
Di tempatnya, energi ini akan jauh lebih besar. Tapi karena hati putri Yin yang sangat tulus, itu bisa mengalahkan amarah pangeran yuk. Pangeran yuk tak bisa sembarangan membunuh orang karena cincin energi dari Putri Yin yang ada di jari manisnya.
***
Pangeran yuk ingin menghunuskan pedangnya kepada pangeran Huang. Tapi dia malah pergi ke tempat lain. Pangeran yuk berhenti di depan kamar putri Yin.
"Aish. Karena ini pasti." Pangeran yuk kesal di depan kamar putri Yin. Pedangnya berubah warna merah muda dan hilang.
Dia ke kamar dengan kesal. Tidur dengan kesal. Kenapa bisa energinya kalah dengan energi putri Yin. "menyebalkan sekali."
Pangeran yuk terus memikirkan itu. Sampai pagi.
***
Pagi di kerajaan Yin sangat indah. Cahaya merah muda yang hampir menghiasi seluruh kerajaan dan istana. Bunga yang berwarna-warni sangat indah. Beberapa didominasi warna merah muda.
Hari ini musim gugur bunga. Banyak bunga yang berguguran seperti sedang hujan bunga. Udara yang bersih, wangi dan indah.
Putri Yin selalu suka menyambut pagi dan setiap hari di kerajaannya. Tapi sebentar lagi dia tak akan melihat ini. Putri Yin bangun pagi. Mandi bunga dengan pelayan yang membantu menyiapkan airnya.
Mandi energi merah muda yang dia alirkan sendiri untuk dirinya. Mengganti bajunya dan makan buah anggur merah muda dipagi hari.
"apa aku benar-benar akan pergi dari istana ini? Dari kerajaan Yin hari ini? Tak akan pernah kembali lagi kesini?" tanya putri Yin yang sedang dibantu pelayan untuk menata rambutnya. Putri Yin duduk di depan cermin rias di kamarnya.
"putri bisa tetap kembali ke sini. Sesuka hati putri. Putri kan tetap putrinya yang mulia raja dan ratu. Tetap putri di kerajaan Yin dan istana Yin." Ujar salah satu pelayan.
"Emm. Tapi tidak bisa setiap hari di sini. Kenapa juga saya harus membawa beban dunia pendekar seperti ini. Enak ya pasti jadi kalian semua, jauh lebih normal hidupnya dari pada saya?" Tanya putri Yin, iri kepada para pelayan.
Mereka malah tersenyum. "kami malah ingin menjadi seorang putri. Tidak perlu bekerja setiap hari. Bisa secantik putri Yin juga. Mendapatkan pangeran yuk yang paling hebat dan tampan itu." Kata salah satu pelayannya lagi.
"Ishh. Pangeran yuk, hebat dan tampan itu. Menyebalkan iya. Bisanya Cuma marah dan membunuh orang." Putri Yin jadi kesal membicarakan dia.
__ADS_1
Baru saja dibicarakan. Brak! Pintu kamar putri Yin dibuka dengan sangat kasar. Putri Yin dab para pelayannya sampai kaget. Dia menoleh ke belakang, ingin melihat siapa yang datang dan dengan tidak sopannya seperti itu.
Ternyata pangeran yuk. Putri Yin tak heran kalau itu dia. Dia melangkah cepat dan dengan wajahnya yang kesal. Dia mendekati putri Yin.
"Kamu permisi kalau begitu putri." Para pelayan pamit. Mereka menunduk, undur diri dari hadapan putri Yin. Pangeran yuk berdiri dihadapan putri Yin dengan kesal.
"Ini. Kenapa pedangku malah mengalirkan enegeri merah muda kamu itu? Aku bahkan tak bisa mengendalikannya untuk membunuh pangeran Huang." Ujar pangeran yuk menunjukkan tangannya dengan cincin energi merah muda yang muncul.
"Hih. Memangnya tidak tau. Itu gunanya kita menikah, mengikatkan cincin." Putri Yin berbalik dan merapikan rambutnya.
"Jadi aku juga bisa mengendalikan tangan anda, tuan putri? Kalau bukan saya yang membunuh pangeran tidak punya hati itu, biar anda saja yang membunuhnya. Dengan tangan anda." Pangeran yuk memutar arah putri Yin. Dia genggam bahu purtri Yin dia tatap dengan sangat dekat.
