Digant

Digant
Bab 6 (Murid Baru)


__ADS_3

Zia berjalan memasuki rumahnya dengan senyum mengembang di wajahnya. Hal itupun membuat Alex mengernyit.


"Lu kenapa Zi?"


"Ada deh, kepo ya"


"Enggak biasa aja gue" Sahut Alex dan kembali bermain dengan ponsel ditangannya. Meskipun Alex merasa ingin tau tetapi ia memilih untuk melanjutkan untuk bermain game kesukaannya.


"Bunda mana?"


"Ada di dapur kayaknya"


Setelah mendapat jawaban dari Alex, Zia bergegas pergi ke dapur untuk menemui ibunya di dalam. Ia memeluk ibunya dari belakang. Dan meletakkan seblak di atas meja dapur.


"bunda, zia punya seblak ceker lo. Itu seblak yang super spesial, soalnya gratis"


Mendengar ucapan Zia, Diana melepas pelukannya dan menatap lekat anak gadisnya yang masih terus mengembangkan senyumnya.


"Gratis?"


"Iya bun, soalnya itu di kasih sama cowok yang kemaren nolongin aku dari jambret bun"


"Apa? Jadi kamu kemaren di jambret?"


"Iya bun, tapi Zia nggak papa kok. Ada dia yang nolongin Zia. Dan tadi pun waktu Zia beli seblak, dia ngasih seblak punya dia karna Zia udah nggak kebagian, baik banget kan bun dia? "


"Eh ada apa ini, kenapa anak bunda merona?"


"Ih apaan si bun"


Dengan malu-malu Zia pergi ke kamarnya. Melihat tingkah anak gadisnya yang menjadi salah tingkah seperti itupun membuat ibunya terkekeh.


Keesokan paginya Zia bangun lebih pagi. Bahkan ia sudah bersiap untuk masuk ke sekolah barunya. Zia sudah menunggu Alex didalam mobil milik Alex yang biasa Alex naiki untuk pergi ke sekolah.


Sementara itu dilain tempat, saat ini Digant sudah datang. Di sana Digant seperti biasa hanya akan duduk di kelasnya atau pergi ke gor basket untuk bermain basket ketika dirinya merasa gelisah.


Keahliannya dalam bermain basket sudah tidak di ragukan lagi karena memang dirinya dulu adalah ketua team ketika menginjak bangku SMP. Tetapi ketika menginjak bangku SMA Digant tidak ikut berpartisipasi karena alasan malas. Saat ini Digant hanya bermain basket hanya ketika dirinya ingin.


Dengan berbagai macam teknik, Digant begitu piawai dengan di kulit bundar. Dan tanpa Digant sadari, beberapa siswi melihat aksinya dan membuat lebih banyak lagi yang menyaksikannya bermain basket. Hingga ketika ia usai, Digant mendapat tepuk tangan yang sangat keras dari dia orang siswi terutama dari seorang siswi yang bahkan saat itu datang bersama dengan Alex.


Rambut panjang yang di biarkan tergerai menambah keanggunan siswi tersebut. Ya, siswi tersebut adalah Zia yang baru pindah dan menjadi salah satu murid di SMA Persada.


Zia melempar bola basket ke arah Digant dengan senyum manis menghiasi wajahnya. "Makasih"

__ADS_1


Digant mengerutkan dahinya mendengar ucapan terimakasih dari Zia. Tetapi bukannya menanggapi Zia, Digant justru langsung melenggang pergi meninggalkan Zia berdiri sendirian di tengah lapangan. Dan ketika Zia berbalik ke arah Alex, ia justru di tertawakan eh Alex hingga membuat Zia berlari dan menutup mulut Alex dengan telapak tangannya.


-


Biru duduk diseberang meja Digant. Ia menatap lekat Digant. Mendapat tatapan yang tidak biasa dari Biru membuat Digant mengangkat kedua alisnya seakan bertanya kepada Biru, dan Biru menggeleng.


Tidak biasa mendapati sikap Biru yang seperti itu, membuat Digant berganti duduk di hadapan Biru.


"Ada apa? Ada yang mau lo tanyain sama gue? "


"Eumm ya gue heran aja. Biasanya lo gue paksa buat ikut basket susah banget. Tapi tadi, lo malah main basket sendirian di GOR"


"Oh itu, gue cuman lagi gak enak ati aja udah bikin nyokap gue kecewa kemarin"


"Oh ya, tapi sekarang lo udah baikan kan sama kak Ain?"


Digant menggeleng. Sejak pagi bahkan Digant belum bertemu dengan Ain karena Ain berangkat lebih pagi sebelum Digant keluar kamar. Dan ketika mereka sedang berbincang, lagi-lagi Devon datang menghampiri Biru.


