
"Aku hanya berbicara sebentar saja, jika kau tidak memberikan ponselmu, maka aku tidak akan ikut acara nanti malam."
Mendengar ucapan Sheva seperti itu membuat pengawal tersebut semakin takut. Langsung saja ia memberikan ponselnya dan menghubungi tuan kejamnya.
"Ada apa ?" Tanya lelaki di seberang sana yang tak lain adalah Aron.
"Ini aku." Jawab Sheva.
Aron terdengar menarik napasnya panjang dari seberang telefon, membuat Sheva menjadi gugup ingin melanjutkan ucapannya atau tidak.
"Aku..aku ingin mengunjungi ayah dan ibu ku." Ucap Sheva dengan suara yang semakin pelan.
Di seberang sana Aron sudah mengerutkan dahinya lalu mengangkat salah satu alisnya.
"Kenapa ?" Tanya Aron.
"Apa ?" Jawab Sheva bingung dengan ucapan lelaki itu.
"Kenapa ?" Ucap Aron lagi.
"Apa maksudmu kenapa ?"
"Kenapa aku harus mengijinkan kau untuk pergi." Jawab Aron.
"Kau tidak akan kemana - mana." Sambung Aron dengan suara tegasnya.
"Tidak, kau tidak berhak mengaturku." Ucap Sheva dengan suara yang meninggi.
"Jangan main-main denganku Sheva atau aku akan berbuat lebih dari sebelum-sebelumnya."
"Astaga, tuan Aron yang terhormat aku hanya ingin mengunjungi makam kedua orang tuaku, aku janji tidak akan kabur jika kau mengijinkanku."
Aron tampak berpikir lalu memijat pangkal hidungnya "Baiklah, asalkan kau di dampingi oleh para pengawal."
"Itu juga tidak masalah." Jawab Sheva lalu memutuskan panggilannya.
Sheva memutuskan untuk pergi dan di ikuti oleh tiga orang pengawal.
Sheva meminta sopirnya untuk singgah di sebuah toko bunga terlebih dahulu, sebelum ke makan kedua orang tuanya. Saat sedang memilih bunga, tidak sengaja ia bertemu dengan sahabat baiknya bernama Daniel yang kebetulan sedang membeli bunga juga.
Reflek mereka berdua berpelukan tanpa memikirkan jika di belakang mereka ada tiga orang pengawal yang menyaksikan adegan itu, dan salah satunya sedang memotrer momen indah tadi lalu mengirimkan nya pada Aron.
"Ya ampun Sheva kau selama ini di mana ?" Tanya Daniel yang memegang kedua pundak Sheva dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Ah ceritanya panjang." Jawab Sheva mencoba untuk tidak menangis. Dalam hatinya ia sangat ingin memberitahu pada Daniel atas apa yang terjadi padanya. Namun ia tidak bisa melakukan itu jika ingin Daniel selamat.
"Berikan nomor ponsel mu agar aku bisa menghubungi mu nanti. " Ucap Daniel.
"Ah ponsel ku rusak, kau beri saja nomormu padaku aku yang akan menghubungimu nanti."
Daniel memberikan nomor ponselnya pada Sheva sebelum ketiga pengawal itu datang menarik Sheva.
Dengan cepat Sheva memasukkan kertas tadi ke dalam saku bajunya.
Daniel tampak terkejut dan ingin membantu Sheva saat tiba - tiba pengawal itu datang, dan menarik Sheva namun ia urungkan niatnya karena Sheva mengatakan ia tidak akan apa - apa.
-
Di dalam mobil tampak semua pengawal diam bahkan sangat diam dari sebelumnya.
Hingga Sheva sudah berada di makam ke dua orang tuanya ia duduk lalu menangis dan mengadu tentang hidupnya kepada kedua orang tuanya.
Hingga waktu sudah hampir gelap barulah ia meninggalkan tempat itu.
Sheva baru melangkahkan kakinya ke dalam mansion mewah itu, tapi sudah di sambut dengan tatapan tajam Aron.
Sheva mengehela napas. Lalu berjalan melewati Aron begitu saja dan menuju kamarnya.
"Apa kau harus mandi selama itu ?" Tanya Aron yang bersandar di dinding kamar dan melipatkan kedua tangannya di atas dada.
Entah kapan Aron masuk ke dalam kamar itu. Sheva kaget saat melihat lelaki tampan ini sudah di dalam kamarnya.
"Astaga kau mengagetkanku, sejak kapan kau masuk kenapa aku tidak mendengarkan bunyi pintu ?"
