
Ain menangis didalam pelukan Biru. Perasaanya hancur karena ia menganggap dirinya tidak bisa menjaga Digant dengan baik.
"Mama Laras, maaf. Maaf Ain nggak bisa jagain Digant ma"
"Tenang kak, Digant pasti akan selamat" Biru berusaha meyakinkan Ain. Begitupun dengan Zia, Zia yang bagus selesai di obati langsung ikut menenangkan Ain.
Tetapi saat itu Devon juga datang mendekat dan berjongkok di hadapan Ain yang tengah menagis"Tenanglah, Digant akan baik. Sekarang lebih baik kau duduk di sini"
Ain menatap lekat wajah Devon. Ada kerinduan yang begitu besar di sorot matanya. Tetapi ia juga harus menahannya agar tidak ada yang mencurigainya.
Setelah Ain duduk, Devon meminta Zia untuk menemani Ain. "Temani dia, gue mau nganterin Biru biar dia di obati"
Devon menarik Biru untuk mengikutinya, tetapi Biru menolak dan menghempaskan tangan Devon.
"Gue bakal nungguin Digant sampek dokter bilang kalo Digant udah aman. Sebelum itu, gue bakalan tetep disini sama mereka"
"Lo itu juga luka-luka, jadi lo harus di obati atau luka lo bakal infeksi"
Mendengar ucapan Devon, Ain bangkit dan melihat keadaan Biru yang sudah sangat lusuh dengan luka di kaki dan juga tangannya.
"Biru, apa kamu mau dimarahi Digant setelah dia sadar nanti?" Dengan wajah yang terlihat sangat sendu, Ain berusaha membujuk Biru.
Biru menggeleng, dan saat itu Ain tersenyum tipis dan membantu Biru untuk bangkit. "Ikutlah dengan Eiz- eum Devon. Dokter akan mengobati lukamu. Setelah itu, kau bisa menemani sahabatmu lagi" Akhirnya Biru menuruti ucapan Ain dan pergi bersama dengan Devon.
'Aku tidak akan memanggilnya Eizel, mereka akan curiga jika aku memanggilnya dengan sebutan yang berbeda dari yang lain'
Setelah di obati, Biru kembali menemani Ain bersama dengan Zia. Saat itu Ain langsung memeluk Biru dengan sangat erat.
'Ternyata mamanya Digant deket banget sama Biru'
Ceklek
Pintu IGD terbuka, saat itu Dokter mencari keberadaan dari Ain.
"Bu, apakah tidak ada lagi yang memiliki golongan darah A- ? Pasien sudah sangat kritis. Jika tidak ada yang mendonorkan darah lagi, maka kita hanya bisa menyerahkan semuanya kepada yang di atas"
"Aku yang akan mendonorkan darahku Dokter"
Sontak semuanya mencari sumber suara. Seketika Devon menghampiri asal suara tersebut.
"Papa, kenapa papa ada disini?"
"Papa mendengar temanmu sudah di bawa ke rumah sakit ini, makanya papa datang Devon. Dan kebetulan golongan darah papa sama dengan temanmu, jadi papa bisa mendonorkan darah papa"
__ADS_1
Dengan segera tuan Irgan mengikuti dokter untuk melakukan transfusi darah. Sementara itu, Ain terus berdiri di depan pintu ruangan dengan kecemasannya.
Cukup lama tuan Irgan didalam ruangan. Hingga setelah setengah jam lebih, tuan Irgan baru bisa keluar dari dalam ruangan.
"Pa, papa duduk disini" Devon membantu Irgan untuk duduk. Saat itu ia melihat ayahnya yang lemas, Devon pun segera mencarikan makanan untuk ayahnya agar segera pulih.
"Tuan Irgan, saya mengucapkan banyak terimakasih atas yang tuan lakukan untuk anak saya. Kali bukan karena tuan, entah apa yang terjadi dengan Digant." Ucap Ain sembari menggenggam tangan Irgan.
Ketika Irgan melihat sosok Ain dihadapannya, mendadak hatinya terasa bergetar. Dalam seketika ia mengingat tentang putri sulungnya. Hal itu pun membuat Irgan mengusap kepala Ain dengan sangat lembut.
"Tidak perlu berterimakasih nak, semua orang sudah wajib menolong sesama. Dan itulah yang sudah aku lakukan, kewajiban."
Setelah menjalani transfusi darah, Digant di pindahkan ke sebuah ruangan yang lebih intensif untuk kesembuhannya.
