Die Or Be Mine

Die Or Be Mine
episode 24


__ADS_3

Rayhan yang sudah mengerti ucapan kakaknya pun membereskan semua barang-barangnya untuk kembali ke negara asalnya.


Sebelum itu Rayhan sudah diperintahkan oleh Matthew jika ia kembali ke rumah besarnya maka ia harus mengatakan jika Nini baik-baik saja. Jika tidak maka kepalanya dan Matthew benar-benar akan hilang dibuat Daddynya.


Sementara Matthew terus merasa frustasi setelah mendengar ucapa Rayhan yang mengatakan jika adik sepupunya telah menghilang.


Ia terus mengutuk dirinya karena setuju begitu saja membiarkan Nini tinggal sendirian. Dan apapun alasannya jika terjadi sesuatu pada adik sepupu kesayangannya ia tidak akan memaafkan dirinya.


Nini adalah panggilan kesayangan Sheva dari keluarga dekatnya. Tidak ada orang luar yang tau nama panggilan itu selain keluarganya. Matthew, Sheva dan Rayhan tumbuh bersama sejak kecil karena bagaimanapun Daddy Matthew adalah kakak dari Anastasya Blen ibu kandung Sheva.


-


Hingga Keesokkan harinya Matthew memutuskan untuk mencari adik sepupunya itu di negara seberang.


Baru saja ia tiba di bandara semua orangnya sudah berkumpul untuk memberi hormat padanya. Matthew berusaha agar jejak kedatangannya tidak sampai ke telinga Aron.


Namun sayang usahanya sia-sia karena orang yang berada di bawah kekuasaan Aron berhamburan dimana-mana, membuatnya mengetahui dengan cepat jika Matthew tiba di wilayah kekuasaannya.


Dalam pikiran Aron saat ini adalah membunuh Matthew terlebih dahulu sebelum ia di bunuh. Aron berpikir jika Matthew masih mengincar kedudukannya sebagai bos mafia, namun ia salah besar. Karena sejak Matthew memutuskan untuk pindah negara saat itu juga ia melepaskan tujuannya. Walaupun bisnis mafianya masih tetap berjalan.


Matthew segera meluncur ke mansion mewah miliknya bersama beberapa orang kepercayaannya. Hingga tibalah mereka di salah satu ruangan mewah milik Matthew dengan berbagai koleksi senjata miliknya.


Sejak tiba di mansion ia benar-benar tidak mengistirahatkan dirinya sama sekali. Segera ia memerintahkan orangnya untuk mengawasi gerak gerik dari beberapa musuhnya yang salah satunya adalah Aron.


-


Sementara di sisi lain, Aron tampak tersenyum licik saat mengetahui jika Matthew musuh besarnya baru saja tiba dari luar negeri.


"Akan ada pertunjukan menarik sekarang." Ucapnya pada Oskar yang berdiri di hadapannya.


"Dia bahkan menyusun rencana untuk mengawasi gerak-gerik dari beberapa geng mafia tuan." Ucap Oskar.


"Cari tau apa yang membuatnya sefrustasi itu Oskar." Ucap Aron dengan salah satu tangan yang terus memainkan pulpen.


Setelah mendengar perintah tuannya, Oskar memutuskan untuk keluar dari dalam ruang kerja Aron yang membuatnya sesak itu.

__ADS_1


"Kali ini kau akan mati brengsek." Ucap Aron dalam hati.


Sheva merasa sangat bosan saat ini, jadi ia memutuskan untuk mencari udara disekitar halaman mansion besar itu seorang diri.


Semua pelayan sibuk menyiapkan makan malam, sedangkan Aron masih sibuk dengan kerjaannya di ruang kerja miliknya.


Sheva duduk di salah satu bangku taman itu, memperhatikan langit yang sudah mulai gelap dengan senyum yang menyedihkan.


Bahkan setelah kejadian beberapa tahun lalu yang membuatnya kehilangan kebahagiaan kini kembali ia rasakan. Di usianya yang sekarang seharusnya ia bersenang-senang di luar sana menikmati masa mudanya. Tapi yang ia rasakan sekarang adalah terkurung bagaikan burung yang berada di dalam sangkar. Bahkan hanya sekedar melihat jalan raya saja tidak diijinkan oleh Aron.


Tanpa ia sadari Aron terus memperhatikannya dari arah jendela dengan wajah datar tanpa senyum sama sekali.


