
Ain memandangi Digant yang masih belum sadarkan diri. Ia terlihat begitu cemas karena selain Digany adalah anaknya, ia satu-satunya keluarga bagi Ain.
Biru bangkit dari duduknya, ia mengusap lembut pundak Ain yang terlihat sangat mengkhawatirkan Digant.
"Kak, Digant pasti akan baik-baik aja."
Ain menoleh menatap Biru dan mengusap tangan Biru yang berada di pundaknya. Ia lalu tersenyum tipis. Melihat keadaan Biru saat ini, Ain menyuruh Biru untuk pulang dan beristirahat.
Awalnya Biru tidak ingin pulang sebelum Digant sadarkan diri, tetapi dengan keadaanya saat ini ia juga tidak bisa memaksakan diri. Bahkan selain dirinya, ia juga harus memikirkan orang lain. Ada Bara yang terus mencemaskannya ketika menghubunginya melalui via telepon.
Biru keluar dengan di temani Ain. Saat itu Ain mencari keberadaan seseorang, dan kebetulan saat itu ia melihat Devon bersama dengan ayahnya.
"Emm Devon, bolehkah aku minta tolong denganmu? "
"Apa yang bisa ku bantu? "
"Tolong antarkan Biru pulang"
Biru terkejut ketika mendengar apa yang Ain katakan kepada Devon. Seketika Biru menolaknya, ia tidak ingin pulang bersama dengan Devon.
"Ada apa nak Biru, kenapa kamu tidak ingin di antarkan oleh anak om? " Tanya Irgan yang kebetulan belum pergi dari rumah sakit tersebut.
Ingin rasanya Biru mengatakan semua kekesalannya tentang sikap Devon yang sering membuatnya menjadi marah dan juga sebal karena Biru menganggap Devon seseorang yang suka memamerkan sesuatu.
"Tidak om, hanya saja aku tidak terlalu dekat dengan Devon" Jawab Biru sembari menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
"Kalo gitu biar Alex aja yang nganterin kak" Sahut Alex yang baru datang bersama dengan Dia "dan Devon bisa mengantar pulang Zia karena rumah kami searah,dan lagi pula mereka cukup dekat dulu" Sambungnya lagi.
Devon melotot kearah Alex. Tentu saja Alex tau hubungannya dengan adiknya dulu, tetapi kenapa seolah-olah Alex ingin mendekatkan mereka kembali.
"Apa yang dikatakan Alex benar, kita tidak bisa membuat Biru tidak nyamankan? Dan karena Dia sudah mengenal dekat dengan Devon, Devon bisa mengantarnya sekalian dia pulang bersama supir" Tuan Irgan pun ikut menimpali.
Mendengar ucapan ayahnya, Devon menautkan kedua alisnya. Dengan mengatakan hal itu, itu berarti ayahnya tidak akan pulang bersamanya.
"apa papa gak pulang bareng Devon?"
"Papa akan disini, buat nanti nak Ain bisa istirahat. Dan papa yang akan menjaga nak Digant"
"Tidak perlu tuan Irgan, anda sudah berbaik hati menolong nyawa anak saya. Saya bisa menjaganya"
Tentu saja Ain akan menolaknya. Ia tidak ingin terlalu lama bersama dengan Irgan.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" Ain mengangguki ucapan tuan Irgan.
Dan setelah diputuskan, Alex segera mengantarkan Biru, sementara Devon dan juga tuan Irgan pulang bersama dengan Zia.
_
Biru menatap lurus kedepan, sementara Alex, ia beberapa kali melihat ke arah Biru yang terus terdiam.
"Biru"
"Hmm"
"Rumah lo dimana?"
"Di komplek xxx"
Alex berpikir ia akan mengulik tentang hubungannya dengan Digant. Ia berharap Biru memiliki perasaan dengan Digant, sehingga Biru tidak akan menyukai Devon. Dengan begitu Zia akan kembali bersama dengan Devon dan bukannya Digant.
"Oh ya Biru, lo sama Devon sedikit apa si?"
"Deket, gue sama Digant sahabatan" Tukasnya.
"Terus kenapa lo tadi nggak mau di anter Devon? Padahal kita juga nggak deketkan?"
"Enggaklah, orang gue yang nawarin kan tadi? Ya gue cuman penasaran aja kenapa lo nolak di anterin Devon?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Alex, Biru justru membuang pandangannya ke arah samping jendela. Ia tidak ingin mengatakan apa pun kepada Alex.
