
Hosh.. Hosh..
"Gila.. Ini gila Digant, kita hampir aja ketangkep" Racau Biru ditengah nafasnya yang terengah-engah karena berlari bersama Digant.
Digant yang melihat rona wajah Biru seperti tomat, membuatnya tertawa. Hal itupun membuat Biru mengernyit. Ia tidak paham kenapa Digant justru menertawakannya.
"Lo kenapa si Digant, kok lo malah ngetawain gue si?"
"Muka lo udah kayak udang rebus Biru, merah" Lagi-lagi Digant menertawakan Biru.
Melihat Digant yang tak kunjung menghentikan tawanya, Biru memikirkan sebuah ide. Dimana saat itu Biru mulai menggelitiki Digant hingga Digant merasa kelelahan karena tertawa.
"Stop stop Ru, perut gue sakit.. Hahaha"
Akhirnya karena wajah Digant yang juga memerah karena terus tertawa, Biru menghentikan aksinya. Keduanya terduduk lemas di tepi jalan.
"Harusnya tadi kita bawa maunya kan Gan?" Selorohan Biru berhasil membuat tawa Digant menghilang begitu saja.
"Harusnya si kayak gitu, tapi tadi.. "
Flashback On
Ceklek
"Hei, siapa kalian"
Melihat kedatangan petugas medis, Digant menarik Biru untuk berlari hingga map yang berisi berkas tentang kelahiran Digant pun terjatuh dan terbenyur kaki Biru hingga berkas tersebut jatuh kedalam kolong rak.
Karena tidak ingin tertangkap, Digant sudah tidak memperdulikan hal itu dan mengajak Biru untuk berlari keluar dari dalam ruangan.
Flashback Off
Digant menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. "Mungkin ini belum saatnya gue tau yang sebenernya Ru,tapi lain kali gue bakal cari map itu lagi" Tukasnya menatap lurus kedepan dengan tatapan tajamnya.
Karena hati sudah larut malam, Digant segera mengantarkan Biru untuk kembali kerumahnya. Usai mengantarkan Biru pulang, Digant bergegas untuk kembali kerumahnya. Tetapi sebelum itu, Digant mencoba menghubungi Ain.
Sudah berulang kali Digant mencoba menghubungi Ain, namun panggilannya tidak tersambung dengan nomor tujuannya.
"Ada apa sama mama, nggak biasanya HP mama mati kayak gini?"
"Dan kenapa semua listrik mati"
__ADS_1
Tidak ingin berlama-lama, Digant segera menarik pedal gasnya dengan kecepatan tinggi agar ia segera sampai di rumahnya. Dan setelah ia menemukan perjalanan sekitar 30 menit, ia pun sampai di rumahnya.
Ketika Digant memasuki rumahnya, ia tidak mendapati keberadaan Ain. Namun saat itu ia melihat mobil milik Ain yang sudah terparkir di garasi mobilnya. Hingga terbesit pertanyaan dimana mamanya saat ini.
Digant terus menunggu tetapi Ain tidak kunjung pulang. Akhirnya Digant memutuskan untuk melihat toko milik mamanya. Namun setelah ia memeriksanya, toko pun sudah tutup.
"Dimana mama? Ini udah dini hari tapi mama belum pulang!"
Digant menyusuri jalanan untuk mencari keberadaan Ain. Namun setelah berjam-jam ia mencari Ain, ia tak kunjung menemukannya hingga Digant memutuskan untuk melaporkannya ke kantor polisi. Perasaannya sangat cemas karena tidak menemukan Ain.
Sesampainya di kantor polisi, Digant Mecoba membuat laporan orang hilang, tetapi pihak kepolisian belum bisa memprosesnya karena orang hilang tidak bisa dikatakan hilang sebelum 24 jam.
Sementara di tempat lain saat ini Ain mulai membuka kedua matanya yang sudah mulai sadar dari pingsan yang ia alami.
"Argh kepalaku sangat sakit"
Ekor mata Ain mengedar menyapu seluruh ruangan yang ia tempati saat ini. Tempat yang begitu asing, bahkan dalam mimpi saja Ain tidak pernah membayangkan dia berada di dalam sebuah kamar yang begitu luar dan elegan.
"Akhirnya kamu sadar" Suara yang tidak begitu asing membuat Ain segera menoleh ke sisi kanannya .
"Kamu? "
Ketika Ain sadar dirinya berasa di dalam sebuah kamar, Ain segera menyilangkan tangannya di depan dadanya.
