Digant

Digant
Bab 16 (Harus Dicoret)


__ADS_3

Digant bersiap untuk bangkit dan membantu Biru lepas dari Devon. Tetapi sebelum ia benar-benar bangkit, Zia lebih dulu mencekal tangan Biru agar terlepas dari Devon. Sehingga saat itu Digant mengurungkan niatnya.


"Jangan bersikap kayak anak kecil Devon. Nggak semua orang bisa nerima sikap childish lo"


"Gue rasa ini bukan urusan lo ya Zi, jadi lo nggak perlu ikut campur."


Karena perdebatan itu, beberapa siswi melihat suatu adegan yang sangat membuat mereka iri. Mereka bahkan tidak bisa berbicara dengan Devon seperti itu, karena memang Devon tidak pernah merespon siapapun yang mencoba mendekatinya. Tetapi kalo ini, Zia begitu terlihat keren dimata mereka karena berbicara begitu dekat dengan Devon, meskipun itu hanya untuk menentangnya.


Devon menarik Zia hingga membuat jarak diantara keduanya semakin dekat. Teriakan histeris memenuhi sesuai ruangan. Tetapi Devon tidak memperdulikan hal itu. Ia hanya ingin membuat Zia terdiam. Dan ternyata caranya itu memang tepat. Seketika Zia terdiam ketika ada di posisi seperti itu.


Devon memajukan wajahnya dan berbisik kepada Zia. "ternyata lo nggak berubah. Tapi sorry Zia, tepengue bukan lo lagi" sarkas Devon sembari menghempaskan tangan Zia.


Devon ingin kembali meraih tangan Biru, tetapi saat itu guru sudah berjalan ke arah kelas, sehingga Devon pun tidak bisa membawa Biru.


Pelajaran dimulai, meskipun saat itu yang lain begitu fokus dengan materi dari guru. Devon justru terus menatap kearah Zia yang berusaha mendekati Digant dengan memberi Digant perhatian-perhatian kecil kepada Digant.


Walaupun berjalan dengan cepat. Bel pulang sekolah berdering.


"Hari ini gue yang anter lo pulang ya Gan?"


"Lo mau anter gue? Yang ada gue yang nganterin lo karena lo selalu tidur didalam mobil Biru"


Tanpa berdebat, saat itu Digant benar-benar di antarkan oleh Biru. Biru sengaja meminta sopirnya untuk mengantarkannya dengan Digant ke rumah Digant.


Karena melihat Digant yang masih lumayan susah berjalan, Biru akhirnya ikut turun dan membantu Digant masuk ke rumahnya. Namun saat itu Digant dan juga Biru mengernyit karena perhatian keduanya tersita oleh sebuah buku yang begitu berserakan di atas meja kamar Ain yang terbuka.


"Lo duduk, biar gue bantu beresin kamar kak Ain ya Gan"


"Hmm"


Ketika Biru hendak merapikannya, Digant harus meninggalkannya sendiri untuk menganti pakaiannya. Hingga saat itu Biru menemukan sebuah berkas yang terjatuh.


"Ini apa? Ini kayak berkas penting? Gue buka enggak ya. " Karena rasa penasarannya yang begitu besar, Biru pun membuka sebuah berkas yang ada di hadapannya.


Saat itu Biru membaca isi berkas yang ia temukan tersebut, sehingga ia segera berlari ke arah kamar Digant.

__ADS_1


Tok tok


"Gue masih ganti baju" Ucap Digant dari balik pintu.


Setelah Biru menunggu beberapa saat, akhirnya Digant keluar dari dalam kamarnya. Dan saat itu Digant terlihat cemas melihat raut wajah Biru yang benar-benar tidak baik.


"Ada apa Ru?"


"Lo harus baca ini" Biru menyodorkan berkas yang ia temukan.


_


Siang itu sepulang sekolah, Alex bergegas untuk pergi ke rumah Biru. Namun ketika ia sampai, ia belum menemukan Biru. Ia hanya berbincang dengan Bara yang sudah pulang sekolah.


"Biru belum balik? "


"Belom, kak Biru lagi di rumah bang Digant"


Mendengar ucapan Bara, Alex benar-benar terkejut. Pasalnya Bara begitu tidak bisa mempercayai sembarang orang untuk dekat dengan Biru. Namun kali ini Bara bahkan sangat tenang meskipun ia tau jika saat ini Biru bersama laki-laki.


