
Bulu mata yang lentik mulai bergetar, perlahan ia buka matanya. Ya, Biru mulai tersadar. Saat itu hal yang pertama kali ia lihat adalah hidung mancung dengan mata teduh tengah menatapnya lekat.
"Lo udah sadar Biru?" Ucap Digant yang saat itu tertimpa Biru.
Mereka bangkit bersama dengan keadaan luka di beberapa tubuh mereka.
Biru memegangi dahinya yang terasa perih karena terbentur sesuatu ketika jatuh dari atas. Melihat hal itu Digabt menahan tangan Biru agar tidak lagi menyentuh luka di dahinya.
"Jagan lo sentuh terus, nanti luka lo bisa terkontaminasi dan bertambah parah.
Selorohan Digant saat itu membuat Biru terdiam. "Sekarang kita istirahat dulu, nanti setelah kita sedikit membaik, kita bakal cari cara gimana bisa naik keatas"
Setelah beristirahat cukup lama untuk mengembalikan tenaga, Sigant dan Biru menyusuri hutan yang semakin gelap karena hari sudah mulai petang.
Melihat Biru yang semakin pucat membuat Digant cemas. "Kita istirahat lagi aja disini Ru, lo pucet banget" Digant menyentuh kening Biru.
"Astaga, lo demam Biru."
Digant mendudukkan Biru dan bersandar di sebuah pohon. Saat itu Digant mencari ranting dan beberapa batang pohon.
"Karena udah mulai gelap, kita bakal bermalam disini Ru."
"Tapi apa nggak bahaya kita disini Gan?"
"Pasti bahaya Biru, ini hutan. Dan gue yakin disini juga banyak binatang buas. Jadi gue mau bikin perapian buat nggak ada hewan-hewan yang mendekati kita"
Digant mencoba menyakan api dengan cara yang sudah di ajarkan oleh guru mereka. Setelah perapian mulai menyala, saat itu Digant hendak pergi.
"Lo mau kemana lagi Digant?"
"Mumpung belum gelap banget, gue mau cari tambahan kayu buat apinya nggak padam"
Cukup lama Digant tak kunjung kembali, saat itu bukan hewan buas yang mendatangi Biru. Jsutru hewan melata yang mulai mendekat.
"Hus.. Hus.. Ular cantik mundur ya, jangan kesini gue pait lu pasti nggak doyan kalo gigit gue"
Bukannya pergi, Ular king kobra yang datang pun semakin mendekati Biru karena Biru terlalu banyak bergerak. Ular kobra tersebut akan semakin agresif ketika benda atau makhluk yang ada dihadapannya bergerak. Karena ia menganggap dirinya terancam.
"Pergi gue bilang.. Kalo lo tetep kesini, lo bukan ular cantik, lo ular jelek. Hus Hus sana."
Ular tersebut tidak menuruti ucapan Biru, karena ular memang tidak bisa mengerti ucapan manusia, sehingga saat itu pergerakan ular tersebut semakin membuat Biru panik. Ingin berlari, tetapi Biru sangat lemah.
"Oke, kalo gitu kita bikin penawaran, kalo lo pergi berarti lo ular cantik, tapi kalo lo ngeyel mau mantok gue, berarti lo ular jelek. Lo pilih mana hmm? "
Pergerakan Biru semakin banyak, dan membuat ular tersebut semakin agresif. Ular itu bersiap untuk mematuk Biru di hadapannya.
"Aaaaa.... "
Bug
Bug
Bug
Digant datang tepat waktu. Ia memukul tanah di hadapan Ular tersebut dengan kayu yang menyala api di ujungnya sehingga membuat ular tersebut takut dan pergi.
Grep
__ADS_1
Biru memeluk Digant dengan sangat erat. Tubuhnya bergetar ketakutan. Begitupun dengan Digant, Digant juga memeluk Biru karena mencemaskan Biru. Setelah beberapa saat mereka melepas pelukan mereka masing-masing.
"Lo itu cewek konyol Biru. Mana bisa ular lo ajak negosiasi kayak tadi hmm? "
"Ia abisnya lo lama banget si tadi, gue kan sepinter lo. Jadi ya udah gue kasih tawaran sama tu ular, siapa tau dia mau kan"
"Astaga temen gue yang satu ini.. Ya udah mana tas gue tadi? "
"Tu"
Digabt mengeluarkan air minum dari dalam tasnya. Saat itu ia juga mengeluarkan roti dan juga obat untuk Biru.
"Lo makan, setelah itu lo minum obat biar demam lo turun"
Usai meminum obat, Biru mendatangi Digabt yang berusaha menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Ternyata orang pinter itu goblok juga ya Gan"
"Huh, apa? "
"Iya udah tau ini hutan, mana mungkin ada jaringan kan? "
"Ya kita coba aja dulu Biru"
Setelah terus mencoba, usaha mereka untuk menghubungi orang lain tidak membuahkan hasil. Hati semakin larut, udara juga semakin dingin.
"Ini udah malem banget,. Lo tidur gih Ru. Biar gue usaha nyari signal"
"Ogah, nanti kalo ular nya balik gimana? Lo si nggak di pukul aja tu kepalanya"
"Astaga ni si pendek selain konyol kriminal juga ternyata"
"Iya-iya si jenius" Balas Biru dengan memutar bola matanya malas.
Karena hati sudah sangat larut dan mereka sudah terserang penyakit yang bernama kantuk, akhirnya keduanya terlelap.
