Digant

Digant
Bab 4 (Sekolahan Yang Sama)


__ADS_3

Ketika Devon mencekal pergelangan tangan Biru, semua histeris. Ada yang menganggap gemas ada juga yang justru semakin iri dengan Biru karena berada di antara kedua most wanted sekolahan tersebut, meskipun Digant.tidak sekaya Devon, namun banyak juga yang sangat mengagumi ketampanannya. Tetapi Biru bukanlah mereka yang akan senang jika didekati oleh Devon. Biru justru merasa kesal karena bagi Biru Devon tidak lebih dari si tukang pamer.


Biru terus berontak, tetapi tangannya tidak bisa terlepas. Sementara Digant, Digant masih mengamati Devon. Jika hal itu terus berlangsung, maka Digant akan membantu Biru lepas dari Devon.


"Devon"


'Suara itu'


Devon mendengar suara yang ingin dia lupakan, tetapi kali ini terasa nyata memanggilnya.


"Devon"


Sekali lagi suara itu terdengar di telinga Devon, tetapi Devon masih tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Woe si tukang pamer, lo di panggil bolot banget si" Biru menghempaskan kembali cekalan Devon sehingga membuat Devon sedikit tersentak oleh ucapannya.


Dan ketika Biru mengatakan hal itu Devon lalu melihat ke arah belakang. Dan benar, suara itu benar-benar seseorang yang sangat ingin ia lupakan tetapi tidak pernah bisa.


"Zia"


Zia tersenyum lembut menatap Devon yang setia dengan wajah datarnya. Perlahan Zia semakin mendekat ke arah Devon.


Alih-alih menemui mantan kekasihnya, Devon justru pergi dan menghindar dari Zia.


Seketika raut wajah Zia terlihat bingung saat Devon justru mengabaikan panggilannya dan pergi dari hadapannya.


Sementara itu saat ini Devon yang berada didalam kelasnya bertanya-tanya, kenapa orang yang benar-benar ingin ia lupakan justru kembali hadir didalam hidupnya.


Alex yang menyadari akan sikap sahabatnya itu segera menyadarkannya dari lamunan.


"Lo kenapa Von?"


"Gue? Gak papa gue"


"Kita udah kenal lumayan lama, jadi gue tau kalo lo lagi ada masalah"


"Lo inget sama yang pernah gue ceritain soal mantan gue?"


"Maksud lo mantan lo waktu SMP?"


Devon mengangguki ucapan Alex, dan seketika Alex tertawa ketika benar dengan dugaannya. Ya begitulah Alex, selalu tidak pernah serius dengan apapun. Begitupun ketika menjalin hubungan.


"Emang ada apa sama mantan lo?"


"Gue liat dia disini"


"Ya bagus dong"

__ADS_1


"Apa?"


Devon tidak mengerti dengan apa yang di maksud dengan Alex. Devon sendiri sudah pernah bercerita alasan kenapa dirinya berpisah dengan mantan kekasihnya tersebut.


Devon sendiri tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun setelah putus dari mantan kekasihnya ketika SMP. Devon tidak bisa menjalin hubungan karena dia masih belum bisa melupakan rasa sakit yang ia rasakan.


Bahkan Devon sangat dingin dengan siapapun yang ingin mendekatinya. Tidak sedikit siswi yang mendekatinya merasa patah hati dan pindah sekolah.


"Kalo emang mantan lo itu sekarang ada di sekolah ini, Lo bisa buktiin sama mantan lo itu kalo lo bisa lupain dia setelah dia bersikap seenaknya sama lo Von"


"Nggak, gue nggak akan pakek cara murahan kayak gitu. Gue nggak mau pura-pura suka sama cewek cuman buat bales dia. Karena bagi gue sekarang dia bukan apa-apa buat gue, dan gak akan mempengaruhi gue. Lagi pula gak tau kenapa dia kesini, dia nggak pakek seragam kita tadi"


"Serah lu deh Von. Oh ya kayak apa si cewek yang pernah naklukin manusia es kayak lo"


"nggak penting"


Triing


Bell sekolah berdering semua murid sudah masuk kedalam. Saat itu Biru juga sudah masuk bersama dengan Digant.


Keduanya terlihat serius. Tetapi Devon tidak menghiraukannya, karena memang Devon berusaha mendekati Biru bukan karena benar-benar tertarik melainkan hanya ingin memberi Biru sebuah pelajaran. Itu yang ia katakan selama ini.


Jam pelajaran pun dimulai, semuanya berjalan dengan semestinya hingga bell pulang sekolah berdering.


