
Ceklek
Ain baru kembali dari tokonya. Saat itu ia mencari keberadaan Digant, tetapi ia tidak mendapatinya. Akhirnya Ain ingin menghubungi Digant, tetapi saat itu ponselnya mati karena saya ponselnya yang sudah habis. Dan mau tidak mau ia harus mengisi saya ponselnya terlebih dulu.
Sembari menunggu ponselnya terisi penuh, Ain memilih untuk membersihkan dirinya.
Didalam kamar mandi, Ain melepas semua rasa letihnya dengan menyiram tubuhnya dengan air hangat. Namun saat itu mendadak listrik padam sehingga membuat semuanya gelap.
"Sshh, kenapa malah mati si?"
Ain meraih baju handuknya dan segera bergegas keluar. Dan benar saja, saat itu bukan hanya rumahnya saja yang gelap, tetapi rumah-rumah di sekitarnya juga mengalami pemadaman listrik.
Melihat hal itu, Ain segera mencari lilin, setelah ia menemukan sebatang lilin, Ain segera mengganti pakaian.
"Lilin tinggal segini, ya udahlah mending aku beli di lini market depan"
Karena mimi market yang tidak terlalu jauh, Ain memilih untuk berjalan kaki. Setelah ia sampai di minimarket tersebut, Ain segera mencari apa yang ia cari. Setelah menemukannya Ain kembali berjalan ke arah rumahnya.
Tap
tap
tap
Mendengar langkah kaki seseorang, Ain menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan di sekitarnya, tetapi tidak ada seorang pun saat itu.
Akhirnya Ain kembali melanjutkan perjalannya. Tetapi ketika ia memutar badannya, ternyata saat itu ada seorang laki-laki beetubuh tinggi dan besar yang tengah menayaonya dengan tatapan mes*m.
"Kau siapa, ada apa berdiri didepanku seperti ini?"
Ain mulai merasakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Sehingga sebelum orang itu semakin dekat, Ain berlari ke arah yang berlawanan dengan rumahnya. Tetapi ternyata orang tersebut juga ikut berlari.
Karena ada pemadaman listrik, suasana semakin mencekam tanpa ada seorang pun yang bisa ia mintai tolong. Yang Ain lakukan saat ini, ia hanya bisa berlari sekencangnya agar tidak tertangkap oleh laki-laki tersebut.
Brakk
Melihat Ain yang menabrak sebuah mobil dan jatuh pingsan, laki-laki yang mengejarnya lun berlari pergi. Ia tidak ingin orang tau jika dirinya yang membuat Ain kecelakaan.
_
__ADS_1
Digant bersama dengan biru berdiri di depan sebuah rumah sakit. Dimana rumah sakit tersebut adalah nama rumah sakit yang tertera di dalam berkas yang Biru temukan.
"Digant, apa mereka bakal ngizinin kita buat ngecek berkas yang udah 17 tahun lalu?"
"Kalaupun mereka nggak ngizinin, gue bakal cari cara supaya gue tau apa yang sebenarnya Biru"
'Maaf ma, Digant memang udah janji buat nggak curiga tanpa alasan ke mama. Tapi berkas ini? Berkas ini mempunyai kejujurannya ma'
Digant dan Biru masuk menemui resepsionis rumah sakit. Mereka ingin meminta izin untuk melihat berkas kelahiran yang terjadi sekitar 17 tahun yang lalu. Tetapi saat itu pihak rumah sakit tidak bisa mengizinkanya, karena itu adalah hal pribadi.
"Bener kata gue kan Gan? Mereka nggak bakal ngasih izin"
Digant terdiam sembari memikirkan sesuatu. Ia tidak mungkin pulang dengan tangan kosong. Alias dengan hasil yang nihil.
"Kalo gitu lo jaga disini"
"Jadi maksud lo, lo mau menyelinap kedalem Gan?" Digant mengangguk ucapan Biru sembari meraih jepit rambut milik Biru.
