
Suasana di dalam mobil cukup canggung karena tidak ada pembicaraan yang di lakukan antara Devon dan juga Zia. Bahkan saat itu tuan Irgan pun tertidur di jok belakang.
Dia melirik ke arah Devon yang fokus melihat ke arah depan dengan wajah tegas.
"Devon"
"Hemm"
"Apa lo deket sama Digant?"
Pertanyaan Zia tidak mendapat jawaban dari Devon. Hal itupun membuat Zia menggigit bibirnya karena merasa sedikit canggung dan malu karena Devon mengacuhkan pertanyaannya.
Devon melihat kaca ayahnya yang sudah terlelap dengan kaca dashboard di hadapannya.
"Kalo lo mau deketin Digant, jangan tanya sama gue" Balasnya sehingga membuat Zia yang tadinya merasa di acuh kan bahkan saat ini merasa sedikit sedih karena sikap Devon yang berubah 180 derajat dari dua tahun lalu ketika mereka menjalin hubungan.
"Kenapa lo mikir kalo gue mau deketin Digant?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Zia, Devon hanya menarik ujung bibirnya tersenyum smirk.
Mendapat perlakukan seperti itu ternyata membuat Zia frustasi. Dengan rasa marah ia Zia menarik memegang rahang Devon hingga membuat Devon menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Apa yang lo lakuin? Singkirin tangan lo dari wajah gue"
"Abisnya lo nyuekin gue Devon, dan gue nggak suka. Lo dulu gak kayak gini sama gue Devon"
"Lo kesel? Itu bukan urusan gue"
Devon melepas tangan Zia dengan kasar sehingga kuku Zia membuat rahang Devon tergores.
"Devon, lo luka"
Ketika Zia hendak menyentuh wajahnya kembali, Devon segera menepisnya.
"Jangan sentuh-sentuh gue, gue bukan cowok lo lagi ngerti! "
__ADS_1
Seketika Zia terdiam ketika Devon mengatakan hal yang menurutnya membuat dirinya tersinggung. Dan tanpa mereka sadari, saat itu tuan Irgan yang mereka sangka tengah tertidur justru melihat semua kejadian yang ada di hadapannya. Saat ini guan Irgan baru mengetahui hubungan anaknya dengan Zia.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, Devon berhenti tepat di depan rumah Zia dan menurunkannya.
Devon yang tidak ingin berlama-lama, ia segera menginjak pedal gasnya dan melajukan kembali mobil yang ia bawa.
Sementara itu, kini Ain hanya seorang diri menemani Digant. Karena terlalu letih, Ain terlelap di sebuah sofa yang ada di ruangan rawat Digant.
"Sshh.." Digant yang baru siuman memegangi kepalanya yang terasa sakit karena benturan yang ia alami hingga membutuhkan banyak darah.
Digant mengedarkan pandangannya dimana saat itu ia mendapati mamanya yang terlelap. Ia juga mencari keberadaan seseorang sehingga ia segera membangunkan Ain.
"Mama"
Mendengar suara yang tak asing memanggilnya, Ain membuka kedua matanya. Senyum mengembang di wajahnya ketika mendaoati Digant yang sudah duduk sembari menatapnya.
Ain beranjak dan menghampiri Digant. "Mama akan memanggil dokter Digant"
"Tunggu dulu ma, dimana Biru? Apa dia baik-baik aja? "
"Mama nyuruh dia pulang biar dia istirahat Digant. Tubuhnya banyak luka"
Keesokan harinya, Digant meminta mamanya untuk mengatur kepulangannya
Setelah ia sampai, Digant langsung menghubungi Biru.
Sekitar tiga 30 menit, suara bell rumah berdering. Siang itu Digant yang masih duduk di ruang tamu segera membukakan pintunya.
"Digant, lo kenapa si udah minta pulang? Ini bahaya buat kesehatan lo"
"Biru, lo baik-baik aja?"
Ya, orang yang datang adalah Biru. Setelah dihubungi oleh Digant, Biru tidak perduli dengan kesehatannya sehingga ia langsung mendatangi sahabatnya.
Melihat keadaan Biru yang masih banyak sekali perban dan juga luka, Digant segera menarik Biru untuk duduk bersamanya.
__ADS_1
"Separah ini luka lo? "
"Iyalah, mana gue harus nyariin lo yang hanyut lagi. Dasar temen nyusahin lo Gan"
Digant tidak pernah marah dengan ucapan Biru sekalipun Biru mengatainya. Sehingga ia hanya terkekeh ketika di ejek oleh Biru.
-
Tap
Tap
Tap
Kedatangan Digant di dalam kelas berhasil membuat Zia tersenyum lebar. Ia begitu ingin bertemu dengan Digant meskipun Digant sangat dingin dengannya.
"Digant, buat gue bantu"
Digant hanya mengangguki Zia, dan segera duduk. Digant mencari keberadaan Biru yang saat itu belum hadir.
Ketika Biru hendak masuk kedalam kelas, mendadak Devon mencekal pergelangan tangannya.
Seketika saat itu Digant mengernyitkan dahinya.
Digant berpikir apakah Devon benar-benar ingin mendekati Biru. sebagai seorang sahabat Digant tidak ingin melihat sahabatnya merasa sakit karena berpacaran dengan seorang Devon. meskipun tidak suka berpacaran, tetapi Devon terkenal dengan sikap angkuh yang mereka meiliki.
"lepaskan tangan lo dari Biru" Sontak mendapati Digant yang saat ini lebih berani untuk melawan Devon membuat para siswi histeris.
Mereka menganggap saat ini Digant jauh lebih keren dari biasanya yang hanya diam dan tidak ingin tau apapun yang terjadi di sekitarnya.
Digant segera menarik tangan Biru dan membawanya pergi.
"jangan lo pikir dengan lo bawa Biru pergi, lo bisa bikin gue nyerah" ucap Devon.
Zia yang melihat hal itu merasa sangat terkejut. pasalnya ia tidak pernah melihat Devon seemosional seperti saat ini.
__ADS_1
.
bersambung