Digant

Digant
Bab 3 (Toko Laras)


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu, Digant sengaja ikut dengan Ain ke tokonya. Ia sengaja ke toko karena ingin memulai penyelidikannya.


Kenapa Digant menyelidiki mamanya ke toko, itu karena ia pernah juga menyelidiki mamanya di rumahnya. Tapi saat itu ia tidak menemukan apapun dan justru tertangkap basah oleh Ain sehingga ia menghentikan penyelidikannya saat itu.


Saat itu juga belum terlalu banyak yang menghinanya seperti saat ini, jadi Digant juga tidak terlalu ingin menyelidikinya. Berbeda dengan saat ini, Digant justru merasa penasaran. Kenapa ibunya sangat tidak ingin dirinya mengetahui sesuatu tentang kelahirannya dulu. Bahkan Digant pernah bertanya dimana dia dilahirkan. Ain hanya menyebut dia dilahirkan di sebuah rumah sakit, hanya itu.


"Digant, mama harus melihat toko yang ada di lantai dua. Apa kamu mau ikut?"


"Enggak ma, Digant disini aja"


"Oke, kalo gitu mama kesana dulu." Digant mengangguki ucapan mamanya dan kembali berselancar dengan ponselnya.


Saat itulah ia mulai menggeledah laci yang ada di ruangan mamanya yang ada di toko tersebut. Tetapi Digant tidak menemukan apapun yang mencurigakan.


"Eum mba.. Mba udah lama belom si kerja sama mama?"


"Saya baru dua tahun disini mas Digant. Tapi mungkin kalo bu Asih itu udah lama, kayaknya waktu masih dikelola sama bu Larasati deh mas"


"Oh gitu, tokonya yang mana mba?"


"Yang sekarang di cek sama mba Ain, mas."


"Berarti tokonya yang ada lantai dua ya?"


"Iya mas"


Ain memang memiliki beberapa toko di mall yang saat ini tempat ia menjual pakaian. Dan yang menjadi toko paling lama yang di kelola oleh Larasati memang yang berada di lantai dua. Sedangkan yang ada di lantai dasar dan lantai tiga, itu adalah toko yang di beli oleh Ain setelah meneruskan usaha ibunya. Meskipun begitu, Ain tetap memberi nama tokonya sama seperti ibunya, dimana namanya adalah Toko Laras.


Akhirnya Digant memilih untuk menyusul mamanya. Tetapi saat itu ia justru melihat seorang gadis yang berlari mengejar seorang pria yang berpenampilan seram yang berlari ke arahnya.


"Jambret" Teriak gadis tersebut.


Brugh


Jambret itu terjatuh karena tersandung oleh kaki Digant. Merasa tidak terima, jambret itu ingin menghajar Digant. Tetapi orang itu justru yang berulangkali terjatuh karena Digant selalu berhasil menghindar dari pukulan jambret itu.


Hal itu tidak berlangsung lama. Digant segera melumpuhkan jambret tersebut. "Tolong hubungi security di mall ini mba, jambret ini harus di jebloskan ke penjara. Jika dia lepas, dia bisa mengganggu ketenangan orang yang datang ke tempat ini"


"Iya mas Digant"


Selang beberapa saat jambret tersebut dibawa oleh petugas keamanan untuk diserahkan ke kantor polisi.


Digant lalu memberikan tas milik gadis yang di jambret.


"Makasih, lo udah nolongin gue"


"Hemm" Digant mengangguk dan melenggang pergi.


"Eh lo mau kemana" Gadis tersebut ingin memberi imbalan, tetapi Digant sudah terlanjur pergi.


"Mba cantik, mba nggak usah ngasih apa-apa sama mas Digant. Mas Digant bukan orang yang pamrih kok" Ucap pegawai toko Laras.


"Oh gitu ya mba"

__ADS_1


"Iya mba, ya udah saya permisi mba"


"Iya mba"


Gadis tersebut terus melihat Digant hingga akhirnya Digant sudah tidak terlihat lagi. "Jadi namanya Digant. Ya sudahlah lebih baik gue balik. Pasti nyokap sama bokap udah nyariin gue, gue kan pergi nggak bilang dan gue nggak bawa hp.


Gadis tersebut kini sudah kembali ke rumahnya.


" Zia, kamu darimana sayang? Ayah sampai ngerahin semua anak buah Ayah buat nyari kamu"


Ya gadis yang baru saja di tolong oleh Digant adalah Zia Callysta. Zia adalah anak bungsu dari salah satu pengusaha ternama di kota ini.


"Zia cuman ke mall Ayah"


"Kamu jangan pergi sendiri dong sayang, harusnya kamu ngajakin abang kamu."


"Ih ogah lah Yah, bang Alex itu nyebelin. Kalo disuruh nemenin pasti ujungnya cuman TPTP doang Yah"


"Apa itu TPTP Zia?"