Setelah ia mengamati keadaan yang sepi, Digant melancarkan aksinya dengan menggunakan jepit rambut milik Biru yang ia rebut baru saja. Setelah percobaan beberapa kali pintu ruangan rekam medis pun terbuka. Disana Digant mulai mencari rak berkas sekitar 17 tahun lalu. Ekor matanya terus menyusuri tiap sudut ruangan, hingga akhirnya ia menemukan rak yang cari.
"Ini terlalu banyak"
Biru lalu memutar otak untuk membuat Digant tau jika ada seseorang yang hendak masuk kedalam ruangan. Dengan cepat Biru berpura-pura berjalan dan menabrak petugas medis tersebut.
Brugh
"Maaf Pak, tadi saya buru karena saya mau menjenguk saudara saya pak" Biru bicara dengan lantang agar Digant dapat mendengar ucapannya.
"Lain kali hati-hati ya dek, takutnya kamu dan orang yang kamu tabrak bisa terluka"
Setelah mengucapkan hal itu, seorang petugas medis tersebut membuka pintu ruangan. Petugas tersebut merasa bingung, pasalnya ia selalu mencuci pintu ruangan, tetapi kenapa pintu tersebut tidak terkunci.
"Ah mungkin aku lupa menguncinya tadi. Untung saja aku yang membukanya, jika orang lain aku bisa di adukan"
Saat itu Biru merasa cemas, ia takut jika Digant di ketahui oleh petugas tersebut. Namun selang beberapa saat, Petugas tersebut keluar dan mengunci pintu ruangan tersebut.
Karena merasa penasaran, Biru berusaha membuka pintu ruangan tersebut dengan jepit rambut yang masih tersisa. Dan benar saja, ketika Biru sampai di dalam ruangan, ia tidak mendapati Digant.
Pandangan Biru menyapu setiap sudut ruangan. Ia tidak menemukan tanda-tanda jika ada seseorang didalam ruangan tersebut. Biru pun merasa bingung, ia mencari Digant masih tidak bisa menemukannya.
__ADS_1
"Aaaa... Hmmpphhh"
Digant menutup mulut Biru dengan tangannya. Dan satu jarinya ia letakkan di atas bibirnya, agar Biru tidak lagi berteriak.
Dan setelah Biru mengetahui orang yang menutup mulutnya adalah Digant, ia segera menyingkirkan tangan Digant dengan bibir yang mengerucut.
"Digant, gue hampir kena serangan jantung tau"
"Ssstt.." Digabt meletakkan jari telunjuknya di bibir Biru. "Pelanin suara lo Biru, nanti kita ketahuan" Imbuhnya.
"Oke oke.. Lo udah nemuin berkasnya belom?" Biru berbicara seperti ia berbisik.
Kemudian Digabt menunjuk sebuah rak dimana rak tersebut bertuliskan tahun kelahirannya. Namun Digant masih belum menemukannya dan meminta Biru untuk membantunya untuk mencari berkas tentang kelahirannya.
Digant dan Biru lalu segera mencarinya, cukup lama mereka berkata membaca nama di setiap map yang membungkus berkas tersebut.
"Digant, gue udah ngibtak ngabarin ni rak dari tadi. Tapi gue nggak nemuin nama kak Ain disini"
Digant terdiam menatap lekat Biru sembari memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya ia teringat nama neneknya.
"Kalo gitu kita cari nama Larasati, Digant"
"Huh, Larasati? Larasati itu nenek gue Biru"
"Iya, kita coba cari. Siapa tau kecurigaan kita ada benarnya. Bisa ajakan kalo kak Ain emang hujan nyokap lo. Gimana kalo lo sebenarnya anak nenek lo, buktinya lo sama kak Ain umurnya beda dikit kan Digant? "
Setelah memikirkan ucapan Biru, akhirnya Digant menurutinya dan mencoba mencari nama Larasati.
"Ini udah gelap Gan, kalo sekali lagi kita gak nemuin apa-apa. Mending kita lanjutin besok"
"Kita coba sekali lagi Biru"
"Gue nemu Gan, disini ada nama Larasati. Dan ini tanggal lahir lo kan? "
"Ya udah buruan buka"
Ceklek
Mendengar suara pintu terbuka, Biru dan Digant hanya saling menatap dengan bola mata yang membuat.
__ADS_1
Bersambung