Die Or Be Mine

Die Or Be Mine
episode 32


__ADS_3

Matthew pergi meninggalkan Aron dengan emosi yang meluap dari dalam dirinya. Sementara Aron bergegas menyelesaikan tugasnya sebelum ia pergi ke markas mafia miliknya.


Disisi lain Sheva sangat bersemangat untuk melakukan aktivitasnya menanam bunga. Tampak beberapa pelayan ikut menemaninya untuk menanam bunga di sekitar villa.


Sheva merasa sangat bahagia, setidaknya ia bisa menyibukkan dirinya dengan menanam bunga-bunga tersebut.


Di villa milik Aron yang ia tempati sekarang sangat jauh dari perkotaan, jarak antara villa ke villa yang lainnya juga sangat jauh.


Waktu sudah larut, kini Aron sudah menuju ke markas besarnya untuk melakukan transaksi dengan seorang turis disana. Turis orang spanyol tersebut merupakan seorang ketua mafia juga.


Aron memerintahkan semua pengawalnya untuk berjaga dan terus memantau keadaan di sekitar markas agar tidak terjadi sesuatu yang dapat menggagalkan rencana besarnya.


Transaksi kali ini adalah transaksi yang menurutnya sangat besar karena mereka akan mendapatkan uang senilai 5 triliun untuk penjualan senjata api mereka. Bukan hanya satu dua yang terjual melainkan 30 buah senjata api dengan kualitas yang terbaik. Hingga beberapa jam kemudian Aron sudah selesai melakukan transaksinya dan waktu pun sudah sangat larut.


Ia baru saja tiba di villanya, sebelum ia turun dari mobilnya Aron sudah mengganti pakaiannya terlebih dahulu agar tidak ketahuan oleh Sheva.


Aron melangkah masuk ke dalam villa dengan pengawal dan pelayan yang menyambut kedatangannya.


"Diaman nyonya ?" Tanya Aron pada salah satu pelayan wanita.


"Nyonya sedang berada di kamar tuan." Jawab pelayan itu dengan takut-takut.


Aron melangkahkan kakinya kearah kamar, membuka pintu dengan perlahan kemudian menutupnya kembali. Aron melihat ke arah tempat tidur dan mendapati Sheva yang sedang duduk sembari membaca buku di tangannya tanpa menghiraukan kedatangan Aron.


"Apa buku itu lebih penting dari pada kehadiranku, hingga kau sama sekali tidak menyambut ku ?" Ucap Aron yang melangkah ke arah Sheva.


Sheva meletakkan bukunya lalu turun dari tempat tidur dan berdiri di hadapan Aron dengan tersenyum.


"Selamat datang suamiku." Ucap Sheva yang tampak sudah memeluk Aron dengan semangat. Aron pun membalas pelukan Sheva dengan lembut.


"Apa kau lelah ?" Tanya Sheva.


"Tentu saja sayang, aku sudah bekerja seharian." Ucap Aron. Aron melepaskan pelukkannya dari Sheva, kemudian membuka kemejanya dan memberikannya pada Sheva.


"Aku bisa membantumu bekerja, jika kau tidak melarangku." Ucap Sheva sambil meletakkan kemeja Aron di atas kursi riasnya.


"Aku masih sanggup menghidupi mu jadi kau tidak perlu bersusah payah untuk bekerja." Jawab Aron yang membuat Sheva tersenyum.


"Aku sudah menyiapkan air hangat jika kau ingin mandi." Ucap Sheva.

__ADS_1


"Ia baiklah aku akan mandi sekarang."


Aron masuk kedalam kamar mandi, tidak lama ponsel miliknya berdering. Sheva yang melihat itu pun tanpa ragu mengangkat panggilan karena yang menelefon adalah Oskar.


"Maaf tuan...."


"Ini aku, Aron sedang mandi." Potong Sheva.


"Maaf nyonya, saya mengira jika tuan yang menerima panggilan."


"Tidak masalah. Apa terjadi sesuatu kenapa menelfon selarut ini Oskar ?" Tanya Sheva dengan suara lembutnya.


"Oh tidak nyonya ini hanya masalah pekerjaan, saya akan mengatakan langsung pada tuan besok pagi." Jawab Oskar.


"Baiklah Oskar, selamat malam." Setelah mengatakan itu Sheva memutuskan panggilannya. Ia kembali duduk di atas ranjang dengan membaca buku di tangannya.


