Digant

Digant
Bab 7 (Estafet Tongkat)


__ADS_3

Kegiatan belajar sudah di mulai, karena hari ini jam olah raga, Zia belum mendapat seragam. Karena Devon adalah ketua kelas, saat itu Devon diharuskan untuk mengantarkan Zia untuk meminta seragam olahraga.


"Lex,lo yang anter adek lo. Gue ada urusan" Devon melenggang dan langsung pergi ke lapangan untuk pelajaran olahraga.


"Nggak, gue nggak mau sama lo bang." Zia lalu menoleh ke arah Digant dan Biru. Ia lalu menggandeng Biru untuk mengantarnya mengambil seragam miliknya.


"Biru, anterin gue ya"


"Oh oke"


Disaat Biru mengantar Zia, yang lainnya pun segera menyusul Devon ke lapangan.


"Oke anak-anak, kalian keliling lapangan sepuluh kali"


Setelah pemanasan,semua murid kelas XI di wajibkan untuk berlari mengelilingi lapangan. Usai melakukannya murid-murid harus melakukan permainan estafet tongkat.


Guru mengatur satu kelompok berisi empat orang, dan saat itu Biru lah yang merasa kesal karena harus satu regu dengan Devon, Alex dan Sena. Sementara Digant satu regu dengan Zia, argo dan Pita.


Setelah mengatur posisi, pertandingan pun di mulai. Dari enam kelompok, kelompok Digant dan Devon bersaing dengan ketat. Namun saat itu Zia yang menjadi penentu bersaing dengan Biru justru terjatuh hingga membuat lututnya berdarah.


"Zia" Teriak Devon. Namun ketika Devon ingin membantu Zia, saat itu Digant sudah lebih dulu membantu Zia untuk berdiri.


Sontak suara Devon membuat Biru berhenti dan segera pergi ke arah Zia.


"Astaga, Zia. Digant cepat bawa Zia ke UKS"


Digant akhirnya menggendong Zia untuk ke UKS dan diikuti oleh Biru dan juga Alex. Di sana Biru membantu mengobati luka yang ada di lutut Zia.


Melihat Zia menyengir kesakitan, membuat Alex ikut merasa sakit. Meskipun mereka selalu bertengkar, tetapi mereka juga saling menyayangi. Dan begitulah anak kembar, jika satu sakit yang lain pun akan merasakan sakitnya.


Usai di obati, Zia terlihat celingukan seperti mencari seseorang. Saat itulah Alex tau jika Zia mencari keberadaan Devon.


"Udah nggak usah di cari, dia juga khawatir tadi liat lo jatuh"


"Apa si bang Alex"


'Apa iya tadi Digant juga khawatir sama gue?' batin Zia.


Jam berjalan sangat cepat, hingga tiba jam pulang sekolah.


Ketika hendak masuk kedalam mobil Alex, Zia berhenti dan melihat Biru yang tengah pulang bersama dengan Digant. Dahinya berkerut indah, Zia pun segera masuk.


Di sepanjang jalan Zia masih memikirkan tentang apa yang ia lihat barusan. Karena penasaran akhirnya Ia mencoba mencari tau dari Alex.


"Bang, Digant sama Biru itu cocok ya. Merka pasti udah lama ya pacarannya. Bisa kompak gitu"


"Mereka itu nggak pacaran" Setelah menjawab pertanyaan dari Zia, Alex teringat jika Zia yang meninggalkan Devon. Dan meskipun Zia adalah adiknya, Alex tidak membenarkan hal itu. Dan dari situlah Devon mencoba memancing Zia.


"Dan satu lagi, Biru itu lagi di deketin sama Devon. Tapi karena Biru nolak terus, makanya Devon jadi semangat banget buat ngejar Biru"sambungnya lagi.


" Huh, Devon suka sama Biru?"


"Beneran kok. Emang kenapa, kenapa lo heran gitu?"


"Itu bang, kayaknya Devon itu dulu tipenya yang lembut. Kalo Biru menurutku si sedikit ceplas ceplos, kayaknya bukan tipenya Devon deh"


"Emang lu dulu kenal sama Devon? Kok lu nggak pernah cerita sma gua Zi?"


Alex sengaja tidak mengatakan jika dirinya sudah tau tentang hubungan antara Zia dan juga Devon. Alex ingin tahu apakah adanya itu akan mengatakan yang sebenarnya tentang hubungannya dulu dengan Devon.