"Tebar pesona Yah, kan nyebelin"


"Enak aja kalo ngomong" Alex datang sembari menoyor kepala adiknya hingga membuat adiknya merasa kesal.


"Tu kan Yah, bang Alex itu nyebelin kan?! "


"Lu aja yang manja. Dan satu lagi, tanpa gue TPTP kayak yang lo bilang tadi, cewek-cewek juga bakal nemplok. Siapa yang gak mau sama cowok keren kayak gue coba, iya kan yah"


Dan ucapan Alex pun diangguki oleh Danu sehingga membuat anak perempuannya itu menjadi kesal.


"Kalian kenapa tiba-tiba sangat senang seperti ini?"


"Itu bun, tadi Alex ngejek Zia"


"Ah kalian ini"


Diana segera menyusul anak perempuannya kekamar atas. Karena Diana tau, jika anaknya itu mudah bersedih.


"Lah, kok aku si Yah"


"Ssstt.. Kalo kamu kan nggak bakal di suruh keluar kamar Lex" Lagi-lagi kedua pria itu terkekeh.


Tok tok


"Sayang" Diana memanggil Zia, tetapi Zia tidak menjawabnya sama sekali.


Akhirnya Diana langsung masuk. Dan benar dugaannya, saat itu Zia menangis tanpa bersuara. Zia memang sangat sensitif. Meskipun itu hanya sebuah candaan, tetapi jika kesal ia langsung menangis.


"Sayang, udah dong jangan nangis. Ayah sama abang kamu itu cuman becanda sayang"


"Iya bun Zia tau, tapi bunda taukan kalo kesel Zia bawaannya pengen nangis"


"Ya udah, sekarang kamu berhenti ya nangisnya. Kita turun, kita makan malam. Nanti di bawah kita kerjain ayah sama abangmu, gimana? "

__ADS_1


Dengan wajah tersenyum lebar, Zia memeluk erat ibundanya. "Makasih bunda, bunda emang bestie aku"


Sementara itu di tempat lain Digant juga merasa lelah. Meskipun sudah berupaya untuk mencari sesuatu yang akan memuntunnya pada kebenaran, Digant belum juga berhasil menemukan petunjuk apapun.


Hingga akhirnya ia memilih untuk segera membersihkan diri dan segera makan malam.


"Digant, tangan kamu kenapa?"


Ain melihat memar ditangan Digant. Memar itu ia dapat ketika melawan jambret ketika menolong gadis tadi.


"Oh ini ma, ini cuman kena pukul"


"Siapa yang lakuin itu Digant? "


"Tadi Digant berantem sama Jambret, makanya ni tangannya jadi kayak gini ma"


"Jadi tadi kamu di jambret?"


"Enggaklah ma, tadi itu ada cewek yang di jambret di deket toko kita, makanya Digant tolongin"


"Mama bangga sama kamu Digant. Nanti mama obatin"


Keduanya lalu melanjutkan kegiatan makan mereka. Setelah itu Ain mengobati memar yang ada di lengan Digant.


Keesokan paginya, seperti biasa Digant selalu berangkat lebih pagi dengan motor Kesayangannya. Namun ketika ia sampai di halaman sekolah, Digant melihat Devon yang tengah berjalan bersama dengan Biru.


Mendengar suara motor Digant, Biru segera menoleh dan berlari menyusul Digant ke area parkir dan. Meninggalkan Devon sendiri.


"Pagi brotha" Sapa Biru


"Pagi"


"kenapa, mukanya suntuk amat? "


Digant menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. "Kemarin gue nyelidikin toko, tapi gue belum dapet apapun yang bisa ngasih gue petunjuk"


"Oh itu masalahnya, ya udah kalo gitu nanti siang gue bantuin"


"Gak perlu lah Ru, ini masalah gue"


"Gue siapa lo?"


"Ya sahabat gue lah" Balas Digant


"Itu artinya masalah lo, masalah gue juga. Lagian kemaren lo sendiri kan yang minta bantuan? Jadi Fika gue bantuin lo Digant"


Ketika Digant dan Biru melewati Devon, Devon mencekal pergelangan tangan Biru. Hal itupun berhasil membuat para siswi histeris. Mereka terus merasa iri jika Devon dekat dengan Biru.


Tetapi Biru perempuan yang berbeda. Bukannya senang kegirangan, Biru justru menghempaskan cekalan Devon dan melewatinya. Tetapi Devon tidak membiarkan Biru pergi, ia kembali menghentikan Biru. Hal itupun menjadikan Biru berdiri di antara Devon dan Digant.


"Wah ini gila, kenapa Biru di tengah-tengah mereka.. Astaga" Triak salah satu siswi yang histeris.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2