
Digant terduduk di bawah pohon yang ada di halaman sekolah. Ia berpikir bagaimana berkas yang sempat ia lihat, justru saat ini menghilang dengan sangat mudah.
Saat itulah tiba-tiba seseorang duduk disebelahnya dengan mengukir senyumnya yang sangat menawan dan teduh. Meskipun begitu, tetap saja Digant tidak membalas senyuman itu dan kembali memikirkan apa yang saat ini menguasai isi kepalanya.
Karena tidak tahan terus di abaikan seseorang yang ada di sampingnya menarik lengan Digant yang sejak tadi menjadi tumpuannya. Sehingga ketika tangan tersebut mendapat guncangan, makan keseimbangan duduknya juga akan terpengaruh.
Dan saat itulah Alex melihat Digant yang seolah ingin memeluk seseorang di sebelahnya.
"Apa-apaan lo, berani banget lo gak sopan sama Zia" Alex menarik baju Digant hingga Digant mau tidak mau ia bangkit dari duduknya.
Mendapat perlakuan yang cukup kasar dari Alex, Digant segera melepas cengkeraman tangan Alex dari bajunya.
"Tanya sama adek lo, apa gue kurang ajar sama dia? " Ujar Digant dan bergegas pergi.
Namun sebelum Digant benar-benar pergi, Alex berusaha menghentikannya dengan menendang kaki Digant dari belakang hingga membuat Digant terjatuh dan memancing beberapa siswa untuk mendekat.
Belum sempat Digant berdiri, Alex sudah lebih dulu memuk*l Digant kembali. Melihat hal itu Zia tidak tinggal diam, ia segera menghentikan Alex untuk tidak memuk*li Digant.
Saat sisawa semakin ramai seorang guru datang dan membubarkan kerumunan tersebut.
-
"Mang somai nya satu ya" Biru duduk di salah satu bangku kantin, tanpa ia sadari saat itu Devon juga berada di tempat yang sama.
Setelah bersikap kasar sebelumnya terhadap Digant, Biru sangat kesal melihat Devin hingga dirinya membuang muka begitu saja. Tidak senang dengan sikap Biru yang seolah tak mau melihatnya, membuat Devon beranjak untuk duduk di dekat Biru, namun sebelum Devon sampai, seseorang tiba-tiba menghampirinya dengan nafas terengah-engah.
"Von, Alex di panggil ke ruang guru"
"Kenapa?" Tanyanya penuh selidik
"Berantem sama Digant"
__ADS_1
"Digant?"
Sumber suara tersebut berasal dari Biru, bahkan tanpa mengatakan apapun lagi Biru berlari untuk menyusul Digant di ruang guru. Sesampainya disana ternyata Devon juga berada di belakangnya.
Keduanya mendengar apa yang dikatakan oleh guru pembimbing, dan saat itu yang membuat terkejut keduanya ketika mendengar pembelaan dari Alex, dimana Alex mengatakan jika ia melakukan hal tersebut karena Digant bertindak asusila terhadap Zia.
"Gak mungkin pak, Digant bukan orang seperti itu" Tegas Biru yang kini ikut masuk, begitupun dengan Devon.
"Kalian kenapa ikut masuk, lebih baik kalian keluar sekarang" Titah sang guru.
"Bapak lupa siapa saya?" Lagi-lagi Devon menggunakan koneksinya hingga membuat Biru semakin kesal.
"Bapak ingat Devon, tapi masalah ini bukan urusan kamu. Ini adalah masalah yang di sebabkan oleh Alex dan juga Digant, jadi bapak minta kamu dan Biru keluar" Sang guru pun tetap menyuruh keduanya keluar, tetapi tidak satupun dari mereka yang menurutinya.
"Tapi pak, saya yakin Digant tidak akan melakukan hal seperti itu. Karena Digant adalah seorang yang sangat sopan terhadap perempuan" Lagi-lagi Biru membela Digant dan membuat Alex mengepalkan tangannya.
"Apa yang bisa membuktikan ucapan kamu Biru?"
"Karena saya sudah berteman lama dengan Digant. Meskipun kami sedang berdua, Digant gak pernah yang namanya kurang ajar pak."
Seketika ucapan Alex membuat Biru terdiam. Ia berpikir apa yang dikatakan Alex mungkin ada benarnya, tetapi lagi-lagi ia membuat semuanya terdiam dengan jawabannya.
"Hanya orang buruk yang berpikir orang lain buruk. Karena dia nganggep semua orang sama kayak dia" Semua menatap kea arah Biru yang dengan berani menjawab ucapan dari Alex.
"Udah diem semuanya" Kini Zia pun angkat bicara.
Ia menatap guru pembimbing dengan lekat.
"Pak, tadi itu slah paham pak. Tadi Digant lagi duduk dan saya gak sengaja ngagetin dia. Dan karena itulah keseimbangannya keganggu terus kak Alex ngeliat dan salah paham pak"
"Apa itu benar? Kamu mengatakan itu bukan karena seseorang bukan?" Guru pun memastikan dan Zia pun segera menganggukinya.
__ADS_1
Akhirnya semuanya di perbolehkan untuk keluar dari ruangan tanpa mendapat hukuman. Tetapi Alex masih saja tidak percaya dengan ucapan Zia. Ia tau jika kembarannya menatuh rasa dengan Digant, sehingga ia menduga Zia mengatakan hal itu hanya untuk melindungi Digant.
"Ayo Gan, kita pergi" Biru menarik lengan Digant dan bergegas pergi.
Ketika sampai di rooftop tempat biasa mereka mencari ketenangan, Digant teringat dengan ucapan Alex tentang Biru.
"Biru, lo diem aja? Lo diem bukan karna omongan Alex kan?"
"Huh, omongan Alex? Omongan Alex yang mana si Gan?"
"Jadi lo gak inget apa yang di omongin Alex?"
Biru terlihat mengingat-ingat sesuatu, namun ia hanya menggeleng dan membuat Digant mengulas senyum tipis di wajahnya.
"Lo emang ya.. Cewek aneh" Digant mengacak pelan rambut Biru hingga membuat Biru segera mendorong tangannya.
"Ih berantakan lah Digant" Sungut Biru sembari merapikan rambutnya.
Keduanya hanya menatap jauh, entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas saat itu keduanya tidak membicarakan apa-apa lagi.
'Apa yang di omongin Alex ada benernya. Mungkin aja selain lo orang baik, sopan, gue emang cewek yang gak bikin cowok tertarik. Jadi aman-aman aja kalo gue temenan sama cowok' Biru tersenyum getir.
_
Brak
Alex meneng sebuah bangku di dalam kelas. Ia masih kesal karena Digant tidak mendapatkan hukuman apapun. Dan hal itu semakin membuat ia mempunyai kekesalan tersendiri terhadap Biru.
"Lo mau kemana Von?"
"Gue mau cari Biru" Balas Devon dan berlalu pergi.
__ADS_1
'Lagi-lagi cewek itu. Okey, gue harus bener-bener bertindak. Gue nggak mau Zia deket sama Digant, gue harus bikin Devon gak ngejar Biru dan balikan sama Zia'
Bersambung