
Pelukan hangat yang selalu menjadi sebuah rindu tersendiri, selalu bisa Biru dapatkan dari Asna. Meskipun Asna hanya seorang Art, tetapi Biru tidak pernah memperlakukan Asna seperti Art. Ia begitu menghormati dan tidak pernah berkata kasar dengan Asna.
Biru begitu berat melepas tangan Asna. Dan ia sekali lagi memeluk Asna dengan sangat erat. "Bik Asna, Biru pasti kangen banget nanti sama bibik sama masakan bibik juga. Walaupun cuman tiga hari, tapi Biru gak bisa jauh dari bibik"
"Eh Biru, buruan dong. Ini bus nya udah mau jalan. Cuman sama Art dekil aja lebay banget si lo" Teriak Joeya melalui kaca jendela bus.
"Diem lo, dia itu bukan Art. Tapi bik Asna udah kayak nyokap gue sendiri. Jadi lo nggak perlu ngomong kasar kaya barusan. Dasar bucinnya cowok pamer" Biru menjulurkan lidahnya mengejek Joeya hingga membuat Joeya begitu kesal.
Asna mengusap lembut pundak Biru agar Biru tidak meladeni ucapan dari Joeya. Saat itu Biru lalu naik ke bus dan melambaikan tangannya. Seulas senyum pun tercetak di wajah Asna.
"Andaikan kamu nggak malu punya ibu seperti ini nak, pasti ibu bahagianya akan berlipat karena punya kamu dan non Biru yang melambaikan tangan ketika kalian pergi camping nak"
_
Di dalam perjalanan, Biru menghubungi Asna. Ia melupakan sesuatu ketika ia pergi tadi.
"Halo bik"
"Iya non, ada apa? Apa non ketinggalan sesuatu?" Tanya Asna yang sedikit cemas dari ujung telefon.
"Iya bik, Biru lupa tadi nggak bilang kalo bibik harus jagain Bara ya bik. Jangan biarin si tengil itu pulang terlalu malem ya bik. Dan satu lagi, tolong jaga papa ya bik" Ucapnya sedikit pelan ketika menyebut ayahnya.
Setelah menghubungi Asna, Biru kembali melihat semua teman-temannya yang tengah sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Adapun yang lainnya tengah bermain gitar sembari menyanyikan beberapa lagu agar mereka tidak bosan di perjalanan yang cukup membuat mereka letih karena medan jalan yang ada di beberapa titik cukup sulit untuk di lewati.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, mereka tengah sampai di sebuah hutan yang begitu terlihat asri dengan danau yang sangat indah tak jauh dari tempat mereka saat ini.
Semua murid berbaris, guru pembimbing pun mengintruksi mereka untuk membentuk sebuah kelompok. Namun sebelum tantangan di berikan, semua murid mendirikan tenda untuk mereka bermalam. Setelah memakan waktu beberapa menit, semua tenda sudah berdiri dengan kokoh. Saat itulah ketua kelas mereka membagikan kertas yang bersisi angka. Setiap murid yang mendapat angka yang sama, mereka akan berada didalam satu kelompok untuk menjalankan tantangan yang akan diberikan oleh panitia camping dan juga guru pembimbing.
Saat itu Biru, Digant, dan juga alex berada didalam satu kelompok. Sementara Devon satu kelompok dengan Dia dan juga Joeya.
Satu kelompok memang hanya akan terdiri dari tiga orang. Mereka mendapat tantangan untuk menyusuri rute yang sudah di buat untuk mendapatkan bendera sekolahan mereka. Siapa yang mendapatkan bendera lebih dulu akan mendapat keuntungan.
"Baik anak-anak, kelompok sudah di tentukan. Kalian nanti akan mengikuti rute yang sudah ditentukan. Kami harap kalian bisa saling membantu di dalam satu kelompok, dan juga utamakan keselamatan"
"Baik Pak"
"Silahkan kalian mulai sekarang"
Setelah mendapat intruksi dari guru pembimbing, semua murid segera mengikuti arahan dan mencari rute yang benar. Ada beberapa rute untuk menuju bendera yang mereka cari. Dimana saat itu terdapat rute yang lumayan jauh, adapun rute yang membuat perjalanan mereka semakin dekat. Hanya mereka yang menentukan untuk mengikuti rute yang sebelah mana. Panitia camping hanya memberikan sebuah tanda untuk membuat para murid bekerja lebih keras untuk menuju ke tujuan mereka.
