
"Gimana Gan? Lancar?"
Bukannya menjawab ucapan dari Biru, Digant justru langsung memeluk Biru. Disaat ia memeluk Biru,Digant mengucapkan banyak terimakasih terhadap Biru.
"Lepas Digant" Biru mendorong Digant hingga terlepas dari pelukannya. "Terima kasih si Terima kasih. tapi gue nggak mau ya, nanti fans lo jadi haters gue lagi gara-gara lo meluk gue"
Digant tertawa mendengar ucapan dari Biru. Saat itu Digant justru merangkul Biru hingga Biru tidak bisa melepas lengan Digant dari pundaknya.
_Flashback On
Setelah menyiapkan semua bahan, Digant mulai melakukan aksinya di dapur. Ia mulai mengiris bumbu dan juga sayuran.
Saat ini ia ingin menyiapkan makan malam untuk Ain agar Ain tidak lagi marah kepadanya.
Cukup lama Digant berkutat dengan peralatan dapur. Cukup melelahkan tentunya untuk seseorang yang tidak terbiasa, seperti halnya dengan Digant. Jangankan memasak banyak menu seperti saat ini yang ia lakukan, bahkan membuat Nasi goreng saja ia tidak pernah.
Kali ini adalah pengalaman pertamanya memasak banyak masakan untuk seseorang yanga sangat penting dan tersayang baginya.
"Karena mama suka daging, jadi gue bikin tongseng buat mama. Semoga aja mama suka. Dan yang terpenting, mama bisa maafin aku dan kembali kayak dulu lagi" Digant tersenyum sembari meyakinkan dirinya meskipun ia ragu jika mamanya akan memaafkannya secepat itu.
Dan setelah satu jam lebih, kini Digant sudah menyelesaikan banyak masakan. Ia mencicipi semua masakannya, dan untung saja hasilnya tidak terlalu buruk kecuali dadar telur yang lumayan berwarna hitam karena hampir saja hangus. Selebihnya semua bisa dikatakan berhasil.
"Masakan semuanya udah siap, dan mama pasti bentar lagi pulang. Lebih baik gue ganti baju sekarang, ini bau masakan banget"
Digant bergegas masuk kedalam kamarnya. Ia lalu mengganti pakaiannya dan setelah itu kembali ke bawah.
"Gue gak ngebayangin kalo jadi cewek, pasti ribet banget. Harus bisa masak ini itu, harus ngurus rumah. Hadeh.." Digant menggeleng-nggeleng setelah mengatakan hal tersebut.
Digant menunggu kedatangan Ain di ruang tamu. Agar ia tidak bosan, Digant memainkan ponselnya.
Ceklek
Kenop pintu pun terbuka dari luar. Saat itu melihat Ain yang baru saja masuk, ia menyambut mamanya. Dan membawanya ke ruang makan.
"Mama duduk disini, hari ini Digant masak buat mama"
Saat itu Ain melongo melihat banyak menu di meja makan. Terlebih yang membuatnya terkejut, semua makanan itu bukanlah hasil dari membeli, melainkan masakan dari anaknya.
"Digant, apa kamu yakin kamu yang memasak semua ini?"
"Iya ma, aku sengaja masak karena.. "
Digant berjalan kearah Ain dan segera memeluk Ain dengan erat.
"Ma, maafin Digant ma. Digant tau Digant salah karena udah ngerasain mama. Seperti yang udah pernah Digant sampaikan ke mama, Digant nggak akan mencari tahu tanpa sepengetahuan mama. Kalaupun nanti temen-temen pada ngejek Digant, Digant nggak perduli. Karena buat Digant mama yang terpenting.
Mendengar ucapan Digant, Hati Ain begitu tersentuh. Terlebih ketika dirinya melihat usaha anaknya untuk meminta maaf . Digant memang melampaui batas kekuatannya. Karena memang memasak bukanlah bidangnya. Namun demi mamanya ia melakukan apapun untuk mendapat maaf dan membuat mamanya menjadi bahagia dan tidak bersedih lagi.
"Mama udah maafin kamu Digant. Walaupun kamu cuman masak telur yang gosong kayak gini aja, mama pasti udah maafin kamu. Apalagi ini? Kamu begitu berusaha sayang. Mama juga minta maaf karena beberapa hati ini mama terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga ki merasa mama marah denganmu"
"Jadi mama nggak marah? " Ain menggelemg dengan senyum di wajahnya.
