
Hujan semakin deras Tim SAR dan juga Biru dengan Devon terus mencari keberadaan Digant yang hanyut terbawa arus. Sementara Zia, ia tidak bisa melanjutkan untuk ikut serta dalam pencarian Digant karena kakinya yang sempat yerkilir belum benar-benar pulih.
Devon dan Biru memutuskan untuk berpencar dari tim SAR bukan tanpa alasan, melainkan saluran dari jurang tersebut terbelah menjadi dua arah, dimana mereka tidak bisa menyita waktu untuk menyusuri satu persatu aliran air.
Brugh
Ketika Biru dan Devon berlari berusaha mencari keberadaan Digant, Biru justru terjatuh hingga membuat luka di lututnya semakin parah.
Melihatkan keadaan Biru seperti itu membuat Devon harus menggendongnya.
"Naik ke punggung gue"
"Gue bisa jalan"
"Itu bakalan lama. Kalo tim SAR nggak bisa nemuin Digant, itu berarti dia ada di jalur ini. Dan kalo lo lama, bisa-bisa Digant nggak bisa ketolong"
Setelah mendengarkan ucapan dari Devon, Biru tanpa berpikir segera naik ke atas punggung Digant.. Mereka berjalan cukup lama untuk mencari Digant
Sementara itu di tempat lain, saat ini Ain harus berurusan dengan polisi yang akan membawanya ke kantor polisi karena laporan yang di lakukan oleh Zaki atas perintah dari Arthur.
"Pak, ini menyangkut keselamatan anak saya. Kalo bapak menghalangi saya dan terjadi apa-apa dengan anak saya, maka bersiaplah kalian semua akan mendapat tuntutan dari saya" Ain memperingatkan polisi dan juga Arthur.
Saat itu polisi bersikeras membawa Ain ke kantor polisi, tetapi Ain meminta waktu untuk menghubungi seseorang.
Setelah menunggu beberapa menit seseorang mengirimkan sebuah foto ke ponsel milik Ain, saat itulah Ain memperlihatkan sebuah foto kartu keluarga miliknya. Diakan saat itu ada dua orang, yaitu dirinya dan juga Digant.
Karena mempunyai bukti yang sudah tidak bisa di bantah, Ain bisa lepas dari polisi tersebut. "Saat ini aku tidak punya banyak waktu. tapi ingat tuan Arthur, jika terjadi sesuatu dengan anakku, makan kau akan bertanggung jawab untuk itu"
Ain bergegas pergi dan segera menuju lokasi dimana Digant mengadakan camping dengan teman- teman dan juga gurunya.
Dimalam hari yang juga turun hujan, Ain terus melakukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Ia tidak perduli dengan apapun. Bahkan Ain menempuh perjalanan yang seharusnya memakan waktu sekitar 3 jam, ia hanya membutuhkan 2 jam lebih untuk sampai.
Ain berlari ke arah semua murid berkumpul. Ia tidak perduli dengan pakaiannya saat ini, yang ia tau oa harus mencari keberadaan putranya saat ini.
"Maaf Pak, apa anak saya Digany sudah di ketemukan?"
"Saat ini tim SAR masih mencarinya, mohon anda menunggu disini"
"Apa? Mana bisa aku berdiam diri seperti ini kalau anakku saja belum tau dimana keberadaannya pak"
Ain tidak memperdulikan ucapan dari guru Digant, ia bersikeras untuk mencari Digant. Tetapi ketika ia hendak berlari, seseorang mencekal lengannya dan menahannya.
"Jangan tante, medan di sekitar jurang sangat berbahaya. Aku aja yang tadi ikut nyari harus segera balik kesini. Tante tenang aja dulu, Digant udah di cari sama tim SAR dan juga Devon" Meskipun dirinya juga cemas memikirkan keberadaan Digant, Dia berusaha menenangkan Ain agar tidak terlalu mengkhawatirkan Digant.
__ADS_1
"Tapi Digany satu-satunya anak sekaligus keluargaku, mana mungkin aku tidak mencarinya"
Ain tetap berlari, tetapi Alex segera mengejarnya. Ia tidak membiarkan Ain untuk pergi sendirian.
"Tunggu kak, biar aku temani" Alex memang sudah tau jarak usia dari Ain dengan Digant, sehingga ia memanggil Ain dengan sebutan kakak. Tidak seperti Dia yang belum mengetahuinya meskipunn Dia juga bingung kenapa ibu dari salah satu temannya begitu muda.
Saat itu Ain yerus menyusuri hutan untuk mencari Digant dengan ditemani oleh Alex. Melihat pakaian Ain yang terbuka membuat Alex menyerahkan jaket yang ia kenakan.