"Ini jalannya bener nggak si Lex? Dari. Tadi kita cuman muter aja lo" Ucap Biru sehingga membuat Digant dan Alex berhenti dari langkah mereka.
"Bawel banget si pendek" Alex sengaja menirukan Digant ketika menyebut Biru pendek. Hal itu pun membuat Biru mendelik.
"Hiihh"
"Aaakk, stop stop stop"
Tanpa menunggu aba-aba, Biru langsung mencubit pinggang Alex sehingga membuat Alex menyengir kesakitan.
"Ni anak bener-bener bikin gue naik darah ya"
Ketika Alex ingin membalas perbuatan Biru, Digant menghalangi Alex dengan lengan jenjangnya sehingga membuat Alex menghentikan aksi yang akan ia lakukan terhadap Biru.
__ADS_1
"Kalo kalian berantem terus, kapan kita finish" Ucapan dingin Digant seketika membuat keduanya terdiam dan melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu, Zia yang berjalan bersama kelompoknya terus memperhatikan Digant yang ada didepannya hingga membuat Zia tidak sengaja menginjak permukaan tanah yang tidak rata dan membuat Zia terjatuh.
"Aduh... Kaki gue"
Mendengar suara Zia kelompok Digant dan juga Devon berhenti dan melihat keadaan Zia.
"Kenapa Zi?" Alex berlari melihat adiknya yang terjatuh. Ia lalu memeriksa kaki Zia dimana pergelangan kakinya terlihat sedikit bengkak.
Alex melihat teman- temannya "kalian bisa lanjutin tantangannya, gue bawa Zia balik ke tenda biar kakinya dapat penanganan yang tepat"
"Ati-ati Lex, jangan sampek lo bikin Zia tambah parah" Celetukan Biru membuat Alex menghentikan langkah kaki Alex.
"Dia itu adek gue, mana mungkin gue nyelakain dia,pendek"
"Awas ya lu Lex, nanti kalo gua udah balik gue mau bikin perhitungan karena lo ngejekin gue" Ancam Biru dengan wajahnya yang cemberut semakin membuatnya terlihat menggemaskan.
'Apa kakinya akan baik-baik aja?' Devon begitu mencemaskan kaki Zia. Namun ia tidak ingin terlihat perduli dengan Zia, karena ia tidak ingin di anggap belum bisa pi dah kelain hati dari Zia. 'Arghh kenapa juga gue mikirin Zia. Dia udah bukan siapa-siapa gue' kenapa juga gue mikirin Zia. Dia udah bukan siapa-siapa gue' tegasnya dalam hati.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mereka. Semakin masuk kedalam hutan,Medan pun semakin tidak bisa di anggap remeh. Karena jika lengah sedikit hal yang sama seperti yang dialami Zia pun akan mereka alami.
"Devon, lo capek nggak? Gue capek banget ni. Ayo istirahat" Joeya bergelayut manja di lengan Devon.
Devon bukanlah orang yang mudah luluh ataupun mengasihani orang lain. Saat itu Devon langsung menghempaskan tangan Joeya dari lengannya. Tanpa mengatakan apapun, Devon tetap melangkah maju.
"Gan, ni minum. Biar lo nggak dehidrasi" Biru menyodorlan botol minum kepada Digant. Dan dengan cepat Devon meraihnya dan langsung menenggaknya.
Melihat kelakuan Devon yang seperti itu, membuat Biru geram. "Eh si tukang pamer, bisa nggak si lo nggak usah ngerebut minuman Digant?"
Setelah menghabiskan minuman milik Biru, Devon mengembalikan botol minum tersebut kepada Biru.
"Eh, kok lo abisin si Von. Terus gue sama Digant nanti mau minum apa?"
"Udah lo nggak usah ribut Biru, gue bawa minum kok" Sahut Digant yang masih memperhatikan jalanan.
"Itu kayaknya petunjuk rutenya deh Gan".
" Iya lo bener Ru"
Karena merasa kesal, tidak terlalu di tanggapi oleh Devon. Joeya memutuskan untuk berjalan di depan mereka dengan menggerutu. Setelah beberapa menit, saat itu Joeya berpisah.
