Digant

Digant
Bab 5 (Seblak Ceker)


__ADS_3

Ketika Digant mengantarkan Biru pulang, saat itu sudah ada Danis yang berdiri di depan pintu. Danis memang selalu seperti itu jika kakaknya pulang terlambat.


"Dari mana aja si kak, kenapa jam segini baru pulang?"


Digant yang awalnya akan langsung pergi setelah mengantarkan Biru, ia memutuskan untuk turun dan menghampiri Danis.


"Kakak kamu abang pinjem, abang butuh bantuannya sebentar"


"Bang Digant mah kebiasaan, harusnya kasih tau Danis kek. Kan kalo gini Danis cemas"


'Astaga anak ini, kenapa dia lebih dewasa dari umurnya?' batin Digant.


"Lain kali bang Digant pasti ngomong , okey"


Danis mengangguki ucapan Digant dan kembali masuk kedalam rumah. Setelah mengatakan hal itu, Digant bergegas untuk segera pulang. Tetapi sebelum itu Digant pergi untuk membeli makan malam. Ia tau jika mamanya akan pulang terlambat dan tidak sempat memasak untuk makan malam.


"Oh ya, lebih baik gue kirim pesan sama mama kalo gue udah beli makanan buat makan malam"


Setelah mengirimkan pesan, Digant menarik pedal gas menuju tempat favoritnya membeli makan malam di sebuah restoran langganannya.


"Benerkan antri?"


Cukup lama Digant mengantri hanya untuk membeli makanan favorit mamanya, yaitu . Kini tiba gilirannya. Digant memesan dua porsi seblak ceker yang super pedas.


Dan setelah menunggu beberapa menit, makanannya sudah siap.


"Yah pak masak nggak ada si? Padahal bunda suka banget lo sama seblak bapak, satu porsi aja pak"


Seorang gadis merengek kepada sang penjual ingin membeli makanan yang sama dengan pesanan Digant, sehingga saat itu Digant berbalik dan memberikan satu dari seblak yang ia beli.


"Ini buat bunda lo" Digant mengulurkan salah satu makanan yang ia pesan untuk seorang gadis yang berada didepannya dengan posisi membelakanginya.


"Ya Tuhan, makasih" Ucap gadis tersebut sembari meraih makanan yang di berikan oleh Digant.


Saat itu ketika keduanya saling menatap, gadis tersebut terperangah. Ia pun mengulas senyum di wajahnya namun masih diam tanpa mengucapkan apapun.


Setelah gadis tersebut menerima makanannya, Digant bergegas pergi. Dan gadis tersebut meneriakinya untuk membayarnya.

__ADS_1


"Tunggu, gue belum bayar seblaknya"


"Gak perlu"


Digant lalu melajukan motornya dalam kecepatan tinggi. Setelah beberapa menit, Digant sampai dirumahnya dengan selamat.


Ekor matanya menyusuri tiap sudut ruangan. Ia tidak mendapati mamanya.


"Jadi mama belum pulang" Setelah meletakkan makananya di atas meja makan, Digant melihat ponselnya. "Ternyata pesen dari gue udah di baca, tapi gak di bales sama mama. Apa mama marah karena gue tadi nyelidikin mama?"


Karena badannya terasa lengket, Digant segera membersihkan dirinya. Usai membersihkan diri, Digant turun untuk melihat apa mamanya sudah pulang. Tetapi saat itu belum ada siapapun yang datang sehingga Digant merasa cemas.


Bagaimana tidak cemas, saat ini satu-satunya orang yang ia sayang, sekaligus satu-satunya keluarga yang ia punya belum kunjung kembali hingga larut malam.


Karena ia tidak bisa tenang sebelum mamanya kembali. Digant memutuskan untuk mencari mamanya ke toko. Tetapi ketika Digant membuka pintu rumahnya, ia melihat mobil Ain yang baru masuk ke halaman rumahnya.


"Kamu mau kemana Digant?" Tanya Ain yang baru turun dari mobilnya.


"Digant tadi mau nyusul mama, soalnya udah jam sebelas malem mama belum pulang"


Melihat Ain yang tersenyum getir, Digant segera mengejar Ain yang hendak masuk ke kamarnya. "Ma, mama kenapa?"