"Kak, pakai ini. Kau pasti sangat kedinginan"
"Terima kasih"
Ketika keduanya berbincang, saat itulah mereka melihat Devon dan juga Biru yang bersusah payah menarik seseorang dari arah aliran saluran air dari jurang. Ain dan Alex segera berlari untuk melihat, apakah orang yang Biru dan Devon tolong adalah Digant.
"Digant"
Pekik Ain yang baru saja melihat keadaan Digant yang sedang pingsan dengan luka di bagian kepalanya.
Dengan segera Ain memeluk anaknya yang tidak sadarkan diri. Ain berusaha membangunkan Digant. Namun usahanya tidak membuahkan hasil, sehingga Devon dan juga Alex mengangkat tubuh Digant untuk di bawa ke tempat mereka mendirikan tenda.
Sesampainya di sana, Digant di tangani oleh petugas medis yang hadir bersama tim SAR. Namun karena keadaan Digant yang terluka parah Digant harus di larikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan.
Disaat Digant di bawa ke rumah sakit, saat itu miris yang lainnya akan di antarkan pulang. Kecuali murid-murid yang mengalami luka, mereka akan ikut serta ke rumah sakit bersama dengan Digant.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, mereka telah sampai di sebuah rumah sakit terdekat dari lokasi Camping.
Digant segera di bawa ke dalam IGD. Selang beberapa menit seorang suster keluar dari ruangan.
"Maaf dimana keluarga pasien"
"Saya Sus, saya ibunya"
"Begini bu, pasien kehilangan banyak darah, jadi pasien harus mendapat donor darah secepatnya. Dan stok golongan darah A- kosong karena darah sangat langka bu"
"Kalau begitu aku saja Sus"
"Baik Hu, mari ikut dengan saya untuk menjalani tes"
Usai melakukan tes, Ain hatus menunggu beberapa saat. Setalh itu seorang suster mendatanginya.
"Maaf Bu darah ibu tidak cocok, mungkin darah ayahnya akan cocok. Karena biasanya anak aman saat dengan golongan salah satu orang tuanya"
Ain sempat terdiam, sehingga saat itu suster yang ada dihadapannya pun menyadarkannya dari lamunannya.
__ADS_1
"Maaf suster, ayahnya tidak ada di sini"
"Kalau begitu aku saja Sus, dan mereka juga" Ucap Biru sembari menarik Devon dan juga Alex bersamanya untuk melakukan tes darah.
Dan mau tidak mau Alex dan jga Devon mengikuti arahan dari suster untuk melakukan tes darah.
'Semoga saja darah Devon akan sama dengan Digant' batin Ain.
Ketiganya sudah selesai melakukan tes. Saat ini Ain begitu berharap-harap cemas menunggu hasil tes dari Devon, Alex dan juga Biru. Selang beberapa saat seorang suster berjalan menemui mereka.
"Ada satu golongan darah yang cocok, yaitu darah milik Devon"
Benar saja harapan Ain, jika golongan darah dari Devon sama dengan golongan darah Digant.
"Baik kalau begitu mari ikuti saya untuk melakukan tranfusi darah"
Cukup lama Devon berasa didalam bersama dengan Digant. Hingga setelah beberapa menit Devon keluar dengan satu hatinya menahan kapas di lengan satunya. Namun saat itu seorang suster kembali keluar dengan wajah yang terlibat cemas.
"Pasien membutuhkan donor darah lagi bu"
"Apa? "
"Kalau begitu ambil saja darahku lagi Sus"
"Maaf tidak bisa, darah yang di ambil dari mas Devon sudah di batas maksimum, jadi kalian harus mencari donor lagi"
Akhirnya saat itu Ain dan juga yang lain berusaha menghubungi pihak Palang merah Indonesia dan juga dari beberapa rumah sakit terdekat. Tetapi sayangnya tidak ada satupun stok darah A-.
"Tidak ada satupun Sus, lalu apa yang akan terjadi?" Tanya Biru.
"Kalau begitu Nyawa pasien dalam bahaya"
Mendengar hal itu, tubuh Ain terperosot ke lantai. Airmatanya tidak bisa terbendung lagi.
"Kak, tenanglah. Kami akan mencari bantuan. Aku akan menghubungi keluargaku siapa tau ada yang cocok dengan Digant"
Semuanya kini sibuk dengan ponsel mereka masing-masing untuk meminta bantuan. Tetapi tidak satupun dari mereka yang mendapat kabar baik.
"Bagaimana ini? Bagaimana dengan Digant"
"Bu, pasien kritis. Pasien harus segera mendapat tranfusi darah" Ucap Suster yang baru keluar dari ruangan.
Sontak hal itu semakin membuat perasaan Ain semakin takut dan cemas.
__ADS_1
Bersambung.