"Iya kenal, dulu kan Devon satu sekolahan sama Zia bang waktu SMP"

__ADS_1


"Cuma itu, nggak lebih?" Alex berusaha memancing Zia. Tetapi Zia tidak mengatakan apapun selain dirinya hanya satu sekolahan dengan Devon saat SMP.


Karena hal itulah Alex tau jika memang adiknya yang melukai perasaan Devon, dan menyebabkan Devon menjadi laki-laki yang dingin seperti saat ini.


_


Biru turun dari motor Digant, saat itu Digant ingin langsung pergi. Tetapi tetangga baru Biru sebelah rumahnya tiba-tiba menghentikan Digant.


"Maaf kak, boleh aku bertanya?"


Biru dan Digant saling menatap, saat itu ia dan Digant merasa bingung kenapa tetangga baru Biru mendadak menghentikan Digant dan ingin menanyakan sesuatu.


"Emm ibu mau menanyakan apa sama temen saya bu? " Tanya Biru


"Apa kamu ini anak Larasati? Kau anak Larasati pemilik toko Laras kan?"


"Bukan bu, aku anak dari Aindrilla Deepa dan Larasati adalah nenekku"


Perempuan itu mendadak terdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu . Raut wajahnya pun terlihat bingung ketika memandangi wajah Digant.


"Tapi bagaimana bisa,ibu mengenal nenekku? Dan kenapa ibu mengira kalau aku adalah anaknya?"


"Kau sangat mirip dengan anak Larasati dulu waktu aku masih sering datang ke tokonya nak"


"Tapi bu, nenekku tidak mempunyai anak laki-laki"


"Ah benarkah? Ah iya, mungkin aku hanya salah mengingat. Kalau begitu aku akan kembali ke rumah ku"


Seketika raut wajah ibu itu menjadi pucat pasi. Perempuan itu pun segera pergi meninggalkan Digant bersama dengan Biru.


Karena ucapan dari tetangga Biru, membuat pertanyaan muncul kembali di hati Digant. Ingin sekali Digant menyelidiki hal itu kembali, tapi ia tidak ingin mamanya bertambah marah. Karena hingga detik ini Digant belum berbicara dengan ibunya.


"Udahlah Ru, gue nggak mau mikirin itu sekarang. Sekarang yang lebih penting itu nyokap gue, gue nggak mau nyokap gue tambah kecewa kalo gue nyelidikin itu lagi"


Karena tidak ingin mengecewakan ibunya lagi, Digant memilih untuk tidak membahasnya lagi. Ia langsung kembali ke rumahnya.


Digant melakukan motornya dalam kecepatan tinggi, hingga setelah menmpuh oerjalan beberapa menit, Digant tengah sampai di rumahnya.


Ekor mata Digant menyusuri tiap sudut ruangan. Saat itu ia tidak mendapati Ain di rumah hingga muncul pikiran dimana ia menganggap mamanya masih marah kepadanya.


"Jadi mama benar-benar masih marah? " Digant menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


Merasa suntuk di rumah, Digant memilih untuk menemui Biru. Mereka pun bertemu di sebuah kafe. Tidak membutuhkan waktu lama, saat ini mereka sudah bertemu.


"Ada apa si Gan? "


"Nyokap gue kayaknya bener-bener marah Ru"


"Kenapa lo bisa ngomong gitu?" Biru menatap Digant penuh selidik.


"Mama nggak mau ketemu sama gue Biru"


Mendengar cerita dari Digant, saat itu Biru terdiam memikirkan sesuatu. Hingga Digant sendiri mengernyit karena ia baru kalo ini melihat Biru begitu serius ketika ia ajak membahas sesuatu.


"Gue punya ide"


Digant mengangkat dahunya. .


"Gimana kalo lo bikin kejutan buat nyokap lo. ya, gak usah gede acara kecil aja"


"Maksudnya? "

__ADS_1


"Ya lo bikin apa gitu yang berkesan buat nyokap lo. Coba deh lo inget-inget, apa yang mungkin bisa bikin kak Ain terkesan sama lo dan maafin lo"


Akhirnya saat itu bukan hanya Biru yang terdiam, Digant pun sama halnya. Bahkan ia juga manggut-manggut sembari memikirkan apa yang mungkin bisa membuat mamanya terkensan dan memaafkannya.


"Gimana kalo lo bikin makan malam buat kak Ain"


"Makan malam itu udah biasa Biru"


Biru menggeleng setelah Digant mentakan hal itu. "Kalo lo yang masakin kak Ain, itu jadi makan malam spesial Digant"


Lagi-lagi Digant mengerutkan dahinya. Ia sedikit bingun dengan apa yang dikatakan Biru. Memang apa bedanya makan malam di restoran atau dirinyalah yang memasak, itu akan sama saja. Itulah yang di pikirkan oleh Digant.