"Apa maksud mama, Digant pasti peduli sama mama karena mama orang yang paling aku sayang ma"


"Tapi kenyataan sama ucapan kamu berbanding terbalik Digant. Kamu nggak akan curiga sama mama, sampai-sampai kamu nyelidikin mama kalau kamu memang sayang sama mama"


Perasaan Digant mencelos ketika mendengar perkataan dari Ain. Ia merasa bersalah dengan Ain ketika mengingat apa yang ia lakukan. Apa yang dikatakan Ain memang benar. Digant memang tidak semestinya mencurigai Ain dan menyelidikinya diam-diam.


Hingga saat itu Digant hanya terdiam. sementara Ain, ia langsung masuk kedalam kamarnya.


'Apa yang mama bilang emang bener. Harusnya gue nggak menyelidiki mama diem-diem kayak tadi. Gue akan Terima kalo temen-temen ngatain gue. Gue nggak mau bikin mama terluka. Apa yang lo pikirin si Digant? Mama itu udah ngerawat dan sayang lo dari lo bayi, tapi lo malah bikin mama tersinggung kayak sekarang'


Akhirnya Digant kembali kemeja makan untuk duduk. Saat itu ia melihat seblak yang sudah ia beli untuk Ain.


"Mending gue anterin seblak ini ke kamar mama"


Digant bergegas masuk kedalam kamar Ain. Saat itu Ain yang masih didalam kamar mandi pun tidak tahu kedatangan Digant.

__ADS_1


Setelah meletakkan seblak di atas nakas, Digant memilih untuk langsung pergi ke kamarnya.


Sesampainya Digant di kamarnya, ia masih memikirkan mamanya. Ia begitu merasa bersalah karena mengecewakan mamanya. Digant lalu menekan sebuah nomor di dalam ponselnya.


"Halo Biru"


"Ada apa Digant, lo baik-baik ajakan?"


"Iya gue baik, gue cuman mau bilang sama lo kali gue udah mutusin buat nggak ngelanjutin penyelidikan kita. Gue nggak mau bikin mama gue kecewa dan ngerasa kalo gue nggak sayang sama dia"


"Oke Digant, gue slalu dukung keputusan lo. Dan emang menurut gue lo itu harus yakin sama nyokap lo. Setahu gue kak Ain itu orangnya baik banget, kalaupun dia nutupin sesuatu, pasti suatu saat dia bakal omongin sama lo kok"


"Iya Ru, thanks ya lo udah mau dengerin gue"


"Oke santai aja Gan. Tapi ati-ati aja, gue nggak tanggung kalo lo naksir gue nantinya"Biru terkekeh setelah mengucapkan hal itu.


" Hahaha dasar sahabat gue yang super PD, yang ada lo nanti naksir gue. Gue cowok tertampan di rumah gue"


"Anjir, bener yang lu bilang Gan"


Digant memang seperti itu. Ketika dengan Biru, Digant akan menjadi seseorang yang humoris. Tetapi berbanding terbalik jika ia bertemu dengan pernah yang tidak terlalu dekat dengannya. Digant bisa menjadi seseorang yang sangat dingin.


Sementara Digant yang terus mengobrol lewat ponselnya meskipun dalam keadaan perut kosong, selang beberapa menit, Ain keluar dari kamar mandi. Pandangannya tersita oleh semangkuk makanan yang ada di atas nakas.


"Seblak ceker? Ini pasti Digant"


Kemudian ia kembali terpaku dengan selembar kertas yang di letakkan di bawah gelas yang berisi air putih.


Ain meraih selembar kertas tersebut, dimana di sana Digant menuliskan sesuatu.


Ma, maaf karena Digant udah bikin mama tersinggung dan kecewa dengan apa yang Digant lakuin tadi. Digant janji, Digant nggak akan lakuin itu lagi. Kalaupun Digant merasa ada sesuatu nantinya, Digant akan langsung tanya sama mama. Dan Digant juga bakal Terima kalo temen-temen ngatain Digant.


Digant sayang mama. Makan ya ma, ini seblak kesukaan mama.


"Digant, mama tau kamu sayang sama mama. Mama yang harusnya minta maaf sayang" Ain menyiapkan makanannya dengan menitikkan air mata haru.


"Mama akan tebus kesalahanya Digant. Mama akan bikin kamu tidak kekurangan kasih sayang dan membuat kamu nggak ngeraguin mama lagi Digant. Mama nggak akan biarin masalalu bikin kamu terluka"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2