
"Aku bertanya alasannya dan kau malah mengatakan hanya ingin memilkiku. Oh Tuhan yang benar saja kau mengajakku menikah bukan karena kau mencintaiku ?" Lanjut Sheva.
"Apa perlu aku katakan, aku rasa semua orang pasti mengerti maksud dari ingin memiliki."
"Hentikan perkataan bodohmu, aku tidak akan mau menikah denganmu."
Ucapan Sheva benar-benar membuat Aron murka dan benar-benar di luar dugaan, Ini adalah kali pertama ia mengajak seorang untuk menikah tetapi bukannya diterima, malah di tolak dengan mentah-mentah. Padahal gadis-gadis di luar sana sangat ingin menikah dengannya bahkan bukan hanya satu dua orang melainkan beratus-ratus orang.
"Ulangi sekali lagi." Tegas Aron pada Sheva dengan wajah yang merah padam, membuat Sheva merasa ketakutan.
"Aku...aku tidak bisa menikah denganmu." Ucap Sheva berbohong. Sebenarnya ia sangat bahagia saat mendengar Aron mengajaknya untuk menikah namun yang membuatnya menolak adalah alasan Aron yang hanya ingin memilikinya, bukan karena mencintainya.
Sheva berjalan mundur ke arah pintu kamar berniat untuk berlari keluar, sementara Aron hanya tersenyum melihat Sheva yang ketakutan.
"Kau lebih memilih yang mana ? menikah dahulu baru melakukan malam pertama atau melakukannya terlebih dahulu baru kita menikah." Ucap Aron tersenyum lalu berjalan ke arah Sheva dengan membuka kancing kemejanya satu persatu.
Sheva terus menerus menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin hal itu terjadi walaupun ia sudah mencintai Aron, ia berusaha untuk membuka pintu namun sialnya Aron sudah menahannya terlebih dahulu lalu mengunci pintu kamar itu.
Aron mendekatkan wajahnya lalu mengangkat wajah Sheva dan mencium paksa gadis itu. Sheva terus berusaha untuk terlepas dari cengkaram Aron namun tidak bisa karena tenaganya tidak sebanding dengan lelaki yang mencium paksa dirinya itu.
Dengan sekali hentakan Aron berhasil menggendong Sheva ala bridal. Dengan napas yang memburu Aron melepas kasar Sheva di atas ranjang empuk itu.
Aron sudah melepaskan kemejanya hingga terlihat jelas tubuhnya yang atletis. Aron kembali mencium Sheva dengan paksa, kedua tangan Sheva di letakan di atas kepala Sheva membuat gadis itu tidak dapat menghalangi aksinya lagi.
Sheva terus menerus menangis air mata Sheva tidak henti-henti mengalir membasahi wajahnya, sementara Aron sama sekali tidak mempedulikan Sheva. Dengan sekali tarikan Aron berhasil merobek baju tidur tipis milik Sheva membuat bra hitam Sheva terlihat jelas.
Tidak ingin menunggu lama Aron kembali mencium leher Sheva dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan disana, membuat Sheva tidak dapat menahan rasa sakit dan gelinya.
Aron membuka paksa bra hitam Sheva dan membuat kedua gunung kembar Sheva tampak jelas. Aron kembali memainkan lidahnya di gunung kembar Sheva bergantian dan meninggalkan beberapa tanda merah di sana.
Tidak hanya ingin sampai disitu, tangan nakal Aron sudah membuka paksa celana Sheva menyisakan dalamannya saja. Aron memainkan tangannya di area sensitif Sheva membuat gadis itu tidak tahan untuk mendesah.
"Ahh..aku lepaskan aku mohon." Ucap Sheva beriringan dengan desahannya.
__ADS_1
Aron tidak mempedulikan ucapa Sheva sama sekali ia kembali melepaskan dalaman hitam Sheva hingga kini tubuh Sheva terlihat sangat polos tanpa sehelai benang pun.
Dengan cepat Aron melepaskan celannya, membuat adik kecilnya yang sedari tadi memberontak tertampang jelas.
Aron memainkan adik kecilnya pada area sensitif Sheva membuat gadis itu semakin merasa geli dan ketakutan. Aron kembali ******* bibir Sheva dengan tangan satunya mengarahkan adik kecilnya untuk masuk mencari kenikmatan di dalam sana.