Tidak lama pandangan Aron berpindah ke dinding pagar dimana ia melihat sebuah mobil terparkir rapi disana yang ia yakini itu adalah mobil bawahan Matthew.


"Sial." Pekiknya yang langsung berlari dan tidak lupa membawa pistolnya, menuju halaman mansion tempat Sheva berada sekarang.


Saat tiba dihalaman Aron segera menarik tangan Sheva kasar membuat Sheva kebingungan dan merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Terus awasi mereka dari jauh." Ucap Aron pada salah satu pengawalnya saat memasuki mansion.


Sheva meringis kesakitan saat Aron mendorongnya ke atas ranjang.


"Tetaplah berada di kamar dan jangan kemana-mana." Ucap Aron kemudian berlari meninggalkan Sheva begitu saja.


Sementara di luar sana anak buah Matthew sudah di tangani oleh beberapa pengawal Aron.


Aron melangkah dengan langkah cepat memasuki ruangan rahasianya dengan rahang yang mengeras menahan emosi, berani sekali Matthew menyuruh orangnya secara terang-terangan pikir Aron.


"Berapa banyak binatang yang kalian temukan." Tanya Aron saat memasuki ruangannya


"Ada 3 orang tuan." Ucap salah satu pengawalnya.


Anak buah Matthew tampak sudah berdarah di sekitar wajahnya karena mendapatkan pukulan saat berusaha melawan 6 orang pengawal Aron.


Aron menarik kursi kesayangannya lalu duduk berhadapan dengan 3 orang anak buat Matthew yang tampak berlutut di lantai.

__ADS_1


"Aku beri kalian waktu 3 menit untuk mengatakan tujuan kalian."


Tiga orang dari mereka sama-sama tidak membuka suara sama sekali, dan terus meringis kesakitan. Hingga membuat Aron benar-benar kehilangan kesabarannya.


"Apakah kalian tahu bagaimana rasanya saat ujung runcing benda ini menusuk kulit kalian ? menembus setiap lapisan kulit dan mengeluarkan darah secara perlahan ?" Ucapnya dengan memainkan pisau di tangannya.


Ketiga orang itu hanya terus menggelengkan kepala seakan mengisyaratkan agar Aron tidak melakukan lebih jauh pada mereka.


Namun harapan mereka sia-sia karena kini Aron telah menancapkan pisau kecil nan tajam itu pada leher mereka. Membuat darah dari ketiga orang itu bercampur menjadi satu dan bercucuran dimana-mana. Kini Aron tersenyum lebar seakan ia memenangkan permainan kasino saat melihat ketiga orang itu menderita.


"Urus mereka." Ucap Aron pada beberapa pengawalnya.


Ia berjalan kembali ke kamarnya lalu membersihkan diri seperti biasa sebelum melanjutkan dengan makan malamnya.


-


"Ah sialan." Teriak Matthew yang melempar beberapa kertas di atas mejanya saat mengetahui anak buahnya sudah di bunuh oleh Aron. Membuat beberapa pengawalnya tampak ketakutan.


"******** kau Aron." Desis Matthew dengan wajah yang merah padam. Ia meremas kuat rambutnya karena frustasi.


"Jika kita tidak dapat mengawasinya dari dekat, maka kita akan mengawasinya dari jauh." Ucap Matthew pada beberapa pengawalnya.


"Periksa semua cctv jalanan sejak beberapa bulan terakhir. Perintahkan beberapa orang untuk menyamar menjadi masyarkat biasa disekitar mansion, vila, apartemen dan perusahaanya, cari beberapa informasi pribadinya untuk kita jadikan sebagai kelemahannya, dan terakhir perhatikan wajah gadis di foto itu baik-baik, jika kalian mendapatinya bersama siapa saja atau pun seorang diri segera menghubungiku atau membawanya padaku." Lanjutnya.


Beberapa saat kemudian Matthew mendapatkan informasi jika adiknya sudah tidak pernah masuk kuliah dan bekerja lagi beberapa bulan terakhir.


Hal itu semakin membuat Matthew yakin jika adiknya benar-benar di culik oleh salah satu musuhnya.


Tbc ... 🌵


Jangan lupa Vote 🙏


Sekalian baca novel Author yang lainnya yah.


- Cinta Seorang Psycho

__ADS_1


- My Boyfriend Is An Idol


Terimakasih 🙏✌🏿


__ADS_2