Mendengar pertanyaan dari dari Ain, seseorang yang ada di hadapannya mengerutkan dahinya dan bangkit dari duduknya yang semula duduk di tepi ranjang tempat Ain berbaring.
"Kamu pikir kamu secantik apa? Kamu itu jauh di bawah standar dari perempuan di luar sana"
"Apa kamu bilang?" Ain membulatkan matanya dan hendak turun dari ranjang. Namun karena keseimbangannya belum stabil, ia bahkan hampir terjatuh hingga seseorang yang ada dihadapannya segera meraih pinggangnya. Tetapi karena orang tersebut juga tidak seimbang, akhirnya keduanya terjatuh di atas ranjang.
"Astaga Arthur" Pekik seorang perempuan yang baru saja membuka pintu kamar bersama dengan ibu Arthur.
Awalnya Arthur ingin segera bangkit, tetapi karena ia mendengar suara yang begitu tidak asing baginya, wajah Arthur yang hanya berjarak beberapa inci, Arthur justru menempelkan bib*rnya dengan Ain hingga Ain kembali membulatkan kedua matanya.
Setelah melakukan hal itu Arthur bangkit dan menoleh ke arah sumber suara sembari membenarkan pakaiannya yang agak berantakan karena insiden jatuh bersama Ain.
"Tante, lihat Arthur. Dia berani-beraninya bawa perempuan ke kamarnya dan ngelakuin itu tante" Rengek seorang wanita yang begitu kesal melihat Arthur bersama dengan Ain.
Plak
Ibu Arthur menampar Arthur dengan kencang, tetapi Arthur justru menarik sebelah ujung bibirnya.
__ADS_1
"Kamu tinggalkan dia, mama akan mengatur pernikahanmu dengan Gracia minggu ini."
"Mama nggak akan bisa bikin Arthur pisah sama dia, karena saat ini dia mengandung cucu mama"
Semua orang yang berada di kamar itu terperanjat kaget karena pernyataan dari Arthur, termasuk Ain.
'Ini gak bisa di biarin, berani-beraninya dia udah nyebarin nama biakku'
Ain bangkit dan hendak mengatakan yang sebenernya. Namun Arthur yang sudah menduga akan hal tersebut, Arthur segera meraih pinggang Ain.
"Ayo, kita akan pergi ke rumah yang sudah aku beli untuk kita dan calon anak kita sayang"
Ain dyang masih lemah pun terhuyung dan hampir terjatuh. Bahkan keadaan Ain saat ini tidak akan membuat rencana Arthur rusa. Arthur pun mengangkat tubuh Ain.
"Kamu masih lemah sayang, aku akan menggendongmu. Zaki, siapkan mobil"
"Tante Irvana, tante cegah Arthur dong" Rengek Gracia mengguncang tangan Irvana.
Sementara itu melihat anaknya pergi bersama wanita pilihannya, Irvana hany terdiam mematung dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Ketika Arthur sampai di ruang tamu, tiba-tiba seorang lelaki dan perempuan berdiri dihadapannya dengan tatapan penuh tanya.
"Kak Arthur, siapa dia? Dan kakak mau kemana?" Tanya Nowella adik perempuannya.
"Iya Arthur, kau mau kemana? Dan siapa dia?"
"Dia calon istriku, dan kami akan tinggal di rumah yang sudah aku beli"
Arthur memang sangat dingin dengan ayahnya bahkan sangat jarang ia memanggil ayahnya dengan sebutan papa. Setelah mengatakan hal itu Arthur melanjutkan jalannya, tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti karena ayahnya menghentikannya.
"Kau tidak akan pergi bersamanya. Zaki, kami antar perempuan ini pergi. Karena Arthur akan makan malam dengan calon istrinya, yaitu Gracia" Pungkasnya dengan wajah penguasa seperti biasa yang selalu di alami oleh Arthur.
Arthur memang terkenal dingin, namu sifat dinginnya tersebut bukan tanpa alasan, ia menjadi seperti itu karena ulah ayahnya di masalalu.
"Maaf tuan Alvin, aku tidak bisa menurutimu seperti dulu. Karena dulu aku menerima semua perintahmu tetapi kau membuat rasa hormatku hilang begitu saja"
"Lepas Arthur, lepaskan aku" Lirih Ain
"Gugurkan" Pekik Alvin
"Jangan!"
__ADS_1
Mendengar teriakan dari Irvana, semua mata tertuju kepada Irvana dengan terkejut.
Bersambung