Seperti yang sudah pernah Digant katakan, Biru harus membantu Digant untuk mencari tahu apa yang di sembunyikan oleh ibunya saat ini. Dengan bantuan Biru, Digant berharap ia akan segera memecahkan masalah dan bisa menyelesaikan misinya untuk membuka semua rahasia yang disimpan oleh mamanya. Meskipun ia belum menemukan bukti apapun, Digant merasa jika mamanya pasti menyembunyikan sesuatu.


"Udah ikut gue, nanti lo cuman ngabisin waktu disini kalo gue jelasin rencananya disini"


Setelah mereka sampai di toko yang berada di lantai dua, saat itu Digant mengatakan semua rencananya dan diangguki oleh Biru.


"Siang ma" Sapa Digant ketika baru memasuki toko.


"Siang kak"


Biru memang sudah sering bertemu dengan Ain. Ia selalu memanggil Ain dengan sebutan kak, karena memang usia mereka memang benar-benar hanya terpaut 7 tahun.


"Siang Biru.. Tumben kamu ikut kesini? "


"Iya kak, soalnya mau liat-liat baju di tempat kakak, kayaknya keliatan bagus-bagus"


Disaat Biru mengajak Ain berbincang, saat itulah Digant menemui seorang perempuan yang bekerja kepada Ain sejak dulu. Tepatnya ketika masih Larasati yang mengelola toko Laras.


"Siang bu Asih"


"Eh mas Digant, mas Digant baru pulang dari sekolah? " Tanya seorang perempuan yang berusia hampir paruh baya yang tengah merapikan gantungan pakaian.


"Iya ni bu, bu Asih apa nggak capek kerja. Padahal bu Asih udah lama kan kerja disini?"

__ADS_1


Saat itu bu Asih tersenyum ketika Digant mengatakan hal itu. Ia lalu ikut duduk di lantai bersama dengan Digant yang sudah duduk lebih dulu.


"Saya nggak pernah capek mas Digant. Dari dulu waktu bu Laras masih mengelola toko ini selalu baik dengan saya, begitupun dengan mba Ain. Mereka selalu menghargai orang meskipun entah orang itu hanya pekerja mas Digant"


"Oh, berarti bu Asih tau dong waktu Digant lahir dulu?"


"Bu Asih"


Ketika Bu Asih ingin menjawab pertanyaan dari Digant, saat itu Ain memanggilnya.


"Bu Asih tolong antar mereka ya, mereka mau liat toko kita yang ada di lantai dasar" Titahnya dan segera dituruti oleh Asih.


Dan saat itu Ain menatap Digant dengan wajah datarnya. Dan tanpa mengatakan apapun Ain pergi meninggalkan Digant yang masih berdiri mematung.


Saat itu terlihat jelas jika Ain tau apa yang sebenarnya ingin Digant tanyakan kepada Asih.


"Gan maafin gue ya, gara-gara gue lo ketauan sama kak Ain"


"Bukan salah lo kok Ru. Ya udah lebih baik kita cabut dari sini, udah jam segini pasti lo di cariin sama bokap lo"


"Digant, lo mau ngeledek gue?"


"Kenapa? "


"Lo tau kan bokap gue itu sibuk, mana mungkin dia cariin gue"


"Sorry Biru, ya udah gue anter lo pulang. Nanti adek lo marahin gue lagi kalo kakaknya nggak pulang tepat waktu."


"Ya gitulah Bara,Dia selalu ngambil peran bokap gue. Dia yang selalu perhatian sama gue, ya walaupun kadang nyebelin si"


_


Alex mengerutkan dahinya ketika melihat adik kembarannya menyiapkan sebuah seragam yang sama dengan miliknya.


"Lo ngapain bawa seragam sekolah gua Zi?"


"Karena mulai lusa gue mau sekolah di sana"


"Lo sehat? "


"Emang kenapa? "


"Dari dulu lo itu nggak pernah mau sekolah di sekolahan yang sama, sama gua Zi. Tadi aja lo waktu nganterin buku tugas gua, lo buru-buru pergi karena nggak mau anak-anak ngatain kita mirip"


"Soalnya gue punya alasan buat sekolah di sana"


Alex mengerutkan dahinya, ia belum tau apa alasan kenapa kembarannya ingin bersekolah di tempat ia sekolah. Terlebih baru tadi pagi Zia buru-buru meninggalkan sekolahan itu agar tidak ada yang mengatakan mereka mirip. Tetapi sekarang justru Zia begitu bersemangat ingin bersekolah di tempat Alex bersekolah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2