Pangeran yuk menunduk. Mendekatkan wajahnya tepat di depan putri Yin.
***
Sudah waktunya makan pagi di kerajaan Yin. Ratu Wu dan raja Zeng juga ratu Li sudah ada di ruang makan kerajaan. Tinggal putri Yin dan pangeran yuk yang belum datang. Ratu Huang dan pangeran Huang juga sudah ada di ruang makan.
"Kamu tunggu saja yang mulia ratu. Lebih enak kalau makan bersama dengan keluarga besar." Kata ratu Huang kepada ratu Wu. Ratu Wu menunduk.
"baik lah." Ratu Wu dengan pelayannya di temani ke kamar putri Yin.
Ratu Li juga akan ke kamar pangeran yuk untuk memanggilnya. "saya juga permisi memanggil yuk dulu."
"Silakan yang mulia ratu Li." Ujar raja Zeng. Baru saja ratu Li mau ke kamar pangeran yuk, salah satu pelayan putri Yin memberitahu kalau pangeran yuk ada si kamar putri Yin. Mereka sedang berbicara berdua.
Ratu Li pun mengubah arahnya. Dia menuju ke kamar putri Yin. Ratu Wu dan ratu Li ada di dekan kamar putri Yin. Mereka membuka kamarnya.
Keduanya terkejut. Mengira kalau mereka sedang bermesraan, hampir seperti mereka akan berciuman. Keduanya saling melirik dan tersenyum.
"maaf. Kami mengganggu kalian berdua." Ujar ratu Wu yang kembali menutup pintu.
__ADS_1
Putri Yin dan pangeran yuk terdiam. Mereka saling menatap, mata ke mata. Pangeran yuk melihat alam semesta di mata putri Yin. Begitu juga putri yin yang melihatnya. Dunia mereka berdua. Mereka terdiam dan melamun.
Sampai mendengar suara ratu Wu.
"Lepaskan." Putri Yin menepis tangan pangeran yuk. Pangeran yuk pun berdiri dengan tegak lagi. Berdiri dengan gugup setelah melihat masa depan mereka lagi.
Pangeran yuk keluar kamar putri Yin. Dia membuka pintu dan bingung melihat ibunya dan ibu putri Yin di depan. Keduanya juga kaget begitu pangeran yuk membuka pintu.
"sudah anankku?" tanya ratu Li kepada pangeran yuk. Pangeran yuk hanya diam dan berjalan pergi dari sana.
Putri Yin tak lama keluar dari kamarnya. Dia juga bingung melihat ibunya di sana. "ada apa ibu?" tanya putri Yin kepada ratu wu.
Ratu Wu menggeleng. "tidak apa-apa. Ayo makan. Semua sudah menunggu." Ratu Wu tersenyum malu sendiri membayangkan tadi. Dia menggandeng anaknya untuk ke ruang makan kerajaan.
***
Mereka bertemu di ruang makan kerajaan lagi. Putri Yin duduk di sebelah pangeran yuk. Putri Yin juga harus terpaksa mengambilkan makanan untuk pangeran yuk lagi.
Kali ini mereka hanya diam dan makan.
"yang mulia. Nona kecil Bao yu sakit. Semua tabib istana sudah diminta untuk mengobatinya. Tapi tak ada yang bisa."
Bao yu adalah putri kecil kerajaan yuk, anak dari anaknya selir sang raja Zeng. Pangeran yuk sangat menyayangi Bao yu. Dia akan sangat sedih, khawatir dan takut kalau Bao yu kenapa-napa.
Pandangan pangeran yuk langsung tertuju ke arah Putri Yin. Dia bisa menyembuhkan segalanya. "tolong putri Bao."
Pangeran yuk menarik putri Yin begitu saja. Mereka keluar ruang makan, ke luar istana. Pangeran yuk menarik pinggang putri Yin, memeluk pinggang putri Yin. Dia mengangkat putri Yin ke atas kuda yang pelayannya tunggangi.
Dalam sekejap pangeran yuk mengalir energi birunya. Kuda itu melesat cepat. Pangeran yuk memeluk erat pinggang putri Yin dan duduk di atas kuda, di depan dia.
Dia tak henti menatap pangeran yuk. Dia baru melihat sisi lain badai Pangeran yuk. Dia juga berhati lembut pada anak-anak.
__ADS_1