"Apa itu penting sekarang ? tadi kau bertemu siapa ?" Tanya Aron datar mencoba mengontrol emosinya.
"Aku sudah katakan, aku ke makan kedua orang tua ku." Ucap Sheva yang duduk di depan cermin dan mengeringkan rambutnya.
"Aku tanya sekali lagi, kau bertemu dengan siapa ?"
Tanya Aron masih dengan suara datar.
"Aku hanya mengunjungi makam orang tuaku, aku tidak kemana - mana, kau bisa tanyakan pada para pengawalmu."
"Benarkah ?" Tanya aron yang sudah melangkah maju ke arah Sheva.
Sheva dapat melihat Aron dari cerminnya. Aron mengepalkan tangannya, dan rahangnya yang mulai mengeras. Sontak Sheva berdiri dari duduknya dan berjalan mundur menjauh dari Aron.
__ADS_1
"Kenapa kau malah menjauh dariku, Sheva ?" ucap Aron dengan wajah yang merah padam.
"Ada hal menarik yang akan kita lakukan, jadi kenapa kau menjauh, eh ?" Sambung Aron yang sudah berdiri di hadapan Sheva.
Sheva sekarang mengepalkan tangan nya, ia benar-benar takut dengan Aron sekarang, terlebih lagi Aron menundukkan tubuhnya hingga wajah mereka saling berhadapan.
Sheva memejamkan matanya. Dia bisa merasakan tiap hembusan napas Aron. Sheva ingin mendorong Aron agar menjauh. Tapi tubuhnya sekarang tidak menuruti perintahnya. Ia terlalu takut jika ia melakukannya maka Aron akan melakukan hal yang lebih kejam.
"Kau menggunakan orang tuamu untuk bertemu lelaki itu bukan ?" Ucap Aron.
Sheva menggeleng kepalanya kuat, tidak ingin jika Aron membunuh sahabatnya. Bayangan saat aron membunuh sepasang suami istri itu tiba-tiba terlintas di pikirannya. Sesaat mata hitam milik Sheva mengeluarkan air mata.
"Ti..tidak, aku bertemu dengannya karena kebetulan. Aku berani bersumpah itu hanya kebetulan." Ucap Sheva dengan wajah ketakutan. Lalu memejamkan matanya, ia tidak berani menatap mata Aron.
Aron tersenyum tidak menjawab ucapan Sheva. Sheva merasakan sentuhan dingin pada pipinya, kemudian berpindah pada mata kiri dan kanannya.
Sheva membuka matanya saat sentuhan itu kembali ke pipinya lagi. Sheva menggigit bibirnya saat sadar Aron menciumi jejak air matanya.
"Jangan...kumohon...hentikan..." Ucap Sheva terbata. Sungguh ia takut, bahkan hanya untuk bergerak sedikit saja. Aron tidak menghentikan aksinya karena Sheva pun tidak menghentikan air matanya.
Sheva kembali memejamkan matanya, berharap air matanya tidak lagi keluar, sehingga Aron dapat berhenti menciumnya.
Ketika Aron berhenti, Sheva kembali membuka matanya. Namun, detik berikutnya ia sangat menyesal.
Aron tersenyum. Dalam sekejap Aron meraih leher Sheva lalu mencium bibir gadis itu. Sheva mencoba berontak tapi sia-sia Aron tidak melepaskannya sama sekali.
Tanpa menghentikan ciumannya, Aron meraih tubuh mungil Sheva dan menduduki gadis itu di atas meja rias milik Sheva. Sheva tetap mencoba berontak tapi Aron semakin rakus menciumnya.
Kedua tangan Sheva menekan dada Aron agar menjauh. Meski percuma karena kini tubuh Sheva benar - benar sudah berada dalam kuasa Aron.
Aron memeluk Sheva begitu kuat hingga gadis itu tidak mampu bergerak.
Aron melepaskan ciumannya tanpa melepaskan pelukannya. Aron menarik napas dalam. Sheva dapat merasakan napas Aron karena hidung mereka masih saling menempel.
"Tolong...hentikan..." Ucap Sheva lirih. Namun Aron justru semakin menggila setiap kali mendengar suara Sheva meminta tolong. Atau setiap kali Sheva melakukan pemberontakkan.
Aron tersenyum bahkan senyumnya jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Tbc ... 🌵
Lanjut gak nih 😀
Jangan lupa komen yah teman teman ❤️
__ADS_1