"Ah dasar Kulkas, bagi perempuan sesuatu yang sepesial itu nggak melulu sama mahal atau mewah Digant. Perempuan akan mudah tersentuh sama yang namanya ketulusan. Dan kalo lo yang masakin kak Ain, pasti lak Ain bakal terharu dan maafin lo"


"Lo bener juga Ru, kalo gitu sekarang lo ikut gue"


Mendadak Digant menarik lengan Biru dan segera mengajaknya ke suatu tempat. Hingga setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Digant menghentikan kendaraannya tepat di sebuah pusat perbelanjaan.


"Gue nyuruh loasak Digant, bukan buat ke jalan ke sini" Cerita Biru.


Dan saat itu seperti biasa, dengan mudah Digant memegangi kepala Biru dan membuat Biru tidak bisa melangkah.


"Dasar pendek, yang mau jalan itu siapa? Gue ngajakin lo kesini biar lo bisa milihin bahan makanan apa yang nantinya gua masak Biru" Setelah mendengar pernyataan dari Digant, Biru menyengir kuda.


Biru dan Digant mulai memilih sayuran yang akan di olah oleh Digant nantinya. Ia juga memilih beberapa protein. Dan karena terlalu fokus untuk berbelanja, Biru tanpa sengaja menabrak seseorang hingga barang bawaan orang yang ia tabrak terjatuh.


"Aduh, maaf" Biru segera memunguti barang belanjaan yang berserakan di lantai. Ia lalu memaaukannya kedalam tas belanjaan lagi dan mengembalikannya kepada pemiliknya.


"Ini tante belanjaannya. maaf ya tante, Biru nggak sengaja nabrak tante"


"Iya nggak papa nak, tante tadi juga meleng, makanya bisa nabrak kamu"


Saat itu Digant yang baru datang dari toilet pun mengernyit. Ia tidak tau Biru saat ini berbicara dengan siapa, karena semenjak mengenal Biru, Biru tidak pernah mengenalkan sosok yang saat ini tengah berbincang dengannya.


Setelah perempuan yang bertabtakan dengan Biru sudah pergi, Digant menghampiri Biru. "Siapa Biru? "


"Huh? Oh itu, tadi gue nggak sengaja nabrak tante yang tadi dan bikin badan belanjaannya jatuh Gan"


"Oh gitu, gue kira siapa. Pantesan lo nggak pernah ngenalin ibu yang tadi, ternyata bukan siapa-siapanya lo"


"Ya kali gue ngenalin lo, yang ada nanti dikira gue ngenalin calon imam gue lagi"


Keduanya terkekeh setelah mendengar ucapan dari Biru


Tanpa mereka sadari, ketika mereka bercanda seperti itu dari kejauhan dia pasang mata memperhatikan mereka berdua.


"Bukannya mereka jadi temen terlalu deket ya bang Alex"


"Ya enak kenapa kalo mereka deket, bukan urusan kita juga. Udah ayo cepet, nanti bunda kelamaan nungguin kita"


Saat itu Zia dan Alex yang tengah mengantar ibunya berbelanja bulanan tidak sengaja melihay kebersamaan dari Digant dan Biru. Entah mengapa di dalam hati Zia, ia merasa begitu penasaran dengan hubungan antara Digant dan juga Biru.


"Lebih baik gue tanya aja sama Biru, apa hubungN mereka" Zia pun mengeluarkan ponselnya hendak mengirim pesan, tetapi mendadak ia mennepuk kepalanya pelan.


"Astaga, gue kan belum punya nomor Biru, kalo gitu besok di sekoalahan mending gue langsung tanya aja sama Biru"


Melihat tingkah adiknya, Alex merasa jika saat ini adiknya tengah tertarik dengan Digant "gue nggak bisa biarain itu. Kalo Devon tau, Devon pasti kecewa. Gue tau kalo Devon masih ada rasa sama Zia, dan gue lebih setuju kalo Zia sama Devon, karena gue udah kenal Devon itu kayak apa. Lihat aja Digant kalo lo berani deketin adek gue, gue gak akan tinggal diem"


Entah mengapa, Alex tidak pernah suka dengan Digant. Padahal Digant sendiri tidak pernah membuat kesalahan atau mengajaknya ribut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2