"Von, dimana Joeya? Dia udah nggak keliatan lo"
"Ya udahlah, mungkin dia emang udah di depan"
Seketika langkah kaki mereka berhenti. Saat itu mereka melihat Joeya yang terpeleset dan berpegangan di sebuah batang kayu membuat mereka panik.
"Devon ayo bantuin Digant. Lo gimana si jadi ketua kelas nggak bertanggung jawab"
Akhirnya Devon membantu Digant. Saat itu mereka berhasil menolong Joeya, tetapi karena tempat yang ia pijaki licin, Digant terpeleset dan jatuh ke jurang. Tanpa berpikir panjang, Biru hendak meraih tangan Digabt dan justru ikut terpeleset.
"Astaga, mereka jatuh ke jurang" Teriak Joeya
__ADS_1
Devon pun merasa panik, ia mencoba memanggil Biru dan juga Digant, tetapi tidak ada yang menyahut sedikitpun.
"Telfon bantuan Von".
" Iya ini gue lagi telfon Alex. Dan lo, lo cepet hubungin yang lain juga"
Joeya dan Devon terus menghubungi panitia camping dan juga gitu mereka. Namun tidak satupun yang tersambung.
"Disini nggak ada Signal Von"
"Arghhh " Devon mendengus kesal karena saat itu oonselnya juga tidak bisa tersambung dengan nomor-nomor yang ia hubungi. Dan sekali lagi Devon mencoba memanggil Digant dan Biru. Namun keduanya masih tidak menyahuti panggilan dari Devon.
"Gimana dong Devon, gimana kali mereka nggak selamat?"
"Kita balik, kita minta bantuan sama yang lain" Ajak Devon dan di ikuti oleh Joeya.
Karena perjalanan mereka yang sudah lumayan jauh, akhirnya Devon dan Joeya memutuskan untuk berputar.
"Kita belum tau medan didepan kayak apa Joe, lebih baik kita lewat jalan tadi dan segera minta bantuan"
Devon dan Joeya menyusuri jalan yang sudah mereka lewati sebelumnya. Setelah memakan waktu sekitar dua puluh menit, mereka tengah sampai di area tenda.
Alex dan Zia yang melihat kedatangan mereka pun mengernyit. Begitupun dengan orang-orang lain yang berada di tempat tersebut.
"Kalian, kenapa kalian balik kesini lewat jalanan yang tadi? Bukannya harusnya kalian lewat sana? " Tanya Alex.
Apa yang di ucapkan Alex memang benar. Seharusnya semua murid yang sudah menjalani tantangan akan datang melalui jalan sebelah kiri. Tetapi ini Devon dan Joeya justru kembali melalui rute yang sama dengan rute keberangkatan mereka.
"Terus benderanya mana?" Timpal Zia.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Alex dan Zia, Devon melenggang pergi dan menemui guru pembimbing mereka yang ada di tenda lain.
Alex dan Zia mengerutkan dahinya melihat Devon begitu serius ketika berbicara dengan guru, sehingga timbul rasa penasaran dari Zia dan juga Alex.
"Sebenernya ada apa Joe, apa yang terjadi?" Tanya Zia
"Iya Joe ada apa?" Alex pun ikut menimpali.
Joeya pun segera menceritakan apa yang sudah ia alami dan akhirnya Digant bersama dengan Biru jatuh kedasar jurang yang belum di ketahui keadaannya saat ini.
"Apa? Jatuh ke jurang?" Sontak suara Alex membuat semua yang ada di tempat itu juga terkejut.
Mendengar hal itu Zia segera menyusul Devon menemui guru mereka yang dengan kakinya yang bengkak.
"Pak cepet cari bantuan pak, mereka harus selamat"
"Tenang Zia, tenang"ucap Alex
" Gimana bisa tenang bang, Sigant jatuh ke jurang" Teriak Zia.
"Bukan cuman Digant, Biru juga jatub ke jurang Zia Callysta"
Baru kali ini Devon berbicara dengan suara keras. Sehingga Zia tersentak mendengarnya.
__ADS_1
'Apa mereka akan terus saling menyakiti kayak gini? Atau mereka emang udah move on sama perasaan mereka? Astaga, kalo itu bener, gue nggak bisa tinggal diem' batin Alex
Bersambung