Keesokan paginya keadaan Biru sudah membaik. Merkepun melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke tempat mereka camping.
Saat itu Digant melihat tanaman yang menjalar, ia menarik-natik dengan sekuat tenaga.
"Lo kenapa Gan?"
"Kita bisa gunain ini buat naik Biru"
"Ah iya lo bener Digant"
Dengan alat seadanya, Digant dan Biru membuat tumbuhan yang menjalar tersebut sebagai tapi. Setelah itu Digant mencoba mengaitkan tapi tersebut ke pohon yang ada di atas.
Setelah mencobanya beberapa kali, Digant berhasil dan mencoba membawa Biru naik bersamanya. Namun mendadak turun hujan sehingga membuat permukaan tanah yang di tumbuh rerumputan terasa licin dan membuat Digant dan Biru kembali ke dasar jurang.
"Gini aja Gan, lebih baik lo naik duluan abis itu cari bantuan. Biar gue tunggu lo disini"
Digant terlihat berpikir, tapi setelah itu ia menggeleng. "Semalam aja lo konyol banget waktu ada ular, mana mungkin gue tinggalin lo"
Digant bersikeras untuk tidak naik sendirian. Akhirnya ia mencoba cara lain agar mereka bisa naik secepatnya, atau mereka akan tenggelam karena dasar sungai temoat mereka sekarang adalah saluran dari sungai yang mengering. Dan sungai tersebut bisa akapan saja terisi ketika hujan turun semakin deras.
Dan apa yang mereka khawatirkan saat ini benar-benar terjadi. Air mulai menggenang dan semakin banyak. Cukup lama hujan yang melanda sehingga air sudah sebatas lutut mereka.
__ADS_1
"Mendingan lo naik sekarang Biru"
"Kemana?"
"Ya bahu gue lah, nanti gua bantu lo naik"
Akhirnya Digant berhasil membuat Biru benar-benar berhasil naik. Tetapi ketika ia ingin menyusul, mendadak terlihat dari arah lain air mengalir begitu deras.
"Digant cepet naik, airnya udah deket banget" Biru semakin cemas.
Byur
Air menghantam tubuh Digant hingga Digant terjatuh, untung saja saat itu ia sudah berpegangan ke tali yang sudah ia ikatkan ke pohon.
"Biru, cepet lo cari bantuan, gue akan bertahan disini sama tali ini"
Dengan kecemasan yang semakin besar, Biru mencoba mencari jalan untuk menemukan tempat mereka mendirikan tenda.
Tetapi Biru tak kunjung menemukan jalan keluar untuk menuju ke tenda. Hujan semakin deras. Biru semakin kacau dan bingung kemana ia harus mencari bantuan.
"Tuhan, tolong berikan jalan." Biru hampir menangis, tetapi ia terus mencari jalan untuk meminta bantuan. Meskipun kakinya susah terasa sangat letih dan banyak luka karena beberapa kali terjatuh, Biru terus berusaha.
"Biru.. Digant"
Sayup-sayup terdengar suara yang memanggilnya dan juga Digant. "Mungkin itu mereka lagi nyariin gue sama Digant"
Dengan segera Biru berlari ke arah sumber suara. Biru berlari sekencang mungkin hingga ia jatuh beberapa kali. Cukup lama ia mencari sumber suara yang ia dengar hingga setelah beberapa lama ia berhasil menemukan keberadaan beberapa temannya yang tengah mencarinya bersama tim SAR.
"Tolong.. Tolong.."
Biru berteriak meminta tolong hingga beberapa kali. Karena kondisi masih hujan deras, tidak seorangpun mendengarnya. Dengan langkah berat Biru berusaha mendekat, namun ia kembali terjatuh.
Ketika Biru bangkit, ia sudah tidak mendapati teman-temannya dan juga tim SAR. Tangisan pecah, Biru begitu mencemaskan Digant yang masih di dasar jurang.
"Lo tunggu gue Digant, gue bakal bawa bantuan buat selamatin lo"
Dengan sisa-sisa tenaganya, Biru kembali berjalan mencari bantuan hingga saat itu ia kembali mendengar suara dari teman dan juga tim SAR yang bertugas mencari mereka.
Biru terus berlari dan kembali terjatuh. Saat itu posisi mereka sudah sangat dekat. Biru memutuskan untuk berteriak sekencang mungkin agar mereka mendengar ucapan Biru.
"Tolong"
"Bang Alex, itu Biru" Ucap Zia
Sontak semua yang mencari keberadaan mereka pun berlari ke arah Biru. Zia memeluk Biru dengan erat.
"Akhirnya kita nemuin lo Biru, tapi dimana Digant? "
"Kita nggak punya waktu, Digant masih di dasar jurang. Disana air mulai naik. Kalau kita terlambat Digant bisa tenggelam"
"Ya udah ayo kita ke sana, lo tunjukin arahnya" Ucap Devon
Dengan segera mereka berlari ke arah jurang dimana Digant berada di sana. Dan benar saja, ketika mereka sampai, mereka mendapati Digant yang masih berpegangan ke tali tersebut, namun tali itu semakin lemah.
"Pak talinya hampir putus, cepet tolongin Digant pak" Ucap Biru
Tim SAR menurunkan tali dan menyuruh digan untuk naik. Sedangkan yang lainnya akanenarik dari atas. Namun ketika ia hendak meraih tali dari tim SAR, tali yang ia buat dari tumbuhan jalar putus.
__ADS_1
"Digant"
Bersambung