"Kalo tau gitu Digant gak usah masak tadinya ma, tau gitu Digant ngajakin mama makan malam di luar. Kan lebih enak makanannya"
"Sstt mama lebih suka ini sayang" Keduanya terkekeh dan segera menyantap semua makanan yang sudah di masak oleh Digant.
_Flashback Off
Mereka melakukan hal itu hingga sampai didepan kelas mereka. Hal itupun membuat para siswi lain menjadi histeris.
"Digant.. Walaupun lu nggak sekaya Devon, gue mau lo di jadiin pacar sama lo" Teriak salah satu siswi
"Gue juga" Tambah siswi lain.
Hal itupun baru di ketahui oleh Zia yang baru dua hari bersekolah di sana. Ia baru tau jika Digant dan Devon adalah most wanted di SMA Persada.
Tring
__ADS_1
Bell masuk pun berdering, saat itu kelas XI harus berkumpul di aula untuk di beri pengumuman oleh pihak sekolah. Saat itu mereka di beritahu jika kelas mereka akan mengadakan camping di dalam hutan untuk melatih kedisiplinan mereka dan juga nantinya akan di uji seberapa perduli mereka satu sama lain.
Karena mereka lusa harus mengadakan camping, hari ini sekolah memulangkan mereka lebih awal.
Saat ini Digant datang ke rumah Biru untuk melihat persiapan apa yang di sediakan oleh Biru yang akan ia bawa ke Camping mereka.
"Biru,adek lo kalo jam segini belum balik?" Tanya Digant sembari melihat jam tangannya.
"Bentar lagi Gan. Oh ya lo mau minum apa? "
"Nggak perlu Ru, gue mau cabut sekarang. Gue mau ke toko liat mama. Dia itu terlalu Memforsir pekerjaannya"
"Oh okey"
Ketika Digant keluar dari pekarangan rumah Biru, saat itu Bara melihatnya. Ia pun bergegas masuk dan mendapati Biru yang tengah sibuk menyiapkan barang bawaannya untuk camping.
"Kak Biru mau kemana si, kok nyiapin koper?" Tanya Bara sembari melepas sepatunya.
"Ini Bara, kakak besok ada Camping sekolah. Jadi hati ini kakak nyiapin semuanya?"
"Papa tau? "
"Belum, papa kan selalu sibuk sama kerjaannya"
Mendengar suara Biru yang sendu, Bara duduk di samping kakaknya dan mwngusap lembut pundak kakaknya.
"Gak pa-pa kalo papa sibuk kak, ada Bara yang selalu ngeluangin waktu buat kakak" Begitu meneduhkan tatapan Bara ketika ia bersikap dewasa seperti saat ini.
Setelah menyiapkan segala keperluannya untuk camping, Biru menyuruh Bara untuk segera berganti pakaian. Sementara dirinya segera pergi ke dapur mencari Art nya yang sedang memasak untuk makan siang.
Saat itu Biru mencium bau wangi masakan kesukaanya, yaitu cumi balado. Art nya memang tau itu kesukaan Biru, karena ia sudah bekerja sejak Biru masih berusia lima tahun. Tepatnya ketika ibu Biru mengidap sakit kanker. Dan Yugo pamungkas, ayah Biru memperkerjakan Asna untuk membantu Liliana, istrinya.
Setelah di ketahui mengidap kanker darah, Liliana hanya bertahan satu tahu setengah. Setelah dirinya meninggal, Biru begitu dekat dengan Asna. Karena kasih sayangnya untuk Biru dan Bara sangat tulus, hal itulah yang membuat Yugo memperkerjakannya hingga detik ini.
"Udah siap ya bik makan siang nya?"
"Oh iya non, cumi balado kesukaan non sama den Bara udah siap. Bibik juga udah bikin sayur asem non"
"Bara buruan turun, kalo nggak turun cuminya kakak abisin ya" Biru sengaja menggoda adiknya karena ia sudah kelaparan ketika menunggu Bara untuk makan.
Setelah Biru memanggil Bara, terdengar suara berlari dari arah kamar Bara. Dengan nafas terengah, Bara sampai di meja makan dengan tatapan bertarung ke arah Biru. Sontak hal itu membuat Biru dan Asna terkekeh.
"Udah buruan makan, kakak juga belum makan"
"Selamat menikmati non, den" Ucap Asna yang hendak kembali ke dapur.
"Mau kemana bik? "
"Ke dapur non"
"Eit jangan dong, bibik duduk. Kita makan bareng"
"Iya bik, kita makan bareng."