Mendapati sikap Biru yang sangat tidak diharapkan oleh Alex, tentu saja membuat Alex sedikit kesal.
'ini cewek susah banget si di ajak ngomong? Kalo kayak gini gimana gue bisa tau perasannya gimana sama Digant dan juga Devon?'
Akhirnya Alex tidak memaksa Biru untuk mengatakan apapun. Ia pun sudah lelah karena kejadian yang menimpa mereka, dan ditambah lagi ia harus menyetir mobil selama beberapa jam untuk mengantarkan Biru.
"Stop.. Stop.. Ini rumah gue"
Bukannya berhenti, Alex masih lanjut dan masuk ke halaman rumah Biru setelah satpam membuka pintu gerbangnya.
ketika mobilnya benar-benar berhenti didepan rumah Biru, seorang anak laki-laki remaja membukakan pintu dan membuat Alex mengerutkan dahinya.
Meskipun sudah 2 tahun Alex mengenal Biru selama SMA, ia tidak tau menahu tentang kehidupan Boru sedikit pun. Karena abadi Alex Biru bukanlah seseorang yang menarik untuk ia dekati. Tetapi kali ini ia harus mendekati Biru demi kembarannya. Ia tidak ingin Biru menjadi penghalang untuk Zia dan Devon kembali bersama, karena ia tidak ingin Digant dekat dengan Zia.
__ADS_1
Digant turun dan mengantarkan Biru hingga ke depan pintu rumahnya.
"Apa ini sangat sakit?" Tanya Bara melihat setiap luka yang sudah di perban di tubuh kakaknya.
"Enggak Bara, kakak nggak pa-pa"
Kemudian saat itu Bara melihat Alex dan mengernyit. Pasalnya tudak ada orang lain yang selalu mengantar Biru pulang selain Digant. Dan kali ini ia melihat orang yang belum ia kenal mengantarkan kakaknya pulang.
"Dimana bang Digant, kenapa dia yang mengantarmu pulang?" Tanya Bara penuh selidik sembari mengamati Alex.
"Bang Digant di rawat Bara, dan kenalin dia Alex. Alex juga teman kakak di sekolah"
"Masuklah kak, nanti Bara bikinin minuman buat kakak. Sepertinya kakak juga kelihatan capek"
Apa yang dikatakan eh Bara memang benar. Dan saat itu Alex ikut masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Saat itu Biru membersihkan diri,sementara Bara sudah menyiapkan minuman untuk Alex.
"Ini teh buat kak Alex"
"Lo nggak perlu repot kayak gini Bara"
"Aku nggak ngerasa repot, lagi pula kakak baru pertama kali datang, jadi aku akan menyambut tamu dengan baik"
Setelah mengucapkan itu, Alex segera menyesal minuman yang dibuatkan oleh Bara.
"Buih.. " Alex memuntahkan minuman yang baru saja ia minum.
Berharap dahaganya akan segera menghilang, rasa asin yang cenderung pahit justru menjalar di seluruh tenggorokannya.
"Minuman apa ini?"
"Dengar kak Alex, aku juga seorang laki-laki. Jadi aku tau laki-laki mana yang mempunyai niat tertentu untuk kakakku"
Bata bangkit dan menatap Alex dengan tatapannya yang tajam, ia lalu menarik Alex agar Alex juga bangkit dari duduknya.
"Aku terimakasih karena kakak mengantar kak Biru pulang. Tapi aku belum mempercayai kakak untuk dekat dengan kak Biru. Karena aku sebagai adik laki-laki nya, aku akan menjaganya agar dia tidak mendapat laki-laki seperti papa. Dan sekarang kak Alex silahkan pulang, karena ini udah larut malam"
Akhirnya saat itu tanpa mengucapkan apapun, Alex memilih untuk segera pergi.
Di sepanjang perjalanan pulang, Alex teringat dengan kata-kata Bara. Dimana saat itu Bara mengatakan ia akan menjaga Biru agar tidak mendapat laki-laki seperti ayahnya.
"Kenapa cewek itu susah banget buat di tebak. Bahkan Biru dari sikapnya aja susah. Di sekolah dia kayak bar-bar gitu, tapi di rumah? Dia jauh lebih dewasa."
__ADS_1
"Bahkan yang gua heran, kenapa anak seusia Bara bisa sedewasa itu? Ah tapi anjir banget! Kenapa tua anak bisa nebak gue?"
Bersambung