_
Tak tak tak
Jari yang jenjang terus mengetuk-ketuk di atas meja, dan sesekali mencekal sebuah gelas yang berisikan minuman.
Bahkan seseorang yang disebelahnya merasa heran dengan apa yang ia lakukan. Dari semalam hingga pagi, ia tidak sedetikpun memejamkan matanya untuk beristirahat.
"Dengar Zaki, apa kau bisa mempercayai ucapan perempuan itu? Dan bukti itu, apakah itu asli? "
"Aku juga berpikir seperti itu tuan Arthur, mana mungkin seorang perempuan wanita muda sepertinya mempunyai anak seusia Devon?" Timpal Zaki.
"Tapi tuan Arthur, kenapa kita harus memikirkannya hingga kita tidak tidur seperti ini? Apa pengaruhnya dengan kita?"
"Entahlah Zaki, yang jelas aku merasa ada sesuatu yang menarik dengan perempuan itu. Sepertinya banyak hal misterius yang dia sembunyikan"
Ting tung
Mendengar suara bel rumahnya, Arthur dan Zaki saling menatap. Keduanya tidak tau siapa yang bertamu di pagi buta seperti ini.
Untuk mengetahuinya, Arthur dan juga Zaki turun bersamaan dan segera membuka pintu.
"Kejutan"
"Dara? Kenapa kamu datang ke rumah kakak?"
"Huh, jadi itu sambutan dari kakak? Padahal kita udah nggak ketemu selama dua tahun kan kak? Dan semua itu gara-gara wabah Covid kan. Tapi apa yang Dara dapet? Kakak malah kayaknya nggak seneng kalo Dara kesini"
Gadis kecil yang masih berusia belasan itu merajuk dan mengerucutkan bibirnya karena kakaknya tidak begitu gembira dengan kehadiran nya.
__ADS_1
"Tidak seperti itu Dara, kakak hanya tidak menyangka kamu pulang ke Indonesia"
Arthur berjalan dan bergegas memeluk adik perempuannya itu. Tetapi Dara menghindar dan justru memeluk Zaki dengan erat.
"Sekarang kau adalah kakak favorit ku. Dan dia adalah kakak saja"
Mendengar ucapan adiknya yang merajuk membuat Arthur terkekeh. Selain dekat dengannya, Nowella Andara memang sangat dekat dengan Zaki seperti kakaknya sendiri. Sehingga tidak heran jika Dara tiba-tiba memeluk Zaki dan bersikap manja.
"Baiklah, kalau begitu janjiku akan aku batalkan"
Seketika Dara teringat janji dari Arthur. Saat itu Arthur pernah berjanji, jika Dara kembali ke Indonesia dan bersekolah di indonesia, ia akan membelikan adiknya itu sebuah mobil apapun sesuai permintaan dari adiknya. .
Mendengar pernyataan dari Arthur, Dara segera melepas pelukannya dari Zaki dan segera memeluk Arthur dengan erat.
"Eits Dara, jangan memelukku seerat ini. Aku tidak bisa bernafas"
"Eh sorry kak. Tapi janji kakak jangan di ingkari okey"
"Ya, sekarang pergilah"
"Tunggu-tunggu kak, apa kakak tidak mau tau kenapa aku kembali dan ingin bersekolah di sini? "
"Aku punya sahabat pena tau kak, dan dia sekolah di sekitar sini. Dan aku mau kakak daftarin aku kesekolah itu"
"Laki-laki atau perempuan? "
"Cowok si kak"
Mendengar jawaban dari Dara, membuat Arthur menjadi naik pitam. Pasalnya ia ingin adiknya fokus dengan pendidikan tanpa memikirkan untuk lawan jenis di usianya yang masih sangat muda.
"Dengar Dara, kakak nggak suka kamu terlalu deket sama cowok. Kalau kamu deket sama cowok, lebih baik kamu balik ke luar negeri. Kakak mau kamu fokus belajar" Ucap Arthur dengan nada suara yang meninggi.
Melihat kakak ya yang tidak suka dengan ucapannya, Dara berlari ke atas dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Ia mengunci pintu kamarnya dan menangis sesenggukan.
"Dara, keluar. Jangan seperti ini."
"Nggak, Dara akan pergi aja. Buat apa Dara ke sini kalo kakak aja nggak sayang sama Dara."
"Jangan melakukan hal yang tidak benar Dara. Buka pintunya"
Karena Dara tak kunjung membukakan pintu Arthur dan Zaki berusaha membuka pintu kamar Dara dengan mendobraknya.
"1.. 2.. 3"
__ADS_1
Brakkk
Bersambung