
Digant terbaring menatap langit-langit kamarnya dengan penerangan temeram. Ia masih tidak habis pikir dengan mamanya yang selalu mengatakan alasan yang sama, yang menurutnya alasan tersebut tidak logis.
Digant memang percaya Tuhan itu maha segalanya, tetapi untuk zaman sekarang mana ada mukjizat seperti yang dikatakan mamanya. Seorang anak berusia 7 tahun bisa memiliki seorang bayi. Tentu saja itu adalah hal yang sulit masuk di pikiran Digant yang selalu menggunakan logikanya.
Tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dan membuyarkan lamunan Digant, dan sesaat setelah itu seseorang membukanya dari luar
"Digant, apa kamu udah tidur? "
"Belum ma, kenapa? "
"Kamu belum makan, sekarang ayo kebawah, mama udah manasin makanan kamu"
Digant mengangguki ucapan Ain dan bergegas mengikuti Ain turun untuk pergi ke meja makan. Disana Digant menyantap makanan yang sudah dibelikan Ain dalam diam. Digant memang tidak terlalu suka berbicara ketika ia sedang makan.
Usai menghabiskan makan malamnya, Digant kembali ke kamarnya. Karena kenyang Digant tidak bisa langsung berbaring di ranjangnya. Karena hal itu ia memilih untuk keluar dan menatap keindahan malam lewat balkon kamarnya.
"Apa iya gue harus ngeraguin nyokap gue? Tapi alasannya itu benar-benar gak logis. Jaman sekarang mana bisa seperti itu kan?"
Cukup lama Digant bermonolog sembari melihat hamparan lampu jalan yang terlihat dari atas balkon rumahnya, setelah merasa perutnya sudah tidak terlalu kenyang, akhirnya Digant kembali kedalam dan berbaring. Ia menatap langit-langit kamarnya hingga terlelap.
_
Digant terdiam di dalam kelas, saat itu belum terlalu banyak siswa yang datang.
"Kalo mama nggak mau ngomong yang sebenarnya sama gue, lebih baik gue yang cari tau sendiri"
"Cari tau apa Gan?"
"Astaga Biru, lagi-lagi lo ngagetin gue"
"Gue nggak ngagetin lo Digant, lo nya aja yang gak sadar gue dateng"
Biru kalau duduk di bangku yang ada didepan meja Digant. "Emang lo mau selidikin apa si Gan?"
"Ah ya.. Gue tau. ini pasti ada kaitannya sama komentar orang-orang itu kan Gan? Lo mau nyelidikin nyokap lo lagi"
"Itu lo tau"
"Tapi apa salahnya si Gan, alasan nyokap lo itu emang bener. Apapun itu kuasa Tuhan, kalo Tuhan menghendaki bayi punya bayi aja bisa, apa lagi nyokap lo yang waktu itu umurnya 7 tahun"
"Gue males debat, gue bakal selidikin. Apa bener gue ini anak mama atau justru gue cuman anak adopsi"
"Serah lu dah"
"Dan lo harus bantu gue"
"Hahhh??"
__ADS_1
Tiba-tiba ketika mereka tengah berbincang, suara riuh dan beberapa ada yang histeris membuat Digant dan Biru segera keluar dari kelasnya.
"Kayaknya suaranya dari halaman depan deh Gan"
Tanpa mengatakan apapun Digant langsung ke depan dan diikuti oleh Biru. Keduanya berhenti ketika melihat Devon yang tengah bermain basket dengan beberapa temannya.
"Astaga tu anak hobinya pamer mulu. Kalo nggak pamer harta ya pamer otot. Biasanya juga main basket di GOR, kenapa juga ini di halaman? Dasar tukang pamer"
Biru melirik Digant yang terlihat datar. Setelah tau penyebab riuh di sekolahannya adalah Devon dan tim basketnya, Digant berputar dan hendak kembali ke kelas. Tetapi saat itu Joeya melihatnya dan menghentikan langkah Digant.
"Eh guys, liat deh siapa yang ada dideket gue"
Ucapan Joeya yang menggunakan pengeras suara membuat Devon dan teman-temannya menghentikan permainannya. Dan seketika semua mata tertuju ke arah Digant.
"Siapa dia guys?"
Joeya meletakkan telapak tangannya dibelakang telinganya untuk mendengar jawaban dari teman-temannya.