"Pagi Biru"


Biru hanya melirik sekilas kemudian ia memutar bola matanya malas. Entah kenapa Biru merasa jika Devon itu penuh siasat. Devon tidak pernah tulus jika berbincang dengannya.


"Digant, ngantin yuk. Gue laper"


"Ya, kebetulan gue juga belum makan dari semalem"


Sesampainya di kantin, seperti biasa Biru dan Digant memesan bakso favorite mereka. Ya,meskipun sekolahan tersebut sudah menyiapkan prasmanan untuk anak-anak muridnya, tetapi tidak sedikit murid-murid yang juga memilih untuk membeli menu main seperti Digant dan Biru saat ini.


Ketika Digant dan Biru tengah menyantap bakso yang mereka pesan, tiba-tiba pedagang yang ada di kantin sekolahan tersebut datang dan membawa setiap menu andalan mereka sehingga memenuhi meja Digant dan Biru.


"Maaf Bu, kita nggak pesen makanan-makanan ini" Protes Biru.


"Itu gue yang pesen buat lo" Suara seseorang yang sangat tidak asing membuat Digant dan Biru menoleh ke arah sumber suara.


Mengetahui bahwa Devon yang memesan semua makanan yang ada di mejanya, Biru bangkit dan memindahkan semua makanan kecuali miliknya ke sebuah meja yang dimana ditempati oleh Devon.


"Denger ya cowok tukang pamer, gue bukan kingkong yang makan semua makanan ini. Jadi lebih baik lo yang abisin sendiri"


Biru pun segera mengajak Digant untuk pergi dari kantin. Ia merasa kesal karena terus di ganggu oleh Devon. Biru sendiri tidak tau apa yang membuat Devon bersikap seperti itu kepadanya. Yang ia tau, jika Devon melakukan hal itu, itu tidak akan baik.


"Kak Digant, kakak tadi keren banget lo main basketnya" Ucap salah satu adik kelas. Dan hal itupun membuat Biru tidak melepaskan untuk menggoda sahabatnya itu.


"Ciee.. Fans nya udah mulai banyak nih yang katanya most wanted di SMA Persada"

__ADS_1


Bukannya menjawab ucapan Biru, Digant justru hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya dan membentuk senyum smirk.


"Dasar pendek, lo nggak sadar. Disni tu lo yang jadi perhatian anak-anak" Ucap Digant sembari menekan kepala Biru yang memang tingginya hanya sebatas pundaknya.


"Eh kok gue? "


"Ya lo kan sekarang kayak lagi dideketin banget tu sama Devon, jadi siap-siap aja jadi pusat perhatian dari semua fans Devon"


"Hii ogah gue sama si cowok tukang pamer"


Tanpa terasa perbincangan mereka segera usai karena mereka sudah berada didalam kelas, dimana saat itu mereka berdua mendapat tatapan yang tidak menyenangkan dari Devon dan anak-anak yang ada dikelas tersebut. Tetapi Biru dan Digant pun tidak memperdulikannya dan kembali melanjutkan obrolan mereka.


"Anak-anak, hari ini kalian kedatangan murid baru ya"


Semua terdiam ketika guru mereka mengatakan akan ada murid baru di kelas mereka.


Tap


Tap


Tap


Semua mata terpanah dengan kecantikan siswi yang baru saja masuk. Terlebih saat itu Devon pun ikut terdiam mendapati murid baru tersebut adalah orang yang sangat ia ingin lupakan.


"Perkenalkan diri kamu"


"Hai semua, nama aku Zia Callysta. Semoga kita mudah berteman"


Setelah perkenalan, Zia duduk tepat di sebelah kursi samping seberang Digant dan lebih tepatnya diantara Devon dengan Digant. Tidak sedikit dari mereka menganggap jika Zia adalah kandidat untuk mendapatkan hati Most wanted sekolahan.


"Hai kenalin nama gue Biru" Biru mengulurkan tangannya, dan dengan senang hati Zia meraih telapak tangan Biru.


"Gue Zia, semoga kita bisa akrab" Sahutnya dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.


Sementara itu rahang Devon mengeras, dan hal itupun di sadari oleh Alex.


"Lo kenapa Von? Gue liat sejak Zia masuk, lo keliatan nggak suka"


"Dia cewek yang gue maksud selama ini Lex"


"Huh, dia adek gua Von. Lebih tepatnya dia kembaran gue"


"Apa? "

__ADS_1


Kedua bola mata Devon membulat sempurna mengetahui fakta jika mantan kekasihnya adalah kembaran dari sahabatnya sendiri.


Bersambung


__ADS_2