Biru dan Bara memang sudah menganggap Asna seperti keluarganya. Sehingga terkadang sikap anak majikannya itu membuat Asna menjadi terharu. Ia merasa begitu beruntung mempunyai majikan sebaik Biru dan juga Bara. Bahkan anaknya sendiri tidak bisa menghormati nya seperti Biru dan Bara menghormatinya.
Usai menyelesaikan makan siang, seperti biasa Biru membantu Asna untuk mencuci piring.
"Nggak usah non, biar bibik aja yang nyuci piring"
"Eh nggak pa-pa bik, Biru juga bisa kalo cuman nyuci piring bik"
Akhirnya Asna membiarkan Biru untuk membantunya mencuci piring. Dan disaat itu Biru melihat Asna yang terus memperhatikannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Biru segera meletakkan piring yang ada ditangannya. Ia lalu meraih kedua tangan Asna dan menatapnya lekat.
"Ada apa bik?"
__ADS_1
"Eh enggak non, bibik cuman inget sama anak bibik yang seumuran sama non Biru"
"Jadi bibik punya anak yang seumuran sama Biru?"
"Iya non, tapi.. "
"Tapi kenapa bik? "
"Dia selalu tidak mau jika teman-temannya tau kalau bibik ini ibunya non"
"Apa? Kenapa? "
"Karena dia malu punya ibu seorang pembantu non"
Melihat kesedihan Asna, Biru segera memeluk Asna dengan erat sembari mengusap lembut punggungnya.
"Bibik jangan sedih ya, Biru nggak malu kok punya bibik. Bibik udah kayak mama Biti sendiri"
"Iya bik, bibik jangan sedikit ya" Sahut Bara yang kini ikut memeluk Asna.
Asna menangis haru. Kenyataannya saat ini orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, justru bisa menghormati dan menghargainya melebihi anak kandungnya sendiri yang merasa malu mengakuinya sebagai ibu.
Setelah cukup lama mereka berpelukan kini perlahan Biru dan Bara melepas pelukannya. "Oh ya bik, anak bibik kan seusia Biru, itu berarti dia masih sekolahkan bik? sekarang doa sekolah dimana bik? "
"Anak bibik sekolah di SMA Persada non"
"Wah itu berarti anak bibik satu sekolahan sama Biru. Namanya siapa bik?"
"Namanya-"
Drrttt Drrrttt
"Eh bentar ya bik, ini papa telfon"
Biru meninggalkan Asan untuk mengangkat telfon dari ayahnya yang selalu sibuk mengurus pekerjaannya. Sementara itu Asna kembali melanjutkan aktifitasnya di dapur.
_
Devon dan Alex bertemu di sebuah kafe. Saat itu Alex mengajaknya bertemu karena ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa Lex, biasanya lo datang ke rumah kalo mau bahas sesuatu?"
"Ini soal Zia, Von."
"Ada apa saja adek lo?"
"Kayaknya dia suka sama Digant"
Devon terkejut mendengar ucapan dari Alex. Tapi ia berusaha setenang mungkin dengan menutupinya menggunakan wajah datar dan sifat dinginnya.
"Terus apa urusannya sama gue? "
"Ayolah Von, gue yakin lo belum bisa lupain adek gua kan? Jadi please lo deketin dia lagi biar dia nggak sama Digant"
"Sorry Lex, gue nggak bisa" Devon bangkit dan hendak pergi. Tetapi Alex menghentikannya.
"Lo nolak permintaan gue bukan karena lo udah suka beneran sama Biru kan Von? "
Devon tidaklah menyukai Biru, karena sebenarnya ucapan Alex ada benarnya. Devon masih belum bisa melupakan perasaannya terhadap Zia. Tetapi rasa itu tertutup oleh rasa sakit yang tersimpan di hati Devon ketika ia harus melepaskan Zia waktu itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Alex, Devon melenggang pergi. Dan saat ini tersisa Alex yang tertegun dengan sikap Devon saat ini.
"Gue yakin Biru itu bukan tipenya kan?"
-
Hati ini adalah hati dimana kelas XI akan pergi camping disebuah hutan. Mereka akan berada disana selama tiga hari.
__ADS_1
Di sepanjang jalan Alex masih memikirkan tentang penolakan Devon. Saat itu ia mencoba memikirkan cara agar Devon mau kembali dengan adiknya. Dan ketika di dalam mobil, Alex melihat Biru yang begitu dekat dengan Zia.
'Gue tau caranya biar Devon mau balik sama Zia'