"Ya kalian bener banget. Percuma kan ganteng keren pendiem, tapi nyatanya punya sugar Aunty"
"Jaga ucapan lo ya joe" Bentak Biru
"Udah Biru, nggak usah" Dengan tenang Digant menghentikan Biru. Dan saat itu Biru bersama Digant hendak pergi.
"Tu kan guys, udah punya sugar aunty, udah gitu suka sembunyi dibalik ketek cewek. Iyuh.."
Dengan berani Biru menjambak rambut Joeya. Dan merekapun akhirnya saling menjambak satu sama lain hingga akhirnya Digant turun tangan untuk melerainya.
"Stop"
Akhirnya mereka bisa di pisahkan, dan setelah itu Digant pergi meninggalkan keramaian yang sudah terjadi.
"Digant tungguin gue"
Biru berlari mengejar Digant, namun sebelum itu ia menoleh ke arah Joeya "dasar bucin, sana sembah cowok yang lo puja-puja yang suka pamer. Dasar cewek matre yang bucin sama cowok tukang pamer"
"Hiihh" Joeya menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Wah tu cewek parah Von, dia ngatain lo barusan"
"Huh, dia belum tau siapa gue Lex. Liat aja nanti, apa yang bakal gue kasih ke dia"
_
Biru berjalan menaiki tangga. Seperti biasa ia akan mencari Digant ke arah Rooftop, karena memang tempat itu adalah tempat yang selalu didatangi Digant ketika dirinya kesal, marah, ataupun suntuk.
"Benerkan lo disini"
Biru duduk disebelah Digant yang duduk di atas tepian Rooftop. Yang tentunya itu bisa membahayakan mereka. Karena jika mereka lengah, mereka bisa saja terjatuh.
__ADS_1
"Lo kenapa si ikut naik kesini Ru"
"Emang kenapa? Suka-suka gue lah Bang Digant"
Seperti biasa, Digant akan langsung terkekeh ketika Biru memanggilnya abang. Ia merasa geli ketika temannya memanggil dengan sebutan abang.
"Lo cewek apa cowok si Ru, kenapa lo gak merhatiin penampilan lo"
"Lah emang kenapa, gue udah cantik dari lahir"
"Astaga, kenapa gue punya temen yang PD nya over dosis. Liat rambut lo, udah kayak singa"
"Huh, emang iya?"
Dengan segera Biru membenarkan rambutnya yang memang terlihat acak-acakan karena adu jambak dengan Joeya.
Disisi lain saat ini Devon yang berada di kantin dengan teman-temannya justru tengah menatap Biru yang datang untuk membeli minuman dingin.
"Eh Von, itu cewek yang udah ngejek lu tadi"
"Udah Von, kerjain aja"
"Gue tau"
Dengan sikap dingin dan angkuhnya, Devon bersikap santai. Ia tidak langsung terbakar ketika teman-temannya menyuruhnya untuk memberi pelajaran kepada Biru.
Devon bangkit dari duduknya, saat itu Joeya yang baru datang segera menghampiri Devon. Tetapi Devon justru mengabaikannya dan terus berjalan menuju Biru.
Brugh
"Hahaha" Banyak yang menertawakan Biru yang terjatuh karena menabrak Devon.
Biru memang tidak melihat kedatangan Devon di belakangnya. Sehingga ketika ia berputar dan hendak pergi, ia justru menabrak dada bidang milik Devon.
"Ayo"
Devon mengulurkan tangannya dan membantu Biru bangkit dan mengambilkan minuman Biru yang terjatuh. "Ini minuman lo" Imbuhnya.
Sontak perlakuan Devon terhadap Biru berhasil membuat banyak siswi merasa iri. Pasalnya ketika mereka mendekati Devon, Devon justru mengabaikannya. Tetapi kali ini Devon membantu Biru dan mengambilkan minumannya yang jatuh.
"Isshh"
Biru meraih minuman miliknya dan melenggang pergi tanpa berterimakasih terhadap Devon.
'Gue tau lo sok cuek karena lo mau narik perhatian gue. Tapi sorry, lo nggak bisa nyentuh hati gue. Yang gue lakuin barusan, itu cuman supaya gue bisa lebih mudah ngasih lo pelajaran'
Devon berjalan melewati siswi-siswi yang sedari tadi merasa iri melihat sisi lembut dari Devon yang angkuh dan dingin.
Bersambung
__ADS_1