi sebagian musuhnya.


Sheva tampak gugup dan ketakutan, ia terus menangis namun tidak mengeluarkan suaranya. Tubuhnya kini sudah basah kuyup karena keringat dan tidak melepaskan pegangannya dari kemeja Aron. Aron yang merasa risi karena tidak dapat bergerak dengan leluasa pun kembali menatap Sheva dan memegangi pundak gadis itu.


"Sayang dengarkan aku ! aku tidak akan bisa menghabisi mereka jika kau terus memegang kemejaku seperti ini. Kembali ke posisi seperti tadi dan segera menutup mata dan telingamu oke." Ucap Aron dengan lembut padanya. Ia tidak akan memarahi Sheva karena ia tau jika ini adalah kali pertama baginya.


Sheva menatap Aron lalu menggeleng kepalanya kuat, seakan tidak ingin jauh dari Aron.


"Aku mohon dengarkan aku." Ucap Aron dengan wajah memohonnya. Membuat Sheva perlahan mengikuti perintahnya.


Aron dan para pengawalnya terus melakukan penembakan pada musuhnya. Beberapa dari pengawal Aron terluka begitu juga dengan musuhnya. Beberapa menit kemudian terdengar tembakan dari arah lain yang terus menembaki musuh dari Aron.


Tbc ... 🌵


Jangan lupa dukung Author dengan Vote, komen dan like 🙏 Dan sekalian baca novel Author yang lainnya yah jika sempat.


- Cinta Seorang Psycho


- My Boyfriend Is An Idol

__ADS_1


Terimakasih 🙏✌🏿


__ADS_2