Sesaat kemudian Aron keluar dari dalam kamar mandi, dengan memakai piyamanya. Rambut yang basah semakin menambah kegantengannya.


"Tadi Oskar menelfon." Ucap Sheva saat melihat Aron yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aron mengerutkan dahinya, menunggu lanjutan dari kata-kata Sheva.


"Dia mengatakan ada masalah pekerjaan, tapi karena sudah larut jadi ia memutuskan untuk mengatakannya besok." Ucap Sheva sambil meletakkan buku yang ia baca di atas meja samping tempat tidur. Sementara Aron menarik napasnya lega, karena Oskar tidak mengatakan sesuatu yang aneh.


Kini Aron sudah mengganti bajunya dengan baju tidurnya, lalu tertidur di samping Sheva.


Pukul 2 dini hari, ponsel Aron kembali berdering, dan ternyata Oskar yang menelefonnya.


Aron mengibas selimutnya pelan, lalu turun dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi. Ia menghidupkan keran airnya agar pembicaraannya dengan Oskar tidak terdengar oleh Sheva.


Tanpa ia sadari, Sheva sudah terbangun sejak mendengar ponsel milik Aron berdering. Sheva melangkah kakinya ke arah kamar mandi dengan hati-hati. Ia berniat untuk menguping pembicaraan Aron namun sia-sia karena Aron menyetel keran airnya sangt besar.


Mendengar Aron telah mematikan keran air, Sheva segera berlari kearah tempat tidur dan berpura-pura tidur.


Melihat Sheva tertidur pulas membuat Aron merasa aman dan tidak terancam untuk saat ini. Karena jika Sheva membuka matanya maka Aron tidak akan bisa keluar malam ini.


Aron berjalan keluar kamar dengan pelan, dan ternyata Oskar sudah menunggunya di depan kamarnya.


"Dimana dia ?" Tanya Aron saat berjalan menuruni anak tangga.


"Dia di ruangan biasa tuan." Jawab Oskar.

__ADS_1


Aron berjalan dengan langkah cepat diikuti dengan Oskar di belakangnya. Saat tiba di tempat tujuannya beberapa pengawal membukakan pintu untuknya masuk.


Aron berjalan kearah lelaki yang sedikit lagi akan kehilangan nyawanya itu karena terus disiksa sedari tadi oleh para pengawal.


"Kau menghancurkan malam indahku brengsek." Ucap Aron dengan menginjak kepala lelaki itu.


"Tidak bisakah kau melihat aku menikmatinya terlebih dahulu baru menyerangku ?" Ucap Oskar dengan tertawa mengejeknya.


Lelaki yang berlumuran sarah itu hanya terus memohon ampun padanya untuk di lepaskan. Namun bukan Aron namanya jika tidak menempati janjinya untuk membunuh orang yang telah merusak malam indahnya dengan Sheva beberapa minggu yang lalu.


Aron memerintahkan salah satu pengawal untuk mengambil besi yang telah dipanaskan sejak tadi.


"Sebelum aku membunuhmu dengan mengerikan, sebaiknya kau katakan dimana brengsek itu berada ?" Tanya Aron yang sudah memegang besi panas di tangannya. Sementara lelaki itu terus menggelengkan kepalanya.


"Kau akan tetap mati ! Hanya saja, jika kau mengatakan keberadaannya maka aku akan membuatmu mati dengan baik-baik, namun jika kau tidak memberitahuku maka aku akan menghabisi mu dengan cara yang mengerikan." Ucap Aron.


Sementara disisi lain, Sheva terus mencari keberadaan Aron.


"Pergi kemana dia." Ucap Sheva dalam hati.


Hingga ia menemukan Aron yang tengah mengambil minum dari dalam kulkas.


Aron membalikkan badannya dan mendapati Sheva yang berdiri di belakangnya dengan wajah pucat.


"Hey, kenapa kau bangun." Tanya Aron memeluk Sheva.


"Ah..aku..aku kehausan jadi aku turun untuk mengambil minum."


Tbc ... 🌵


BERI AUTHOR VOTE YAH TEMAN-TEMAN DAN JANGAN LUPA UNTUK LIKE DAN KOMEN 🙏


Sekalian baca novel Author yang lainnya yah jika sempat.


- Cinta Seorang Psycho


- My Boyfriend Is An Idol


Terimakasih 🙏✌🏿

__ADS_1


__ADS_2