"Bang Digant bukan cowok sembarangan. Dari dulu sejak kak Biru sahabatan sama bang Digant, bang Digant selalu ngejagain kak Biru dan nggak pernah macem-macem. Jadi aku tenang, nggak kayak kalo kak Biru dideketin sama cowok yang punya niatan tertentu"


Ketika berbicara dengan Bara, Alex tau jika Digant memang sangat dekat dengan Biru. Alex berpikir, mungkin saja dengan kedekatan itu Biru tidak akan menghalangi kedekatan Zia dan juga Devon.


Setelah dari rumah Biru, Alex pun bergegas untuk bertemu dengan teman- temannya di sebuah kafe.


"Baru kliatan lo Lex, dari mana aja lo?" Tanya salah satu temannya yang saat itu tengah menikmati minuman dan makanan yang sudah ia pesan.


Kedua bola mata Alex membulat sempurna ketika melihat begitu banyak makanan yang ia lihat di meja yang di tempati oleh para sahabatnya. Ia tau jika hal ini memang sudah di bayarkan oleh Devon yang selalu mentraktir teman-temannya.


Cukup lama mereka berbincang di sana membicarakan segala hal, hingga akhirnya tersisa anatara Devon dan juga Alex.


"Gue mau ngomong sama lo Lex"


"Kenapa Von? "

__ADS_1


"Gue nggak mau lo berusaha deketin gue sama adek lo lagi"


"Enggaklah, buat apa gue deketin kalian berdua lagi?" Tepis Alex mendapat tuduhan dari Devon.


"Abisnya lo malah yang nganterin Biru. Sementara itu, lo malah nyuruh gue buat balik sama adek lo"


"Gue nggak berusaha buat lo lebih deket sama Zia, yang gue lakuin itu cuman biar Biru nggak canggung aja sama lo."


Setelah mendapat jawaban tersebut dari Alex, Devon justru menduga jika Alex mungkin saja mulai menyukai Biru. Karena akhir-akhir ini Devon sering memperhatikan Alex yang sering diam-diam memperhatikan Biru ketika Biru bersama dengan Digant.


Dan karena hari sudah mulai gelap, Devon dan Alex memutuskan untuk segera pulang. Namun sebelum itu, keduanya akan membeli beberapa peralatan untuk tugas sekolah mereka di sebuah minimarket yang tak jauh dari kafe yang mereka datangi.


Ekor mata Devon terus memperhatikan dua orang yang berada di dalam lebih dulu. Dan ketika Alex menyadari arah tatapan Devon, ia pun ikut terpagut melihat dua orang tersebut.


"Kalian, kenapa kalian disini? Bukannya ini jauh dari rumah kalian?" Tanya Alex yang begitu penasaran.


"Ini urusan kami, jadi lo gak perlu tau" Pungkas Digant.


Digant begitu berbeda ketika berbicara dengan Alex. Awalnya ketika Alex dan Devon melihat Digant dan Biru, mereka begitu senang bercanda. Tetapi ketika mereka masuk, Digant begitu dingin dengan tatapannya seperti menusuk.


"Ya udah Gan, ayok." Biru menarik Digant melewati Alex dan juga Devon.


Biru menghentikan sebuah taksi yang melintas di depan mini market. Setelah kedua masuk kedalam mobil, Biru membuang nafas lega.


"Kenapa Ru, lo capek? Kalo lo capek lo pulang aja sekarang"


Biru menatap Digant dengan lekat. "Terus gue biarin lo nyari bukti sendiri gitu?" Digant pun mengangguk ucapan Biru.


"No, lo masih belum pulih. Jadi gue bakal temenin lo buat ngebuktiin kecurigaan lo selama ini."


Dengan bersikeras Biru tetap ingin menemani Digant untuk membuktikan sebuah berkas yang membuat mereka berdua begitu penasaran.


Bagaimana tidak penasaran? Biru ternyata menemukan berkas yang berisi tentang kelahiran Digant. Tetapi ada yang membuat hal itu aneh, yaitu ketika semua nama ibu dan ayah Digant harus di coret.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2