Aron berusaha untuk memasukkan miliknya namun terasa sangat sempit "Sial apa dia masih gadis ?" Ucap Aron dalam hati.
Aron terus memainkan area sensitif Sheva hingga cairan kental Sheva keluar.
"Baiklah sayang bertahanlah sedikit, aku akan memulainya." Bisik Aron saat melepaskan ciumannya. Dengan sekali dorongan Aron berhasil memasukkan adik kecilnya untuk merasakan kenikmatan.
"Ah sakit." Teriak Sheva sembari mencakar punggung Aron saat merasakan area sensitifnya sudah di masuki sesuatu.
"Ah...hentikan...ah...ini sakit sialan." Sheva terus memberontak.
"Tahanlah sebentar lagi rasa sakitmu akan tergantikan dengan kenikmatan sayang." Ucap Aron dengan terus memaju mundurkan miliknya dengan cepat.
"Hentikan ini sakit sialan." Lanjut Sheva.
Sementara Aron dengan kasar terus memaju mundurkan miliknya, hingga beberapa saat Aron mengeluarkan cairan kental di dalam rahim Sheva.
"Ah...kau sangat nikmat sayang." Ucap Aron sebelum berbaring di samping Sheva.
-
Sheva terbangun karena cahaya matahari menyinari wajahnya. Ia membuka matanya perlahan lalu berniat untuk duduk namun ia meringis kesakitan karena tindakan Aron padanya semalam.
Beberapa saat kemudian Aron bangun dari tidurnya saat mendengar Sheva yang terus meringis kesakitan.
"Ada apa." Tanya Aron dengan suara serak bangun tidurnya.
"Kenapa kau malah bertanya hal yang bodoh, apa kau tidak lihat jika aku sedang menahan sakit ?" Ucap Sheva yang kesal.
__ADS_1
Aron menarik napasnya dalam kemudian menatap kembali wanita yang ada di hadapannya. Aron turun dari ranjang tanpa ada sehelai benang pun yang menutup tubuhnya.
"A...apa yang kau lakukan." Tanya Sheva yang sudah menutup wajahnya karena malu.
"Tidak usa membuat dirimu seakan belum pernah melihatnya." Ucap Aron.
Setelah mengatakan itu dengan cepat ia menggendong Sheva yang juga tidak memakai pakaian sama sekali ke kamar mandi hingga membuat kedua kulit mereka bersentuhan. Hingga reflek Sheva menutup tubuhnya dengan kedua tangannya dan wajah yang sudah memerah menahan malu.
"Tidak usa menutupnya, aku sudah melihat semua bagian kecil dari tubuhmu." Ucap Aron datar lalu menurunkan Sheva dari gendongannya.
"Dasar mesum kau brengsek." Teriak Sheva pada Aron namun dengan cepat Aron melahap bibir tipis Sheva membuat Sheva semakin emosi.
"Berhentilah berteriak, kita akan mandi bersama sekarang." Ucap Aron lagi.
Setelah selesai dengan ritual mandi Aron kembali menggendong Sheva keluar. Sheva mengenakan piyama mandi dengan rambut yang masih basah, sedangkah Aron hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya dengan rambut yang basah membuatnya semakin tampan.
Aron menurunkan Sheva di atas ranjang kemudian menatap wajah gadis itu.
"Apa masih sakit ?" Tanya Aron dengan suara lembutnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu ? tentu saja masih sakit kau sudah melakukannya semalaman." Jawab Sheva yang tampak marah.
"Apa kau harus menjawabku dengan suara seperti itu ? Aku akan bertanggung jawab jadi tidak usa memarahiku seperti itu."
"Tidak, kau tidak perlu bertanggung jawab. Jika kau merasa bersalah maka biarkan aku keluar dari sini." Ucap Sheva dengan wajah memohon pada Aron.
Aron tersenyum kecut saat mendengar permintaan Sheva "Jangan harap." Ucap Aron.
Tbc ... 🌵
Hallo, apa kabar teman-teman, semoga kita semua selalu sehat yah 🤗
Apa kalian menikmati ceritanya ? Jangan lupa beri jawaban di kolom komen yah 🤗
__ADS_1