Digant

Digant
Bab 19 (Melakukan Rencana)


__ADS_3

Vroom..


Digant kembali ke rumah dengan rasa cemas, namun seketika dahinya berkerut ketika ada sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di halaman rumahnya.


"Siapa yang dateng di jam segini?" Saat itu Digant melihat arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 3 pagi.


Digant segera turun dari kotor dan bergegas masuk kedalam rumah. Melihat seseorang yang ia cari sudah duduk di sofa, Digant menghambur kedalam pelukan Ain.


'Siapa dia? Apa dia kekasih wanita ini? Tapi dia sangat muda. Issh jadi doa bermain dengan laki-laki yang lebih muda' batin Arthur yang duduk di sofa seberang Ain.


Ketika menyadari seseorang memperhatikannya, Sigabt melepas pelukannya dan melihat Arthur yang duduk dengan aura penguasa.


"Kau siapa?"


Arthur bangkit sembari membenarkan pakaiannya dan mengulurkan tangannya terhadap Digant.


"Arthur Widjaya"


"Lebih baik kau segera pergi dari sini, anda datang di waktu yang tidak tepat. Ini bahkan masih jam 3 pagi"


"Digant, dia yang menolongku ketika pingsan saat di kejar orang yang tidak di kenal"


"Apa? Apa ada yang luka?" Digant memeriksa keadaan Ain begitu teliti. Bahkan ia sampai memutar badan Ain. Saat itulah ia baru tersadar jika dahi Ain sedikit membiru


Melihat hal itu, Digant segera pergi kedalam untuk mengambil kompres untuk Ain. Melihat hal itu Arthur semakin yakin jika ada hubungan spesial antara Digant dan Ain.


'Aku yakin dia bukanlah adiknya'


Bahkan Arthur menatap keduanya penuh selidik.

__ADS_1


Usai mengompres dahi Ain, Digant kembali fokus kepada Arthur.


"Aku berterimakasih karena kau sudah menolong mamaku, tapi lebih baik sekarang kau pergi dari sini. Tidak pantas jika ada orang yang melihatnya"


" Huh, mama?"


Arthur begitu terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Digant. Namun saat itu Arthur kembali bersikap tenang dan justru menertawakan perkataan dari Digant.


"Aku tau kalian punya hubungan. Dan kerena hal itu kau tidak ingin malu dan mengatakan bahwa kau anaknya. Tapi bukanlah hal itu justru membuat orang curiga? Mungkin saja jika kau mengatakan kau adalah adiknya, aku akan percaya."


Ya, apa yang di katakan oleh Arthur mungkin saja akan benar jika memang Mereka bukanlah anak dan ibu.


"Apa kau tidak percaya? Dia memang mamaku!" Tegas Digant.


"Kalau memang kalian ibu dan anak, kenapa yang kulihat usia kalian tidak terlalu jauh? "


Mendapati pertanyaan seperti itu dari Arthur, membuat Digant terdiam. Dalam hatinya hal itupun menjadi pertanyaan. Bahkan Digant juga ingin tau kenapa bisa usianya dengan ibunya bisa berjarak hanya 7 tahun.


"Itu yang ingin aku katakan, jadi kau harus menentang ibumu. Karena menikah denganmu adalah mimpi buruk bagiku. Aku hanya inginmembesarkan dan mendidik anakku agar dia tidak menjadi laki-laki sepertimu"


"Dengar, aku tidak akan percaya begitu saja. Akan aku buktikan jika dia bukan anakmu. Kalau aku benar, maka kau harus bersedia menjadi istri Pura-pura ku"


Setelah mengatakan hal itu, Arthur melenggang pergi dan melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan ketika Ain kembali kedalam, ia sudah tidak mendapati Digant di ruang tamu.


Di dalam kamar Digant masih terngiang-ngiang dengan ucapan Arthur. Dan karena itulah ia mengingat kembali berkas kelahirannya Yang hampir ia lihat.


Keesokan harinya, Digant berangkat ke sekolah seperti biasa. Sesampainya disana, ia langsung bergabung dengan beberapa temannya. Dan tanpa ia sadari, seseorang memperhatikannya dengan antusias, ya, siapa lagi kalau bukan Zia.


Zia berjalan ke arah Digant dengan senyum manis yang terukir di wajahnya. Namun sebelum ia benar-benar sampai di dekat Digant, Digant justru langsung berlari ke arah Biru dan mengajaknya kesuatu tempat yang lumayan jauh dari kerumunan teman-temannya.

__ADS_1


Melihat hal itupun Zia mulai berpikir jika Keduanya menjalin hubungan. Tetapi ia segera menggeleng dan menepis semua pikirannya tentang Digant dan Biru.


'Syukurlah, ternyata Digant gak deketin Zia' batin Alex mulai bernafas lega.


Tetapi semua itu tidak bertahan lama ketika Alex melihat Devon yang justru sudah berada di antara Biru dan Digant. Hingga akhirnya mau tidak mau Alex harus melakukan rencana yang sudah ia buat.


'Okey Von, mau nggak mau kayaknya gue harus pura-pura deketin Biru biar lu balik sama Zia. Gua gak mau kalo Zia sampek sampek sama Digant, dan lu malah ngejar Biru.'


"Kalian kenapa si?"


Ditengah pikiran Alex yang mulai menyusun rencananya, saat itu suara Zia membuyarkan lamunannya. Zia menarik tangan Devon dari kerah baju Digant, dimana keduanya hamoir saja berkelahi.


"Denger, gua gak ada urusan sama lo. Jadi lo gak usah nyari ribut"


"Iya Von, lo kenapa tiba-tiba mau ngajak Digant berantem? Lo mau pamer kekuatan lo? Ish dasar cowok tukang pamer" Sambung Biru


Karena mendengar Biru mengatakan hal itu, Joeya merasa tidak Terima dan tiba-tiba saja menyerang Joeya dengan menarik rambutnya dari belakang dan membuat Biru terjatuh ke lantai.


"Eh lo cewek frik, berani nya lu ngatain Devon! Awas lo ya, mulai sekarang lo udah ngobatin bendera perang sama gua"


Itulah Joeya, meskipun ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Devon, ia akan terus mengganggu siapapun yang menurutnya bisa menghalanginya untuk mendekati Devon.


Usai mengatakan hal itu Joeya ingin kembali menyerang Biru, tetapi dengan segera Digant menahannya dengan memegangi tangan Joeya dengan tatapannya yang tajam.


"Sekali lagi lo lakuin ini sama Biru, lo bakal tau akibatnya"


Digant menghempaskan tangan Oiya dengan kasar dan segera membantu Biru bangkit dan mengajaknya pergi.


Sesampainya di sudut sekolahan, Digant dan Biru duduk. Keduanya masih tidak habis pikir kenapa Devon mendadak menarik Digant seperti tadi.

__ADS_1


"Lo ngerasa ada yang aneh gak si Gan? Kenapa Devon tadi tiba-tiba kasar sama lo?"


Bersambung


__ADS_2